Film tentang hubungan orang tua dan anak seringkali cuma berisi konflik keluarga, pertengkaran, penyesalan, lalu tangisan yang datang menjelang akhir. Namun. Film Songs of Earth tampak mengambil arah yang jauh lebih tenang. Film asal Norwegia ini mengajak seorang anak berjalan bersama ayahnya selama setahun, lalu membiarkan percakapan, kenangan, alam, dan waktu perlahan membuka hubungan mereka.
Disutradarai sekaligus ditulis oleh Margreth Olin, ‘Songs of Earth’ atau judul aslinya ‘Fedrelandet’ merupakan dokumenter produksi Speranza Film AS yang dirilis pada 2023, yang sudah bisa Sobat Yoursay tonton di KlikFilm.
Margreth Olin dan Lena Faye-Lund Sandvik bertindak sebagai produser, sementara Wim Wenders dan Liv Ullmann terlibat sebagai executive producer. Sinematografinya dikerjakan Lars Erlend Tubaas Øymo, penyuntingannya oleh Michal Leszczylowski, musik digarap Rebekka Karijord, dan desain suaranya ditangani Tormod Ringnes. Film berdurasi sekitar 90 menit ini menampilkan Jørgen Mykløen dan Magnhild Mykløen sebagai diri mereka sendiri.
Ceritanya tentu saja terkait perjalanan Margreth bersama ayahnya, Jørgen, di Oldedalen, wilayah Vestland tempat sang ayah tumbuh dan tempat keluarga mereka hidup berdampingan dengan alam selama beberapa generasi. Selama satu tahun, keduanya berjalan melewati lembah, pegunungan, air terjun, salju, dan lanskap yang berubah mengikuti musim. Jørgen bukan sekadar menunjukkan pemandangan kepada putrinya. Dia membuka kembali ingatan tentang masa kecil, keluarga, kehidupan, kehilangan, bencana, cinta, usia, sampai kematian.
Dari ringkasan kisahnya terasa banget ada momen hening yang menyayat kalbu, deh! Dan Sobat Yoursay seharusnya coba tonton film ini, setidaknya sekali seumur hidup.
Bukan Sekadar Jalan-Jalan, Margreth Sedang Mengenal Ayahnya
Itulah inti emosional film ini. Sama halnya yang dialami Margareth, ketika kita masih kecil, ayah seringkali cuma kita kenal sebagai ayah semata. Sosok yang bekerja, pulang, memberi aturan, mengantar sekolah, marah ketika kita berbuat salah, atau duduk diam di rumah tanpa banyak menjelaskan isi kepalanya.
Kita jarang berpikir, sebelum menjadi orang tua, mereka juga pernah menjadi anak. Pernah punya ketakutan sendiri, jatuh cinta, kehilangan seseorang, membuat keputusan yang mungkin kita sendiri belum tentu sanggup ambil, bahkan memiliki masa lalu yang jauh lebih panjang daripada bagian kehidupan yang kita saksikan sebagai anak.
Film Songs of Earth menarik karena Margreth seolah-olah sedang mengejar bagian hidup Jørgen yang selama ini luput dari pengamatannya. Dia nggak mewawancarai ayahnya seperti seorang jurnalis yang sedang mencari informasi. Dia berjalan bersamanya.
Perbedaan ini penting banget, lho!
Ketika Jørgen mengajak Margreth melewati tempat-tempat yang sudah dikenalnya sejak kecil, setiap lanskap berubah menjadi pintu menuju ingatan. Gunung bukan cuma gunung. Lembah bukan cuma lembah. Tempat-tempat tersebut menyimpan potongan kehidupan seorang lelaki yang perlahan semakin tua.
Di situlah perjalanan geografis berubah menjadi perjalanan emosional. Margreth bergerak melewati landscape yang pernah membentuk ayahnya, lalu mencoba memahami manusia yang berdiri di hadapannya sekarang.
Menurutku, film ini juga menyentuh karena Margreth sadar bahwa kesempatan untuk mengenal orang tua punya batas waktu. Jørgen semakin tua. Musim terus berganti. Tempat yang dia kenal sejak kecil juga mengalami perubahan. Bahkan alam yang terlihat begitu kokoh di hadapan manusia ternyata punya siklusnya sendiri.
Karena itu, ketika Jørgen bercerita tentang hidupnya, percakapan mereka terasa seperti sesuatu yang sedang dikejar waktu. Bukan dalam bentuk kejar-kejaran yang menegangkan, melainkan dalam kesadaran bahwa setiap percakapan bersama orang tua bisa menjadi bagian dari kenangan yang suatu hari hanya tersisa di kepala.
Mungkin itulah alasan diriku merasa Film Songs of Earth layak Sobat Yoursay tonton di KlikFilm. Selamat menonton.
Baca Juga
-
Review Laut Bercerita: Ketika Luka Sejarah Menolak Tenggelam dalam Ingatan
-
Review Lingsir Wengi: Tembang Jawa, Mitos, dan Teror di Motel Tua Malioboro
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Review Film Siti Si Vampir: Satir Kelas Sosial yang Kurang Menggigit?
-
Review Paralyzed by Hope: The Maria Bamford Story, Tawa dan Luka Mental
Artikel Terkait
-
Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja
-
5 Film Baru Sambut Akhir Pekan Ini, Ada Laut Bercerita hingga The Intern
-
Terjebak Lingkaran Setan di I Saw the Devil, Siapa yang Sebenarnya Jahat?
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
-
Laut Bercerita dan Ingatan yang Belum Selesai
Ulasan
-
Review Film All of You: Ketika Sains Ikut Campur dalam Urusan Cinta
-
Review Serial Lupin Part 3: Sebuah Aksi Menawan Assane Diop yang Penuh Trik
-
Review The Best Thing: Kisah Romantis Dokter TCM dan Manajer Hotel
-
Delapan Belas Cerita, Delapan Belas Cara Mempermainkan Pikiran Pembaca
-
Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah
Terkini
-
SMK Nusantara Pertahankan Gelar, MAN 1 Kabupaten Sukabumi Raih Juara Putri AXIS Nation Cup 2026
-
Gagal Dapatkan Dean Zandbergen, PSSI Incar Striker Keturunan Islandia!
-
Sukses Besar, Serial Carrie Resmi Lanjut Musim 2 Gandeng Mike Flanagan
-
Sinopsis Wild and Radiant, Dracin Romantis Fan Shi Ran dan Qin Xiao Xuan
-
Tantangan Finansial Gen Z: Gaji Buat Hidup, Tagihan, Healing, dan Tabungan