Selama ini, publik mengenal Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau yang akrab disapa Buya Hamka sebagai ulama besar, politisi ulung, cendekiawan, sekaligus sastrawan legendaris yang karya-karyanya abadi lintas generasi. Bahkan, mantan Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia, H. Muhammad Jusuf Kalla, pernah mengungkapkan kekagumannya yang luar biasa terhadap kepiawaian Buya Hamka sebagai seorang mubaligh. Menurut Jusuf Kalla, ia pernah mendengarkan ceramah Buya Hamka di Makassar sebanyak 36 kali, dan tidak ada satu pun materi ceramah yang sama persis—sebuah bukti keluasan ilmu yang luar biasa.
Namun, di balik jubah keulamaannya yang karismatik, bagaimana potret beliau ketika berada di rumah sebagai seorang ayah? Pertanyaan inilah yang dikupas tuntas dalam buku semi-biografi berjudul Ayah, yang ditulis langsung oleh putra kelimanya, Irfan Hamka. Buku ini merekam ingatan sang anak sejak usia lima tahun hingga detik-detik akhir wafatnya Buya Hamka pada Juli 1981 dari kacamata seorang anak yang melihat orang tuanya dengan penuh cinta dan kedekatan emosional yang hangat.
Ulasan
Halaman-halaman awal langsung mendobrak persepsi umum dengan menceritakan masa muda Hamka yang tangguh sebagai pejuang gerilya di Sumatera Barat, hingga kisah unik ketika Buya Hamka sengaja mengajak anak-anak lelakinya melaksanakan salat malam untuk berdialog dan menaklukkan jin penunggu rumah bernama Innyak Batungek.
Puncak kehangatan emosional buku ini terpancar jelas melalui interaksi personal sang ulama dengan makhluk kesayangannya: Si Kuning, seekor kucing oranye peliharaan Buya Hamka. Ditemukan dalam kondisi lusuh dan kelaparan saat kecil, kucing oranye tersebut dirawat dengan penuh kasih, diberi susu, hingga tumbuh sehat di sisi Buya. Si Kuning selalu setia mengikuti ke mana pun langkah tuannya, bahkan ikut mendampingi saat salat berjemaah di rumah.
Namun, bagian paling mengiris hati bagi para pencinta kucing (cat lover) terjadi ketika Buya Hamka berpulang ke Rahmatullah. Si Kuning yang kebingungan mendadak termenung lesu, menolak beranjak, dan akhirnya menghilang dari rumah setelah kedapatan duduk berlama-lama menunggui pusara makam tuannya. Ikatan batin yang begitu tulus antara seorang ulama besar dan seekor kucing oranye ini dijamin mampu membuat siapa saja meneteskan air mata.
Sisi humanis lainnya tergambar dari kesetiaan luar biasa Buya Hamka kepada istrinya, Hajah Siti Raham Rasul. Sepeninggal sang istri, rindu yang membuncah kerap dialihkan Hamka dengan bersenandung tembang 'Kaba', mengambil air wudu, melaksanakan salat Taubat, lalu mengaji berjam-jam karena takut rasa cintanya pada sang istri bergeser dan melampaui cintanya kepada Allah SWT.
Jika ada satu babak paling berharga dari rekam jejak Buya Hamka dalam buku ini, itu adalah kelapangan dadanya yang nyaris tanpa batas. Buku ini membeberkan fakta sejarah bagaimana beliau difitnah, diserang, bahkan dipenjara oleh lawan-lawan politiknya. Mulai dari tuduhan plagiarisme karya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck oleh Pramoedya Ananta Toer melalui koran berhaluan kiri, kebencian politik dari Moh. Yamin, hingga penahanannya oleh Presiden Soekarno.
Hebatnya, di akhir hayat ketiga tokoh tersebut, Hamka membalasnya dengan cara elegan. Ia menerima menantu Pramoedya untuk belajar agama, mengantarkan jenazah Moh. Yamin ke pemakaman, dan memimpin shalat jenazah Soekarno. Keteguhan prinsip ini juga terlihat nyata ketika beliau berani mundur dari jabatan Ketua MUI karena menolak tunduk pada tekanan pemerintah terkait urusan fatwa.
Dari segi penceritaan, karya ini merangkum nilai edukatif dan inspiratif yang kuat. Kisah perjalanannya ke Timur Tengah yang diwarnai badai gurun hingga ancaman kecelakaan pesawat juga menambah bumbu ketegangan tersendiri layaknya novel petualangan. Meski demikian, karena ditulis dari kacamata seorang anak, sudut pandang buku ini sangat berpusat pada sosok Hamka. Akibatnya penggalian karakter tokoh-tokoh lain di sekitarnya terasa kurang mendalam. Selain itu ritme cerita dan detail kegiatan sehari-hari disajikan dalam deskriptif yang sangat panjang.
Identitas Buku
- Judul: Ayah: Kisah Buya Hamka
- Penulis: Irfan Hamka
- Penerbit: Penerbit Buku Republika
- Tahun Terbit: Cetakan perdana Mei 2013 (tercatat telah mencapai cetakan ke-19 pada November 2021)
- Kata Pengantar: Taufiq Ismail
Baca Juga
-
Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?
-
Sound Horeg dan Pertanyaan yang Belum Usai: Pantaskah Ia Disebut Budaya?
-
Mengenal Midah, Tokoh Perempuan Pramoedya sebelum Nyai Ontosoroh
-
Setia pada Provider Lama Nyaman, tapi Mengapa XL Kembali Menarik Perhatian?
-
Dari Marie Curie hingga Dinosaurus: Bagaimana Buku Ini Membuka Pintu Dunia Sains untuk Anak-Anak?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
The House with Nobody in It: Rumah Kosong yang Ternyata Tidak Sepi
-
Ulasan The Detective Is Already Dead Vol 1-4: Dialog Menggigit, Eksekusi Plot Bikin Menjerit
Terkini
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!
-
Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia
-
Minyak Sawit Lebih Efisien, Tapi Hutan Bukan Harga yang Boleh Dikorbankan