Coba bayangkan ada anak perempuan tinggal sendirian di sebuah pulau terpencil selama bertahun-tahun. Masuk akal? Agak sulit memang. Tapi, ini dialami oleh Karana, gadis 12 tahun yang tinggal di pulau terpencil di kawasan California bernama Ghalas-at.
The Island of the Blue Dolphin karya Scott O'Dell mengikuti kisah keberanian dan kemandirian Karana si gadis cilik. Buku yang terbit pada 1960 ini juga sudah mendapat penghargaan Newbery Medal 1961.
Setelah pulaunya ditaklukkan orang kulit putih, orang-orang di pulau tersebut terpaksa pergi. Karena suatu hal, Karana tertinggal bersama adiknya, Ramo, di Ghalas-at. Mau tak mau, mereka harus belajar cara bertahan hidup dengan memanfaatkan sumber daya di sekitar pulau.
Tak terasa, sampailah ia tinggal di Pulau Ghalas-at selama 18 tahun. Penasaran dengan petualangan Karana? Simak ulasannya berikut!
Sinopsis The Island of the Blue Sea
The Island of the Blue Dolphin menceritakan Karana, seorang gadis yang hidup bahagia bersama orang tua dan sekelompok sukunya di Pulau Ghalas-at. Namun, kehidupannya berubah ketika Kapten Orlov dari Rusia bersama pemburu Aleut datang ke Ghalas-at.
Setelah gagal bernegosiasi terkait hasil perburuan berang-berang laut dengan Chowig, kepala suku sekaligus ayah Karana, mereka mencoba menaklukkan orang-orang suku tersebut. Konflik meledak dan menyebabkan banyak orang gugur, termasuk Chowig, ayah Karana.
Karena kejadian itu, Kimki, kepala suku yang baru, memutuskan agar masyarakat pulau Ghalas-at meninggalkan pulau tersebut. Setelah semua bersiap di dalam kapal, ternyata adik Karana, Ramo, masih tertinggal sendirian di belakang. Karana yang menyadarinya segera melompat dan berenang kembali menuju pulau. Ini yang menjadi titik awal petualangan solo Karana di Ghalas-at.
Tak lama setelah itu, Ramo dibunuh oleh kawanan anjing liar. Karana yang murka pun memutuskan untuk pergi meninggalkan pulau hingga ia membakar rumahnya. Namun, usahanya sia-sia, ia tak bisa pergi dari tempat itu.
Karana kini benar-benar sendirian dan harus belajar bertahan hidup di pulau yang pernah menjadi rumahnya. Ia membangun lagi tempat tinggalnya, mencari makanan, membuat senjata, dan perlahan beradaptasi dengan alam.
Ia bahkan berteman dengan anjing liar yang membunuh adiknya yang ia beri nama Rontu. Selama 18 tahun hidup sendirian di dalam pulau, Karana mulai mengerti arti dari keberanian, kesepian, dan kehilangan.
Terisolasi Total dari Manusia, Karana Berteman dengan Satwa
Setelah Ramo dibunuh oleh anjing liar, Karana menaruh dendam dan akan mencari lalu membunuh si anjing itu. Ketika akhirnya ia bisa memanah tubuh pemimpin kawanan anjing itu, ia justru memutuskan untuk merawat dan memberinya nama Rontu. Sepeninggal Ramo, Rontulah yang menemani hari-hari Karana di pulau itu. Hubungan Karana dan Rontu perlahan berkembang menjadi persahabatan.
Saat Rontu memua dan mati, Karana mencari teman baru, yaitu anak Rontu yang ia beri nama Rontu-Aru. Tak hanya itu, Karana juga berteman baik dengan hewan-hewan lain di Ghalas-at, seperti burung dan berang-berang laut. Anjing-anjing liar yang awalnya menyerangnya pun kini lebih jinak kepada Karana.
