Kemiskinan adalah salah satu cerita yang paling mudah membuat penonton tersentuh. Tampilkan seseorang tidur di jalan, tambahkan anak kecil yang kehilangan ibunya, lalu pertemukan keduanya dalam perjalanan penuh kesulitan. Kita tahu apa yang akan terjadi: hati mulai dilunakkan, rasa iba muncul, dan air mata perlahan dipancing keluar. Persoalannya, ketika kemiskinan, migrasi, dan kesepian dibungkus sebagai fabel yang hangat, apakah kita sedang diajak memahami penderitaan, atau sekadar dibuat tersentuh?
Di sinilah film Under the Stars of Paris yang bisa Sobat Yoursay tonton di KlikFilm, buatan Claus Drexel, begitu menarik. Dirilis pada 2020, film ini merupakan kolaborasi Prancis-Belgia yang diproduksi Maneki Films, Arches Films, dan Gapbusters. Sedangkan skripnya digubah oleh Drexel bersama Olivier Brunhes.
Pemeran utamanya nggak main-main, lho. Catherine Frot sebagai Christine dan Mahamadou Yaffa sebagai Suli, ditemani Jean-Henri Compère, Richna Louvet, Raphaël Thiéry, Dominique Frot, dan Farida Rahouadj.
Ceritanya sendiri mengenai Christine, perempuan tunawisma yang sudah bertahun-tahun tinggal di bawah jembatan Paris. Hidupnya berjalan alakadar. Dia mencari makanan dari distribusi gratis, berpindah tempat, lalu menghadapi malam dengan fasilitas seadanya. Suatu malam musim dingin, Suli, anak laki-laki delapan tahun, muncul di depan tempat perlindungannya dalam keadaan menangis.
Suli adalah anak migran Afrika yang terpisah dari ibunya dan terkendala bahasa. Christine awalnya punya alasan untuk menjauh, tapi akhirnya membantu Suli mencari sang ibu. Mereka menyusuri Paris, masuk ke ruang jauh dari gambaran kota romantis, sambil perlahan membangun hubungan yang membuat keduanya merasakan arti memiliki seseorang.
Persoalan Menarik Film Under the Stars of Paris
Film Under the Stars of Paris jelas ingin bicara tentang kelompok marginal. Latar belakang Drexel memperkuat niat tersebut. Sebelum membuat film ini, dia menggarap dokumenter Au bord du monde tentang tunawisma di Paris. Jadi ketertarikannya pada kehidupan orang yang hidup di jalan memang sudah lama.
Sayangnya, kepedulian sosial film ini lebih kuat sebagai emosi ketimbang kritik. Ini masalah paling penting. Penonton memang mudah ikut sedih ketika melihat Christine dan Suli berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Hubungan mereka dirancang supaya hati kita luluh. Namun, rasa iba belum sama dengan pemahaman. Kita bisa menangis melihat tunawisma tanpa pernah bertanya kenapa seseorang kehilangan rumah. Kita bisa kasihan pada anak migran tanpa memahami persoalan yang membuat keluarga harus berpindah dan tercerai-berai.
Film ini akhirnya lebih nyaman menjadi dongeng kemanusiaan daripada membedah akar kemiskinan secara serius. Pilihan itu sah. Hanya saja, pilihan tersebut membuat persoalan besar yang dibawanya rasanya cuma main aman. Kemiskinan jadi latar, penderitaan memicu hubungan, lalu kasih sayang jadi jalan keluar emosional.
Terlepas dari itu, film Under the Stars of Paris layak ditonton. Film ini bisa jadi renungan mendalam, bukan sekadar tangisan. Setelah selesai menontonnya, coba tanyakan kepada diri sendiri. Apakah aku memahami kehidupan Christine dan Suli, atau aku hanya menikmati kisah sedih mereka selama 86 menit?
Kalau penasaran dengan jawabannya, film Under the Stars of Paris saat ini bisa Sobat Yoursay bisa langsung cek KlikFilm. Film ini cocok buat kamu yang suka drama sosial dengan cerita yang sederhana, emosional, dan fokus pada hubungan antar manusia. Lewat perjalanan Christine dan Suli menyusuri sudut-sudut Paris, kita diajak melihat kehidupan dari sisi yang jarang ditampilkan dalam film-film berlatar kota tersebut. Bukan Paris yang penuh cahaya dan romantisme, melainkan Paris yang dingin, keras, dan masih menyimpan banyak orang yang hidup di pinggirannya.
Jadi, kalau kamu sedang mencari tontonan yang nggak cuma menawarkan drama, film Under the Stars of Paris bisa masuk daftar tontonanmu. Siapkan waktumu dan lihat sendiri bagaimana film ini mengolah cerita tentang kemiskinan, kesepian, migrasi, sekaligus hubungan dua manusia yang sama-sama sedang mencari tempat untuk pulang. Setelah itu, kamu bisa menentukan sendiri apakah film ini berhasil membuat kita memahami persoalan sosial yang dibawanya atau lebih banyak bermain di wilayah emosi. Selamat menonton.
Baca Juga
-
Review Practical Magic: The Book of Magic: Saat Perempuan Menulis Takdirnya
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
Review Last Seen: Thriller yang Menekan Emosi, Bukan Cuma Twist Saja
-
Review Why Did I Get Married Again?: Biasa dan Mudah Ditebak
-
Review Cold Storage: Ketika Ruang Penyimpanan Berubah Jadi Perangkap
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho
-
Bad Memory Eraser: Eksperimen Menghapus Ingatan Demi Mengubah Kehidupan
-
Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam
-
Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang
Terkini
-
Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?
-
Anti Sumpek dan Lengket, Ini 4 Andalan Moisturizer Lotion untuk Kunci Hidrasi Wajah
-
Jangan Asal Ikut-ikutan Resign! Beda Kasta Antara Privilege Finansial dan Perjudian Ekonomi
-
5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah