Lintang Siltya Utami | Tarassa Q.
Hidup-Mati di Burma (Gramedia)
Tarassa Q.

George Orwell lebih sering dikenal melalui Animal Farm dan 1984, tetapi sebelum kedua karya tersebut terbit, ia telah menulis Burmese Days atau Hidup-Mati di Burma. Novel ini merupakan karya awal Orwell yang mengambil latar Burma ketika wilayah tersebut masih berada di bawah kekuasaan Inggris. Melalui kehidupan John Flory, seorang pedagang kayu Inggris yang tinggal di kota kecil bernama Kyauktada, Orwell menghadirkan gambaran getir mengenai kolonialisme, rasisme, ambisi, dan keterasingan.

John Flory digambarkan sebagai pria Inggris yang telah memasuki usia paruh baya dan menjalani kehidupan yang jauh dari kata bahagia. Pekerjaannya sebagai pedagang kayu membuatnya memiliki kehidupan yang relatif mapan, tetapi ia merasa terasing dari komunitas bangsanya sendiri.

Bekas luka di wajahnya menjadi salah satu sumber rasa tidak percaya dirinya. Berbeda dari kebanyakan ekspatriat Inggris di Kyauktada, Flory tidak sepenuhnya menerima keyakinan bahwa bangsa Eropa lebih tinggi daripada penduduk setempat. Sikap kritis tersebut justru membuatnya sulit menemukan tempat dalam lingkungan sosial kolonial.

Salah satu orang yang dekat dengannya adalah Dr. Veraswami, dokter India yang memiliki pandangan sangat positif terhadap Inggris. Persahabatan mereka memperlihatkan hubungan yang kompleks antara penjajah dan masyarakat yang dijajah.

Masalah muncul ketika U Po Kyin, pejabat distrik yang penuh tipu daya, berusaha menjatuhkan sang dokter. Dengan menggunakan fitnah, manipulasi, dan berbagai siasat politik, U Po Kyin ingin menghancurkan nama baik Veraswami sekaligus memperoleh kedudukan lebih tinggi di mata orang-orang Inggris.

Situasi menjadi semakin rumit ketika Elizabeth Lackersteen datang ke Kyauktada. Flory melihat perempuan tersebut sebagai kemungkinan jalan keluar dari kesepian yang selama ini menghantuinya. Sayangnya, harapan itu tidak berjalan seperti yang ia bayangkan. Elizabeth justru memiliki pandangan kolonial yang kuat dan sulit menerima sisi kehidupan Flory yang dekat dengan masyarakat lokal. Perbedaan cara pandang tersebut perlahan memperlihatkan betapa kuatnya prasangka rasial dalam lingkungan mereka.

Menurut saya, membaca Hidup-Mati di Burma membutuhkan kesabaran. Saya sebelumnya lebih mengenal Orwell lewat Animal Farm, sehingga cukup penasaran dengan karya lainnya ini. Namun, buku yang mencapai 408 halaman ini terasa cukup panjang untuk diselesaikan.

Beberapa bagian terasa lambat dan terkadang membosankan, sehingga saya membutuhkan waktu lebih lama untuk menuntaskan ceritanya. Meski demikian, setelah sampai di halaman terakhir, saya merasa novel ini memberikan pemahaman yang kuat mengenai sisi buruk kolonialisme, kerusakan moral, serta kepalsuan hubungan sosial.

Hal yang paling menonjol adalah kritik Orwell terhadap rasisme. Lingkungan Klub Eropa menjadi simbol ruang eksklusif tempat para ekspatriat mempertahankan superioritas berdasarkan warna kulit. Mereka sibuk dengan gosip, prasangka, dan aturan sosial yang memisahkan manusia berdasarkan ras. Orwell menunjukkan bahwa kolonialisme bukan hanya merugikan masyarakat yang dikuasai, tetapi juga mengikis kemanusiaan dan moral orang-orang yang menjalankan sistem tersebut.

U Po Kyin juga menjadi gambaran tentang bagaimana ambisi yang tidak terkendali dapat melahirkan tindakan kejam. Ia rela menggunakan kebohongan dan mencelakai orang lain demi mendapatkan pengakuan. Sementara itu, Flory memperlihatkan persoalan yang berbeda, yaitu keberanian untuk mempertahankan prinsip sering berbenturan dengan kebutuhan untuk diterima oleh kelompoknya sendiri.

Pada akhirnya, Hidup-Mati di Burma bukan sekadar kisah tentang kehidupan Inggris di Burma. Novel ini merupakan potret mengenai bagaimana kekuasaan, ras, status, dan kepentingan pribadi dapat merusak hubungan antarmanusia.

Walaupun proses membacanya cukup melelahkan bagi saya, pesan yang ditinggalkannya terasa kuat. Buku ini mengingatkan bahwa ketika masyarakat membiarkan standar ganda, prasangka, dan ambisi menguasai kehidupan, integritas seseorang dapat dengan mudah dikorbankan.

Identitas Buku

Judul: Hidup-Mati di Burma (Burmese Days)
Penulis: George Orwell
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-602-06-5980-0