Novel Almond karya Sohn Won-pyung menghadirkan kisah coming of age yang tidak biasa melalui Yunjae, seorang remaja yang memiliki kondisi neurologis bernama alexithymia. Kondisi tersebut membuatnya kesulitan mengenali sekaligus menunjukkan perasaan yang umumnya muncul secara spontan dalam diri manusia. Rasa takut, marah, sedih, bahkan empati tidak hadir dengan cara yang sama seperti pada kebanyakan orang.
Keadaan Yunjae berkaitan dengan ukuran amigdala, bagian otak yang berperan dalam mengolah respons emosional. Pada dirinya, bagian tersebut berukuran lebih kecil, menyerupai bentuk kacang almond. Karena itulah, makanan tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Ibu dan neneknya berusaha membekali Yunjae dengan berbagai pengetahuan sederhana agar ia dapat menjalani kehidupan sosial dengan lebih aman. Mereka mengajarinya membaca situasi, misalnya mengetahui kapan perlu tersenyum, mengucapkan terima kasih, atau menunjukkan reaksi tertentu. Sang ibu bahkan rutin memberikan kacang almond kepadanya sebagai bentuk perhatian terhadap perkembangan otaknya.
Kehidupan Yunjae berubah drastis ketika sebuah peristiwa mengerikan terjadi tepat pada hari ulang tahunnya. Di sebuah restoran, seorang pria melakukan kekerasan secara tiba-tiba terhadap orang-orang di sekitarnya. Tragedi tersebut merenggut nyawa nenek Yunjae dan membuat ibunya mengalami koma. Dalam waktu singkat, Yunjae kehilangan dua sosok terpenting dalam hidupnya. Ia kemudian harus menjalani hari-hari sendirian dengan pengawasan Profesor Shim.
Kesepian itu mempertemukannya dengan Gon, remaja seusianya yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang. Gon dikenal sebagai anak bermasalah yang mudah marah dan kerap mendapat julukan buruk dari lingkungan sekitarnya. Namun, di balik sikap agresifnya, tersimpan trauma serta luka emosional yang mendalam. Menariknya, Yunjae tidak gentar menghadapi Gon. Bukan karena ia memiliki keberanian luar biasa, melainkan karena rasa takut memang tidak bekerja secara normal dalam dirinya.
Selain Gon, hadir pula Dora, seorang gadis ceria yang memberikan pengalaman baru bagi Yunjae. Pertemanan mereka perlahan memperluas cara pandangnya terhadap kehidupan. Interaksi dengan kedua orang tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Yunjae memahami perasaan dan hubungan antarmanusia.
Dengan ketebalan 232 halaman, Almond terasa seperti bacaan yang dapat diselesaikan dengan cepat. Saya sendiri terdorong untuk terus membaca karena sejak awal penasaran dengan bagaimana seseorang yang mengalami keterbatasan dalam merasakan emosi dapat menjalani kehidupan dan berhubungan dengan orang lain. Premisnya terasa segar karena novel ini tidak hanya bercerita tentang seorang remaja, tetapi juga mengajak pembaca memikirkan kembali hakikat emosi dan empati.
Salah satu hal paling menarik adalah gagasan bahwa empati dapat menjadi kemampuan yang dipelajari. Yunjae harus memahami berbagai respons sosial melalui pengajaran dan pengamatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kepedulian kepada orang lain tidak selalu muncul sebagai naluri, tetapi dapat dibentuk melalui kebiasaan memahami dan mempertimbangkan perasaan sesama.
Hubungan Yunjae dan Gon juga mengajarkan agar seseorang tidak buru-buru menentukan karakter orang berdasarkan penampilan atau perilakunya. Gon yang tampak keras ternyata menyimpan kerentanan, sedangkan ketenangan Yunjae bukan berarti ia lebih berani daripada orang lain. Keduanya sama-sama memperlihatkan bahwa apa yang terlihat dari luar belum tentu menggambarkan keadaan batin seseorang.
Kasih sayang ibu dan nenek Yunjae menjadi lapisan emosional lain yang kuat. Mereka terus mendampinginya dan berusaha mengajarkan cara menghadapi dunia yang mungkin terasa asing baginya. Dukungan tersebut memperlihatkan bahwa keluarga dapat menjadi tempat pertama seseorang belajar bertahan.
Novel ini juga menyampaikan bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut. Justru keberanian muncul ketika seseorang mampu tetap bergerak dan memilih tindakan yang benar meskipun rasa takut hadir. Pada akhirnya, perkembangan Yunjae membuktikan bahwa manusia membutuhkan manusia lain untuk bertumbuh. Gon dan Dora menjadi bagian dari proses yang perlahan membuka ruang emosional dalam dirinya.
Almond pada akhirnya bukan sekadar cerita mengenai seorang anak dengan kondisi unik, melainkan perjalanan tentang bagaimana hubungan, luka, kasih sayang, dan pengalaman dapat membentuk seseorang. Novel ini mengingatkan bahwa memahami manusia membutuhkan lebih dari sekadar melihat perilakunya, tapi kita juga perlu berusaha memahami cerita yang berada di baliknya.
Identitas Buku
Judul: Almond
Penulis: Sohn Won - Pyung
Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786020519807
Baca Juga
-
Ulasan Shine: Ketika Gemerlap K-Pop Menyimpan Perjuangan
-
Seni Menjaga Batasan Privasi dengan Tetangga Agar Kebaikan Tak Jadi Tuntutan
-
Ulasan Hidup-Mati di Burma: Potret Kelam Kolonialisme dan Kepalsuan Manusia
-
Ulasan Buku Rectoverso: Ketika Cerita dan Musik Menyuarakan Cinta
-
Review Buku Nadira: Perjalanan Panjang Berdamai dengan Luka
Artikel Terkait
Ulasan
-
Warga Medan Merapat! 3 Spot Healing untuk Sehari, Bisa PP Naik Motor!
-
Inner Child, Trauma, dan Topeng Superhero: Pelajaran dari Buku dr. Andreas
-
Review Time To Hunt: Keinginan untuk Kabur yang Membawa Kita Pada Perburuan
-
Jangan Takut Laba-Laba Sebelum Membaca "Weaver and the Web"
-
Badland Hunters: Ketika Dunia Hancur, Apa yang Membuat Kita Tetap Bertahan?
Terkini
-
Red Flag, Green Flag, dan Beige Flag: Bikin Sadar Diri atau Malah Overthinking?
-
Mau Rakit PC Ryzen 9000? Ini 5 Motherboard yang Wajib Dilirik
-
Logo Sudah Dirilis, Narnia: The Magician's Nephew akan Tayang Februari 2027
-
Politik Nggak Ngaruh ke Hidup? Tunggu Sampai Bencana Datang ke Depan Rumah
-
Praktis! 5 Tone Up Body Spray Ini Bikin Kulit Cerah dan Glowing Seketika