Ada fase dalam hidup ketika kita merasa ingin mengulang semuanya dari awal. Memperbaiki keputusan yang salah, meninggalkan hubungan yang tidak sehat, berdamai dengan masa lalu, atau sekadar menjadi versi diri yang lebih baik. Masalahnya, berubah memang gampang diucapkan, tetapi tidak selalu mudah dilakukan. Gagasan itulah yang terasa kuat dalam Be The New You: Berubahlah Selagi Ada Kesempatan karya Wirda Mansur. Buku yang diterbitkan KataDepan pada 2018 ini menjadi ruang bagi Wirda untuk berbagi pengalaman, keresahan, serta pelajaran kehidupan yang ia temui ketika tumbuh dari remaja menuju dewasa.
Menariknya, buku ini tidak terasa seperti ceramah panjang. Wirda tidak memosisikan dirinya sebagai orang yang sudah mengetahui semua jawaban kehidupan. Ia justru seperti teman yang sedang bercerita: pernah salah, pernah kecewa, pernah belajar, lalu mencoba bangkit lagi.
Isi Buku
Salah satu tema yang cukup menonjol adalah soal cinta. Namun, pembahasan cinta dalam buku ini tidak berhenti pada kisah romantis atau bagaimana mendapatkan seseorang yang disukai.
Wirda mengajak pembaca melihat kembali arti cinta dan hubungan. Ada kalanya seseorang begitu sibuk mempertahankan hubungan sampai lupa menjaga hubungannya dengan Tuhan.
Kalimat yang menjadi salah satu pesan kuat buku ini adalah bahwa seseorang boleh kehilangan orang yang dicintainya, tetapi jangan sampai kehilangan “Dia”—Allah.
Pesan tersebut terasa relevan, terutama bagi pembaca muda yang sedang berada dalam fase mengenal cinta dan hubungan. Tidak semua hubungan harus dipertahankan mati-matian. Ada hubungan yang justru perlu dilepaskan ketika keberadaannya membuat seseorang semakin jauh dari dirinya sendiri maupun dari nilai yang diyakininya.
Karena itu, Be The New You seperti mengingatkan bahwa move on bukan sekadar menghapus nama seseorang dari pikiran. Move on juga berarti mengembalikan perhatian kepada diri sendiri dan masa depan.
Kelebihan dan Kekurangan
Bagian yang membuat buku ini lebih berwarna adalah ketika Wirda menghubungkan persoalan kehidupan dengan kisah para nabi. Ada kisah Nabi Zakaria tentang semangat untuk tidak menyerah, Nabi Ayyub mengenai kesabaran dan keyakinan, Nabi Ibrahim ketika menghadapi kehilangan, hingga Nabi Yunus ketika menghadapi teguran dari Allah.
Kisah Nabi Yunus, misalnya, menjadi refleksi tentang manusia yang terkadang mengambil keputusan terburu-buru. Setelah berada dalam perut ikan, Nabi Yunus terus memanjatkan doa dan mengakui kesalahannya. Dari sini, pembaca diajak memahami bahwa teguran tidak selalu berarti kebencian. Kadang-kadang, teguran justru menjadi cara untuk membawa seseorang kembali ke jalan yang benar. Ketika hidup terasa berantakan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semuanya sudah berakhir.
Dari sisi penyajian, Be The New You juga terasa nyaman. Layout-nya dibuat menarik, warna dan visualnya memberi kesan ringan, sementara kutipan-kutipan pendek diselipkan di berbagai bagian. Foto Wirda yang muncul di beberapa bagian buku turut membuatnya terasa personal.
Pesan Moral
Buku ini juga cukup kuat dalam mengajak pembaca berdamai dengan masa lalu. Kita sering terjebak dalam pertanyaan “seandainya”. Seandainya hubungan itu tidak berakhir. Seandainya keputusan dulu berbeda. Seandainya orang tersebut masih berada di sisi kita.
Padahal, terlalu lama tinggal di masa lalu hanya membuat langkah ke depan semakin berat. Wirda mengajak pembaca untuk menjadikan masa lalu sebagai pengalaman, bukan tempat tinggal. Selama seseorang masih diberi kesempatan hidup, berarti masih ada kesempatan untuk berubah.
Dan perubahan membutuhkan kemauan. Bukan hanya keinginan yang muncul ketika sedang galau, tetapi kemauan yang dipelihara ketika semangat mulai hilang.
Sebab hidup memang tidak bisa di-restart seperti aplikasi. Tetapi selama masih ada kesempatan, kita selalu bisa memilih untuk memperbaiki arah.
Identitas Buku
- Judul: Be The New You
- Penulis: Wirda Mansur
- Penerbit: KataDepan
- Tahun Terbit: 2018
- Tebal: 282 halaman
- ISBN: 978-602-5713-28-6
Baca Juga
-
Potret Diskriminasi Perempuan Korea Selatan di Novel Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982
-
MBG untuk Cegah Stunting: Dapur Menumpuk di Jawa, Papua Tetap Tertinggal?
-
MBG dan Argumen yang Terus Bergeser: Sebenarnya Apa yang Mau Diselesaikan?
-
Dari Koperasi Petani hingga Klinik, Ke Mana Arah Kopdes Merah Putih?
-
Indonesia Negara Maritim, tetapi Makan Lobster Harus Menunggu Kaya
Artikel Terkait
Ulasan
-
Potret Diskriminasi Perempuan Korea Selatan di Novel Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982
-
Ulasan Stock Struck: Saat Pemula Nekat Main Saham dan Berujung Kena Mental
-
Review The Longest Wait: Melihat Perjuangan Timnas Garuda dari Balik Layar
-
Novel The Newcomer, saat Kebohongan Kecil Menyembunyikan Sebuah Kebenaran
-
The Boy and the Heron: Dunia Tak Harus Sempurna untuk Tetap Layak Ditinggali
Terkini
-
Aksi Boikot Raffi Ahmad: Menyoal Efektivitas Cancel Culture di Media Sosial
-
Awas Bahaya Logistik Gratisan: Kasus Teh Berbusa Demo HI Jadi Pelajaran
-
Mengupas Status Anime Boruto: Cerita Canon atau Sekadar Garapan Ikemoto?
-
Mati Suri Demokrasi Akar Rumput: Potret Pilu Suara Rakyat yang Dibeli Murah
-
Berkaca dari Isu Raffi Ahmad, Kenapa Kita Susah Menegur Orang Baik?