CERPEN: Elvis Presley di Bak Sampah

Lintang Siltya Utami | Rie Kusuma
CERPEN: Elvis Presley di Bak Sampah
Ilustrasi prangko bergambar Elvis Presley. [Gemini AI/Nano Banana]

"Gendiiisss... lihat deh, aku dapat apa!" Yana berteriak nyaring sambil mengacungkan sepasang sepatu yang telah pudar warnanya ke udara. "Kayaknya masih bagus, cuma kotor aja," katanya lagi.

Gendis tersenyum. Ia mengamati gerak-gerik Yana yang mulai mencoba sepasang sepatu yang baru ditemukannya dalam bak sampah salah satu rumah di kompleks perumahan elite. Ia sendiri sudah memisahkan dua buah amplop surat dari dalam tas rusak di bak sampah yang sama.

"Pas banget!" Yana berseru gembira. Ia bergaya-gaya sebentar di depan Gendis membuat kawannya itu terkikik, sebelum akhirnya mencopot kembali sepatu tersebut. Yana menimang-nimang sepatu berwarna biru lusuh itu, memeriksa setiap bagian, mencari kalau-kalau ada lubang yang luput dari perhatiannya.

"Masih bagus begini kok, dibuang ya?" Yana bergumam, lebih ditujukan untuk dirinya sendiri. Ia lalu memasukkan sepasang sepatu tersebut ke dalam karung, berjejalan dengan sekumpulan botol dan gelas plastik, ember cat bekas, serta beberapa lembar kertas koran.

"Kamu dapat apa? Ketemu yang kamu cari?" Yana menunjuk dengan dagunya pada benda-benda di dekapan Gendis. Ditanya demikian, Gendis mulai memeriksa amplop di pelukannya satu per satu.

"Hmm... enggak ada yang aku cari," geleng Gendis kecewa, "tapi ini juga bagus. Prangko dari India. Gambarnya Bapak Mahatma Gandhi, tokoh perdamaian dunia."

Yana mengangguk-angguk walau tak sepenuhnya paham, siapa orang yang disebutkan kawannya barusan.

"Cari lagi saja, yuuk... kita kan belum lihat tempat sampah yang lain."

Yana bangkit. Gadis kecil bertopi pet itu memanggul karungnya di pundak kanan, lantas berjalan menuju bak sampah berikutnya. Gendis menjajari langkah Yana.

Matahari siang sangat menyengat, tapi udara yang berembus cukup sejuk dikarenakan banyaknya pohon-pohon pinus ditanam berjajar di kiri dan kanan jalan. Kedua gadis kecil itu berjalan perlahan-lahan di sepanjang trotoar ber-paving block. Sesekali mereka menyeka keringat yang berleleran di pelipis dan leher mereka.

"Dis ...," panggil Yana ragu-ragu, "ayahmu masih enggak suka ya, kalau kamu sering ikut aku mulung?" Yana tertunduk, menekuri jari-jarinya yang telanjang tanpa alas kaki.

"Sebenarnya kalau aku cuma nemenin kamu sih, enggak apa-apa. Kemarin ayah marah, kan, karena aku ikut-ikutan mulung."

"Memangnya mulung sampah itu jelek, ya?"

"Bukan begitu. Kata ayah, kalau aku mau belajar cari uang sendiri, mau jual barang bekas juga seperti kamu, nanti ayah akan cariin dus-dus bekas obat dari rumah sakit tempatnya kerja. Aku tinggal bawa ke pengepul, enggak usah cari sendiri."

Yana berhenti melangkah, menelengkan kepalanya ke arah Gendis dengan raut wajah bingung. “Kok, aneh? Kalau memang boleh, kenapa ayah kamu yang nyariin barang bekasnya, bukan kamu sendiri?”

Gendis mengedikkan bahu. Tempo hari ia juga ingin menanyakan hal yang sama pada sang ayah, tapi ia memilih diam. Gendis khawatir, kalau ia banyak bertanya akan dianggap menentang kata-kata sang ayah. Jangan-jangan, ia malah akan dilarang mencari prangko juga. Padahal bagi dirinya, berburu prangko di tempat sampah itu sangat mengasyikkan.

