Setelah menuntaskan Thousand Cranes, saya melanjutkan bacaan dengan Beauty and Sadness, novel lain karya Yasunari Kawabata. Rasa penasaran terhadap karya-karya penulis peraih Nobel menjadi alasan utama saya memilih buku ini. Dengan ketebalan 248 halaman, novel ini meninggalkan kesan yang cukup berbeda. Setelah halaman terakhir selesai, yang justru terasa adalah kepedihan dan kehampaan yang tidak nyaman, seolah ada sesuatu yang belum benar-benar selesai meski ceritanya telah berakhir.
Beauty and Sadness atau Utsukushisa to kanashimi to berpusat pada Oki Toshio, seorang pengarang yang telah memasuki usia paruh baya. Pada pergantian tahun, ia pergi ke Kyoto dan berusaha kembali terhubung dengan Otoko Ueno, perempuan yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupannya lebih dari dua dekade sebelumnya. Otoko kini menjalani kehidupan yang jauh lebih tenang sebagai seorang pelukis yang memilih menjauh dari hiruk-pikuk dunia.
Pertemuan tersebut bukan sekadar reuni antara dua orang dari masa lalu. Hubungan mereka dahulu menyisakan luka yang sangat dalam. Ketika masih berusia 16 tahun, Otoko menjalin hubungan dengan Oki. Ia kemudian mengandung, tetapi Oki meninggalkannya. Bayi yang dikandung Otoko tidak berhasil bertahan hidup, sementara dirinya mengalami tekanan mental yang berat. Luka itu semakin rumit karena Oki kemudian menjadikan pengalaman tersebut sebagai bahan novel berjudul A Girl of 16. Bagi Oki, kisah itu mungkin menjadi karya sastra yang berhasil, tetapi bagi Otoko, kehidupan pribadinya seperti diubah menjadi konsumsi publik tanpa mempertimbangkan penderitaan yang pernah dialaminya.
Di sinilah Keiko Sakami memasuki cerita. Ia merupakan murid Otoko yang sangat dekat dengannya dan memahami kepedihan gurunya. Keiko menyimpan kebencian terhadap Oki dan bertekad membuat lelaki itu merasakan penderitaan yang menurutnya pantas diterima. Namun, balas dendam Keiko tidak berhenti pada Oki. Ia sengaja masuk semakin jauh ke dalam kehidupan keluarga tersebut, termasuk menjalin kedekatan dengan Taichiro, putra Oki.
Hubungan-hubungan yang dibangun Keiko kemudian menciptakan situasi semakin berbahaya. Ia bahkan terlibat secara intim dengan Oki dalam sebuah tindakan yang menunjukkan betapa kuat obsesinya terhadap Otoko. Sementara itu, Taichiro mulai menyadari bahwa kedekatan Keiko dengannya mungkin memiliki tujuan tersembunyi. Masa lalu yang selama ini terkubur akhirnya menjadi kekuatan destruktif yang menyeret orang-orang yang sebenarnya tidak terlibat langsung dalam kesalahan masa lalu.
Bagi saya, beberapa bagian novel terasa lambat. Terjemahannya cukup nyaman diikuti, tetapi ada sejumlah adegan yang membuat saya berhenti sejenak karena terasa membosankan, terutama karena saya lebih menyukai novel misteri dan thriller yang bergerak cepat. Meski demikian, Kawabata berhasil membangun atmosfer muram melalui emosi, kesunyian, dan hubungan antartokohnya.
Hal yang paling kuat dari novel ini adalah gambaran tentang bagaimana dendam tidak pernah benar-benar menyembuhkan luka. Keinginan Keiko membalas penderitaan Otoko justru memperluas kehancuran hingga generasi berikutnya. Novel ini juga menunjukkan akibat cinta yang dibangun dengan egoisme dan tanpa tanggung jawab. Kesalahan Oki meninggalkan trauma panjang, sementara diamnya Otoko dan istri Oki memperlihatkan bahwa penderitaan tidak selalu disampaikan melalui kata-kata.
Kawabata juga memperlihatkan sisi gelap seni. Keindahan sebuah karya ternyata dapat lahir dari pengalaman menyakitkan orang lain, sehingga muncul pertanyaan tentang batas antara inspirasi, eksploitasi, dan empati. Pada akhirnya, Beauty and Sadness ditutup dengan suasana gelap dan penuh ketidakpastian ketika Keiko mengajak Taichiro berlayar. Ada kesan mengerikan bahwa perjalanan tersebut mungkin berakhir sebagai tindakan fatal bagi keduanya.
Novel ini bukan bacaan ringan, tetapi menawarkan renungan kuat tentang luka, obsesi, dan konsekuensi pilihan manusia. Beauty and Sadness mengingatkan bahwa rasa sakit yang dibiarkan membusuk dapat berubah menjadi dendam, sementara dendam yang dipelihara hanya akan melahirkan penderitaan baru.
Identitas Buku
Judul: Beauty And Sadness
Penulis: Yasunari Kawabata
Penerbit: Immortal Publishing
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786021142899
Baca Juga
-
Ulasan Black Beauty: Kisah Seekor Kuda tentang Kebaikan dan Kemanusiaan
-
Good Will Hunting: Perjalanan Seorang Jenius Berdamai dengan Dirinya Sendiri
-
Thousand Cranes: Luka Masa Lalu dalam Karya Peraih Nobel Yasunari Kawabata
-
Desil 10 dan Fakta yang Berbeda: Ketika Data Pemerintah Dipertanyakan Warga
-
Review Coin Locker Babies: Dari Pengabaian Masa Kecil hingga Teror Kehancuran
Artikel Terkait
Ulasan
-
Nimrods: A Green Day Comedy, Nekat Road Trip demi Konser Band Punk Idola!
-
Hamsad Rangkuti dan Kisah Perjuangan Melawan Tentara NICA dalam BukuKereta Pagi Jam 5
-
Harga Beda Tipis, Ini iPhone yang Paling Menarik Dibeli di 2026
-
Jika Aku Mereka: Melihat Dunia dari Sudut Pandang Penyandang Disabilitas
-
The Dragon Republic: Dari Pejuang Menjadi Bidak dalam Permainan Kekuasaan
Terkini
-
Perempuan dan Tren Solo Traveling yang Semakin Populer, Apa yang Dicari?
-
Gosho Aoyama Ungkap Draft Bab Terakhir Detective Conan, Benarkah Segera Tamat?
-
Gosho Aoyama Ungkap Ending Manga Detective Conan Sudah Disiapkan
-
POCO F9 Pro dan F9 Ultra Lolos TKDN, Siap Jadi Monster Baru Kelas Flagship di Pasar Indonesia
-
Kebakaran Hutan Kalimantan: Ketika Kemarau Terus Dijadikan Kambing Hitam