Hayuning Ratri Hapsari | Chairun Nisa
Pahlawan Tanpa Tanda Tangan (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Salah satu hal yang langsung terasa dari kumpulan cerpen ini adalah latarnya yang tidak terpaku pada satu tempat. Ada cerita yang membawa suasana Sumedang dan Bandung, ada yang kental dengan nuansa Madura, Jakarta, Medan, hingga Lombok. Perbedaan latar tersebut membuat setiap cerita seperti membawa warna daerahnya masing-masing.

Dari sini, membaca cerpen humor ternyata tidak cuma soal mencari bagian yang lucu. Ada kebiasaan, lingkungan, dan kehidupan masyarakat yang ikut terselip di dalamnya. Setidaknya, buku ini mengingatkan bahwa bahan cerita sebenarnya bisa ditemukan dari tempat-tempat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Karena bentuknya kumpulan cerpen, buku ini juga cukup bebas dibaca dari mana saja. Saya sendiri tidak langsung membacanya dari halaman pertama sampai terakhir, melainkan memilih cerita yang judulnya paling menarik perhatian.

Salah satunya adalah “Pahlawan Tanpa Tanda Tangan”, yang bercerita tentang pemilihan seorang pahlawan di Kampung Doyan Singkong. Kandidatnya pun tidak biasa: ada Engkong Mansur, guru ngaji yang mengajar tanpa bayaran dan bahkan tidak bisa membaca huruf Latin, serta Pak Jayus, pengusaha getuk lindri dengan lima belas gerobak.

Dari premisnya saja, cerpen ini sudah menunjukkan bahwa gelar pahlawan dalam cerita tersebut tidak dibicarakan dengan cara yang terlalu serius.

Kelucuan cerpen tersebut semakin terasa ketika Engkong Mansur akhirnya terpilih sebagai pahlawan, tetapi justru muncul persoalan yang sederhana sekaligus kocak: ia tidak bisa membubuhkan tanda tangan. Gelar yang begitu besar ternyata berhadapan dengan sesuatu yang sangat sepele. Dari situlah judul Pahlawan Tanpa Tanda Tangan terasa pas sekaligus menjadi lelucon tersendiri.

Cerpen ini memang tidak menawarkan humor yang rumit. Kelucuannya lebih banyak muncul dari keadaan dan kepolosan tokohnya, sehingga cukup ringan untuk dibaca ketika ingin mencari hiburan tanpa harus mengikuti konflik yang berat.

Cerita lain yang cukup menarik perhatian adalah “17 Agustus”, terutama karena persoalan yang dialami Teh Nunu sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan keluarga. Ia yang sedang hamil terus-menerus ditanya tentang HPL sampai merasa jenuh, sementara kekhawatiran tentang persalinan semakin besar karena nasihat dan anggapan lama dari mertuanya. Berbagai kekhawatiran tersebut kemudian dibawa ke situasi yang justru dibuat jenaka.

Bagian yang paling menggelitik muncul ketika Teh Nunu akhirnya menjalani operasi dan bayinya lahir tepat pada 17 Agustus. Kebetulan itu kemudian menjadi sumber lelucon sekaligus penutup cerita yang cukup ringan.

Namun, tidak semua cerpen di dalam buku ini berhasil memberikan kesan yang sama. “Karena Cinta Dunia Menjadi Milik Mereka Saja” karya Boim Lebon, misalnya, terasa kurang kuat dibandingkan beberapa cerita lainnya. Cerpen ini berkisah tentang seorang laki-laki lajang yang sangat terganggu melihat orang-orang berpacaran dan gemar memberikan komentar sinis kepada mereka.

Masalahnya, sikap tokoh tersebut justru terasa kurang menyenangkan karena beberapa ucapannya cenderung merendahkan orang lain. Ketika konflik kemudian diarahkan pada kehidupan percintaannya sendiri, kelucuan yang diharapkan terasa tidak begitu sampai. Bagi saya, cerpen ini seperti terlalu berusaha mencari bahan untuk ditertawakan, tetapi tidak semuanya berhasil menjadi humor.

Secara keseluruhan, Pahlawan Tanpa Tanda Tangan memang tidak akan cocok untuk semua pembaca. Beberapa cerpennya terasa segar dan menghibur, tetapi ada juga yang konfliknya tipis atau kelucuannya terasa dipaksakan. Gaya bahasanya yang sangat santai dan penuh bahasa gaul mungkin terasa kurang nyaman bagi pembaca yang terbiasa dengan cerpen bernuansa sastra.

Namun, justru di situlah buku ini bisa menjadi bacaan selingan yang menyenangkan. Bagi yang biasanya enggan membaca kumpulan cerpen karena merasa ceritanya terlalu berat atau serius, buku ini boleh dicoba.

Tidak semua ceritanya akan membuat tertawa, tetapi setidaknya ia menawarkan cara yang lebih ringan untuk menikmati cerpen, sambil sesekali menemukan warna kehidupan dari berbagai daerah di Indonesia.