Kalau mau menangkap pelaku kejahatan yang pintar, polisi harus lebih pintar daripada penjahatnya. Satu kalimat itu, saya rasa cocok untuk mewakili keseluruhan kisah dalam drama The First Responders musim kedua. Berbeda dari season pertamanya yang lebih fokus pada penyelamatan dan penyelidikan di masa golden time, di season 2 penyelidikan lebih fokus ke pembakaran berantai hingga ancaman bom yang diduga didalangi oleh satu orang yang sama.
Sinopsis The First Responders Season 2
Musim kedua ini dibuka dengan adegan menegangkan ketika Bong Do-jin dan Jin Ho-gae terjebak dalam kobaran api. Beberapa waktu setelah mereka berhasil keluar, api berikutnya muncul di dua tempat lain sekaligus secara bersamaan. Kebakaran yang awalnya dikira muncul dari kecelakaan atau kejahatan biasa, ternyata direncanakan sedemikian rupa oleh satu penjahat kelas internasional yang dipanggil Dex.
Dex merupakan penjahat jenius yang ahli di bidang medis, sains, peretasan, pembuatan bom, hingga manipulasi hukum. Ia mampu mengendalikan banyak kejahatan dari balik layar dan menjadikan para penegak hukum seperti mainannya.
Jin Ho-gae kali ini banyak dibantu oleh Song Seol sebagai paramedis dan beberapa dokter forensik. Penyelidikan juga lebih banyak dilakukan di laboratorium forensik.
Ulasan The First Responders Season 2
Salah satu yang paling saya ingat dari musim kedua ini adalah setiap adegannya yang terasa begitu menegangkan. Di episode pertama saja, kita sudah disuguhkan dengan pemandangan dua tokoh utama yang terjebak di kobaran api. Kemudian di kasus kebakaran berikutnya, ada yang terjebak di bawah reruntuhan, dan ada satu tokoh utama yang meninggal dunia.
Mirisnya lagi, semua kebakaran itu ternyata disengaja dan didalangi oleh satu orang yang sama. Dia adalah penjahat jenius yang dikenal dengan nama Dex. Selain mendalangi aksi pembakaran yang direncanakan, ia juga meletakkan bom di tubuh mayat yang sedang diotopsi dan membuat orang-orang yang ada di ruangan itu terjebak di dalamnya.
Pola kejahatan yang dilakukan Dex seolah didesain dengan sempurna. Ia bahkan bisa memanipulasi orang lain untuk menjadi eksekutornya di lapangan tanpa harus mengotori tangannya sendiri. Artinya, ia bukan hanya ahli di bidang sains dan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk membaca kelemahan manusia dan memanfaatkannya untuk melakukan kejahatan.
Oleh karena itu, untuk melawan pelaku kejahatan kali ini, para penyidik tentu harus menyusun strategi yang lebih cerdas. Sehingga bisa dikatakan selain menyelidiki dengan bantuan teknologi forensik, mereka juga harus melakukan pertarungan otak untuk melawan sosok yang manipulatif di balik layar itu. Inilah perbedaan yang paling menonjol antara musim pertama dan kedua The First Responders.
Jika di musim pertama Ho-gae dan timnya banyak mencari petunjuk di lokasi kejahatan, kali ini dia harus berpikir lebih jauh. Yang perlu dia lakukan bukan lagi sekadar menangkap pelaku, tetapi juga membuat pelaku yang seolah selalu satu langkah lebih maju ini membuat kesalahan. Salah satu strategi yang digunakan Jin Ho-gae adalah dengan pura-pura meninggal dunia untuk memancing Dex keluar dari persembunyian. Selain itu, Ho-gae juga menyerang ego Dex dengan meremehkan desain kejahatannya agar dia melakukan kesalahan karena emosi.
Dengan bantuan teknologi forensik inilah para penyidik berhasil menemukan celah. Karena pada akhirnya, sesempurna apa pun Dex merancang kejahatan, masih ada kemungkinan ia melewatkan hal-hal kecil yang bisa menjadi petunjuk bagi penyidik. Dari sini, The First Responders Season 2 menunjukkan bahwa teknologi dan kecerdasan manusia bukanlah dua hal yang bisa dipisahkan dalam mengungkap kejahatan. Ketika keduanya digunakan dengan tepat, bahkan penjahat yang merasa dirinya selalu selangkah lebih maju tetap bisa dibuat melakukan kesalahan.
Kemudian di musim kedua ini juga ada adegan yang cukup emosional di paruh pertamanya, yaitu ketika petugas pemadam kebakaran, Bong Do-jin harus gugur ketika menjalankan tugasnya. Momen itu cukup berdampak ke tim Ho-gae. Mereka masih diliputi rasa marah dan duka atas kejadian tersebut. Di sisi lain, mereka tetap harus fokus pada investigasi yang sedang berlangsung demi menemukan pelaku di balik semua kejadian tersebut. Kondisi ini membuat perjuangan mereka terasa semakin berat karena mereka tidak hanya harus menghadapi penjahat yang cerdas, tetapi juga kehilangan salah satu rekan yang selama ini berjuang bersama mereka.
Secara keseluruhan, The First Responders Season 2 ini punya cerita yang lebih gelap dan kompleks dibandingkan musim pertamanya. Jika season pertama lebih banyak memperlihatkan kerja sama polisi, pemadam kebakaran, dan paramedis dalam berpacu dengan golden time, musim kedua membawa penonton pada pertarungan strategi antara para penyidik dan seorang dalang kejahatan yang sulit ditebak. Drama ini juga mengingatkan bahwa mengungkap sebuah kejahatan tidak hanya membutuhkan teknologi canggih, tetapi juga ketelitian, keberanian, dan kemampuan berpikir beberapa langkah lebih maju dari pelaku.
Kalau Sobat Yoursay suka dengan drama investigasi, The First Responders adalah salah satu yang wajib masuk watchlist. Tapi saya sarankan nontonnya dari musim pertama dulu biar nggak bingung dan bisa lebih memahami cerita di musim keduanya.
Baca Juga
-
Review Perfect Family: Keluarga Sempurna yang Ternyata Menyimpan Rahasia
-
Ulasan Broken Strings: Ketika Cinta Berubah Menjadi Kendali
-
Ulasan The First Responders Season 1: Kerja Sama Polisi dan Damkar di Tengah Situasi Darurat
-
Beli Barang Murah di Online Shop: Solusi Hemat atau Malah Bikin Boncos?
-
Review Confidence Queen: Ketika Penipuan Menjadi Cara Menghukum Penjahat
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Wedding Impossible: Mengkritisi Norma di Balik Tuntutan Menikah
-
Lawan Patriarki! 5 Novel Populer Ini Berisi tentang Kritik Feminisme
-
Review Di Tanah Lada: Cerita Anak dan Kekerasan dalam Keluarga
-
Novel Pengakuan Pariyem, Identitas Perempuan di Tengah Stratifikasi Sosial
-
Ulasan Novel Tango & Sadimin, Dinamika Hidup Masyarakat Pinggiran Sungai
Terkini
-
Revisi Buku Ajar atau Nasib Guru, Mana Prioritas Pendidikan Nasional?
-
Menolak Lupa di Tanah Adat: Asa Kang Edai dan Astra Merawat Suku Osing
-
Dari Tradisi Jadi Prestasi: Cerita di Balik Bangkitnya Desa Wisata Kemiren
-
Prestasi Merosot, Timnas Indonesia Mulai Kehilangan Kepercayaan Suporter?
-
Hanya 12 Hari! Spider-Man Brand New Day Sukses Raup Rp29,5 Triliun