Hayuning Ratri Hapsari | Chairun Nisa
Kereta Lembu Semar (Dok. pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Begitu melihat logo prestisius Dewan Kesenian Jakarta terpampang di sampulnya, keyakinan langsung muncul bahwa buku ini menjanjikan sesuatu yang istimewa, sebab rekam jejak novel pemenang sayembara tersebut nyaris tidak pernah mengecewakan. Kereta Lembu Semar hadir sebagai sebuah kisah yang meleburkan realisme magis, mitologi pewayangan, dan lintasan sejarah Nusantara ke dalam satu panggung narasi yang megah

Sinopsis
Puluhan ribu arwah dari zaman pembangunan Borobudur hingga yang mati di zaman Suharto berkumpul di dekat rel kereta api, berpesta menghantarkan kepergian Lembu yang akan dijemput kereta. Dalam semalam, Lembu harus menceritakan kisah hidupnya selama 150 tahun terakhir. Dia adalah hantu yang beruntung jasadnya ditemukan dan dikuburkan dengan layak disertai doa-doa; jika tidak, ia akan selamanya terperangkap di alam ini sampai hari akhir tiba.

Lembu lahir dari rahim seorang pelacur persis saat jalur kereta api di Jawa pertama kali dibangun, bersama dengan kerincingan ajaib yang jika ditiup akan memunculkan halilintar serta sosok Punokawan yang silih berganti menemani hidupnya. Lembu dikutuk sekaligus diberkahi tak bisa hidup jauh dari rel kereta api; masa kecilnya dihabiskan dalam suasana keramaian pekerja paksa di siang hari, tanggapan ronggeng, judi, rintihan pelacur di malam hari, hingga orang mati yang saling cangkul. Uniknya, umurnya selalu lebih muda setengahnya: saat usianya 10 tahun, ia seperti anak 5 tahun, begitu terus sampai usianya 100 tahun.

Lembu tak mau kawin sampai Mbok Min, orang yang menyusuinya sejak bayi, meminta dikawininya dan melahirkan 10 anak. Ia mengembara mengikuti kemana perginya Si Kuik, sementara ibunya memanfaatkan kebodohannya untuk membuka praktik dukun karena anaknya bisa melihat Mbah Semar. Lembu melihat Mbah Petruk saat ledakan Merapi terbesar hingga letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda berpuluh-puluh tahun kemudian.

Setiap fase kehidupan, sosok yang menemaninya berbeda. Setelah Mbah Semar pergi, datanglah Mbah Bagong yang cabul dan menjerumuskannya ke hal-hal kotor, di mana anak Lembu ada sekitar 200-an yang tak dikenali satu pun. Saat usianya semakin dewasa, Lembu menjadi bagian dari kehidupan Uma, seorang dewi yang tengah menjalani hukuman; ia harus menyucikan Uma dengan menyetubuhinya setiap hari dan air maninya akan berubah menjadi randu. Tapak cintanya begitu besar pada Uma sampai hidupnya hampir stres saat Uma kembali ke kayangan meninggalkannya, selain itu ibunya juga meninggal.

Di Bandung, Lembu menjadi tukang pijat dan bertemu dengan Koesno yang sempat meminta Uma untuk menjadi istrinya (kelak Koesno menjadi presiden negara ini). Dalam pengembaraannya ke Batavia, ia bertemu dengan mener Belanda yang menjunjung tinggi Politik Etis; ia diajarinya membaca dan menulis, namun mener ini punya kelainan suka memangsa anak-anak kecil dan Lembu yang menyediakannya sampai ia terusir dari Batavia.

Dalam pembangunan kereta yang lebih panjang, Lembu pun ikut dan bertemu dengan tokoh-tokoh seperti Tjokroaminoto (pangeran Jawa tanpa mahkota), Sneevliet yang menyebarkan komunis, hingga berkali-kali bertemu Semaun dan Douwes Dekker. Lembu ikut juga dalam kerja paksa pembangunan kereta api oleh Jepang ke Bayah saat Jepang datang dan membutuhkan batu bara. Siksaan demi siksaan merenggut jiwa raganya setiap hari, sementara Mbah Gareng selalu menasihatinya agar terus bertahan karena umurnya masih jauh.

Hingga hari kemerdekaan tiba, sampai terjadi Agresi Militer Belanda I dan II serta pertempuran 10 hari di Semarang bersama Jenderal Moes (penasihat presiden), Lembu ikut dalam pertempuran ini dan fisiknya masih seperti umur 40 tahun padahal aslinya 80 tahun. Hingga pemberontakan PKI di Madiun, ia ikut terseret karena menjadi pendongeng untuk para buruh kereta api yang melakukan pemogokan kerja hingga melumpuhkan berbagai sektor ekonomi; Lembu semakin bingung dengan manusia yang rumit sekarang, saling serang dan saling bunuh padahal satu bangsa.

Menjelang usia 100 tahun, Lembu pulang ke tempat asalnya. Tak lagi ada yang mengenalinya karena kepala stasiun tidak menyukainya setelah dicap komunis. Dulu Lembu bergabung dengan Soedarno dan disuruh keliling Jawa menjadi alat agitator serta propagandis, tugasnya hanya mendongeng sejarah kereta api dan pengalamannya bersama Tuan Sneevliet dan Semaun dulu. Ia menjadi pengamen di sana dengan menyanyikan kidung-kidung atau menceritakan kisah-kisah yang dipelajarinya dari Mbah Semar, Bagong, dan Gareng.

Hingga hari nahas yang menjadi akhir hidupnya saat pemberontakan PKI 1965 pecah; ia yang tidak bisa diseret kakinya dari rel kereta api karena kutukan, sebagai pendongeng yang dianggap sebagai propaganda (disebut celurit dalam usus terburai), diseret sepanjang rel kereta dan dipaku kepalanya dengan dua paku besar sehingga bertanduk menyerupai lembu. Saat Lembu bangun, kerincingannya sudah hilang; ia tersesat selama berpuluh-puluh tahun di alam ini hingga 50 tahun kemudian orang memakamkannya dengan layak.

Kelebihan dan kekurangan

Di balik gaya bertutur Zaky Yamani yang mengalir dan penuh kritik sosial tajam terhadap kolonialisme, novel ini menyimpan sejumlah kelemahan. Pada paruh kedua, muatan sejarah terasa kaku dan hanya menjadi tempelan karena Lembu diposisikan sebagai pengamat pasif yang sekadar numpang lewat menemui tokoh-tokoh besar seperti Sneevliet hingga figur PKI 1965. Selain itu, novel ini memuat repetisi adegan seksual yang sangat banyak di setiap zaman, mulai dari maraknya adegan saling cangkul antarpetani demi merebutkan pelacur, hingga penggambaran di mana hampir semua wanita yang ditemui Lembu sepanjang hidupnya adalah pelacur—seolah penulis menggeneralisasi bahwa kehidupan pelacuran adalah hal yang lumrah bagi wanita Jawa pada masa itu.

Identitas Buku:

Judul: Kereta Lembu Semar

Penulis: Zaky Zamani

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2025

Isbn: 9786020664637