Kemauan Karana untuk Kembali ke 'Dunia' Manusia
Pada suatu hari, Karana melihat kapal Aleut mendekati pulaunya lagi. Takut dengan kejadian sebelumnya, ia bersembunyi di goa dan membuat rumahnya terlihat tak berpenghuni. Karana melihat pasukan Aleut datang dengan seorang gadis kecil. Meski begitu, Karana tak langsung memercayainya.
Beberapa hari berlalu dan Karana terterik dengan kalung yang dipakai gadis itu. Karana memberanikan diri keluar dari goa dan berkenalan dengan gadis yang bernama Tutok itu. Lambat laun, mereka semakin dekat dan menjalin persahabatan.
Namun, sayangnya pasukan Aleut harus pergi karena perburuannya sudah selesai. Persahabatan mereka pun ikut usai. Dalam hati, ia merasa lega tak ada hal besar yang terjadi lagi. Di sisi lain, ia sedih sahabatnya harus pergi.
Kejadian ini yang menyadarkan Karana bahwa ia harus tetap berinteraksi dengan manusia. Pertemuannya dengan Tutok ini juga mendorongnya untuk setuju pergi dari Ghalas-at saat kapal dari sukunya menjemputnya. Tak lupa, Karana membawa Rontu-Aru ikut bersamanya.
Saya sangat menyukai premis unik novel ini untuk menceritakan kemandirian dan ketangguhan seorang gadis kecil. O'Dell menggambarkan dengan apik dari sudut pandang Karana menyusuri petualangan di Ghalas-at. Perkembangan karakter dibuat bertahap seiring petualangan baru yang Karana hadapi. Tak hanya itu, saya juga menyadari bahwa ternyata seseorang pasti selalu membutuhkan keberadaan orang lain.
Baca Juga
-
Le Petit Prince, Buku Anak yang Diam-Diam 'Menampar' Orang Dewasa
-
Metamorfosis: Menilik Proses Gregor Samsa 'Menghilang' dari Dunia
-
5 Bahan Makanan yang Beracun Jika Tidak Diolah Benar, Termasuk Kimpul?
-
Mengulas Bridge to Terabithia, Novel yang Ajarkan Anak tentang Kehilangan
-
Yakin Sudah Merdeka? 5 Novel Indonesia Ini Ungkap Pembungkaman Suara Rakyat
Artikel Terkait
-
Acorn Was a Little Wild: Dari Jiwa Bebas Menjadi Pohon yang Megah
-
Le Petit Prince, Buku Anak yang Diam-Diam 'Menampar' Orang Dewasa
-
Buku The Baby Who Stayed Awake Forever, Ketika Bayi Menolak Tidur Semalaman
-
Farmhouse: Ketika Sebuah Rumah Menyimpan Ribuan Cerita
-
Stuck: Ketika Masalah Kecil Berubah Menjadi Kekacauan Besar
Ulasan
-
Review The Husband: Pernikahan Retak yang Berubah Jadi Cerita Penuh Misteri
-
Masjid Riyadhus Sholihin Jember, Jejak Dakwah yang Tak Pernah Sepi Peziarah
-
Ulasan Segala Kekasih Tengah Malam: Mencari Arti Diri di Balik Kesunyian
-
Meminang Pujaan Hati dengan Kesiapan yang Mantap di Buku Aku, Kau dan KUA
-
Bad Hair Day Bikin Hidup Ikut Berantakan: Petualangan Andita di Hair-Quake!
Terkini
-
Tayang 2027, Ini Jajaran Pemain Utama Film Akgu: The Secret of the Moon
-
Bias dalam Rekrutmen: Mengapa Status Pernikahan Membatasi Peluang Kerja?
-
Gaji Imut, Pengeluaran Maut: Dilema Anak Muda dengan Pendapatan Pas-pasan
-
Di Balik Buku Presiden Solusi: Bukti Kinerja Nyata atau Propaganda Istana?
-
Spek Vivo V80 Lite 5G Terungkap, Performa Dimensity 7360-Turbo Jadi Andalan