Yana membuka tutup bak sampah di rumah selanjutnya. Segerombolan lalat berhamburan ke luar, tapi masih banyak yang tetap tinggal, tidak terganggu oleh kehadiran dua orang gadis kecil yang mulai mengorek-ngorek isi bak sampah tersebut.

"Ayahmu tahu, kalau kamu suka cari prangko di tempat sampah?" tanya Yana, sambil tangannya dengan cekatan bergerilya memeriksa sampah-sampah yang sebagian besar adalah limbah dapur. Ia memilah dan memilih benda-benda yang sekiranya laku dijual ke pengepul.

"Tahu sih, tapi ayah bilang cari hobi lain saja yang lebih gampang, jangan filateli. Soalnya zaman sekarang, kan, orang sudah jarang surat-suratan. Seingatku juga, cuma di bak sampah rumah pagar biru tadi, sama yang di sini, kadang-kadang masih ada amplop surat dibuang. Alamat pengirimnya juga selalu sama, India dan Amerika.”

"Kalau ayah kamu hobinya apa?" tanya Yana lagi.

"Ayah koleksi kaset sama piringan hitam."

"Ya sama aja, dong. Itu kan, susah juga carinya."

Yana tahu apa itu piringan hitam. Ia pernah melihat gambarnya di halaman suatu majalah, lengkap dengan alat pemutarnya yang disebut gramofon. Di majalah tersebut dikatakan bahwa keduanya adalah barang antik. Yana tahu antik itu berarti kuno. Kuno itu sama halnya dengan lama dan benda-benda lama berarti sudah jarang ada. Susah mencarinya.

"Iya, tapi masih ada yang jual. Ayah suka cari di Taman Puring sama di Jalan Surabaya."

Yana berhenti sebentar dari kegiatannya. Ia membantu Gendis mengangkat kardus mie instan dari pojok bak, penuh berisi buku, map-map tua, dan lembar-lembar kertas. Yana tahu, Gendis cuma akan mencari amplop surat berprangko. Barang-barang lainnya dalam dus tersebut tak akan menarik minat Gendis, tapi itu berarti rupiah bagi Yana.

"Kok, kamu enggak minta dibeliin prangko aja? Memangnya enggak ada yang jual?"

"Ada..., tapi mahal. Kalau koleksi langka harganya bisa jutaan, bahkan milyaran. Yang murah ada juga sih, tapi lebih enak cari begini daripada beli. Kan, bisa sekalian nemenin kamu." Gendis tersenyum menatap sahabatnya. Kedua lesung pipinya menyembul malu-malu. Yana pun ikut tersenyum.

Beberapa lama kemudian keduanya tak lagi bersuara. Gendis sibuk menyortir. Ia menyerahkan isi dus yang sudah diperiksanya kepada Yana, yang segera memasukkan semuanya ke dalam karung.

"Prangko yang kamu cari memang susah ya, dapatnya?" tanya Yana, memecah keheningan di antara dirinya dan Gendis. "Siapa deh, nama penyanyi Amerika itu? Aku lupa."

"Elvis Presley," jawab Gendis, sambil menarik satu buah amplop di antara tumpukan buku bekas. "Enggak susah sebenarnya, cuma itu tadi, sudah jarang orang berkirim surat," lanjutnya lagi lalu terdiam, mencermati gambar prangko di atas amplop tersebut. Dadanya bergemuruh.

"Terus, kenapa kamu masih nyari?"

"Soalnya ayah belum punya piringan hitam Elvis Presley. Siapa tahu kalau aku kasih prangko bergambar penyanyi idolanya itu, hatinya jadi senang."

Gendis mengangkat amplop surat yang baru ditemukannya, dengan posisi prangko menghadap sejajar dengan mata Yana. Tampaklah oleh Yana gambar seorang lelaki berjas cokelat, berambut model jambul, sedang memegang mikrofon dengan latar prangko berwarna merah muda.

“Aku dapat…” desis Gendis dengan raut wajah bahagia.[]

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak