Langit malam itu tampak lebih gelap dari biasanya, seolah menyimpan sesuatu yang tak terucapkan. Lampu-lampu jalan di sekitar kampus memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang masih hangat setelah siang yang terik. Angin berembus pelan, membawa aroma gorengan dari warung kaki lima dan samar-samar wangi minyak kayu putih dari para jamaah yang berjalan menuju masjid.
Hari ini bertepatan dengan malam ke-23 Ramadhan. Arga menatap layar ponselnya yang redup. Jam menunjukkan pukul 21.00. Ia memasukkan ponsel itu ke saku celana, lalu menarik napas panjang. Di tangannya ada tas kecil berisi sajadah tipis dan Al-Qur’an lusuh yang sampulnya sudah mengelupas di sudut-sudutnya. Langkahnya pelan menyusuri trotoar sepulang melaksanakan salat tarawih dan tadarus di Masjid Al-Hikmah, masjid kecil yang terletak di ujung gang dekat kosnya. Dari kejauhan, suara lantunan ayat suci masih terdengar lembut melalui pengeras suara.
Arga mempercepat langkah. Setelah ini, ia harus kembali mengerjakan skripsinya yang masih stuck di tengah jalan. Ia adalah mahasiswa semester akhir di sebuah universitas negeri di kota itu. Tak seperti mahasiswa lainnya yang menghabiskan waktu akhir Ramadhan hingga hari raya di rumah orangtua, Arga memilih tetap tinggal di perantauan demi menyelesaikan tugas akhir. Tiga setengah tahun lalu, ia datang di kota ini dengan koper sederhana dan harapan besar. Namun malam itu, harapan terasa seperti lilin yang hampir padam.
Di saku belakang celananya, dompetnya hanya berisi selembar uang lima ribu rupiah dan kartu mahasiswa. Beasiswa belum cair. Kiriman orang tua tak bisa diharapkan. Ayahnya baru saja sakit, dan ibunya baru mulai menerima lebih banyak jahitan untuk menutup kebutuhan rumah.
Malam berikutnya seperti biasa, Arga pergi ke Masjid Al-Hikmah yang sudah tampak lebih ramai dari biasanya. Karpet hijau tua sudah dipenuhi jamaah yang duduk bersila. Sebagian membaca Al-Qur’an, sebagian lagi berzikir pelan. Lampu-lampu gantung memancarkan cahaya putih lembut yang membuat suasana terasa hangat.
Arga mengambil wudu di tempat yang sempit di sisi masjid. Air yang dingin menyentuh wajahnya, membuatnya sedikit tersadar dari pikiran yang kusut. Ia masuk dan mencari tempat di barisan belakang.
Salat tarawih dan witir malam itu terasa lebih panjang. Imam membaca ayat-ayat tentang kejujuran dan balasan bagi orang-orang yang sabar. Suara imam bergetar lembut, mengalun di antara dinding masjid.
Arga menunduk lebih dalam saat sujud terakhir. Doanya panjang dan lirih. “Ya Allah, berikanlah kecukupan rezekiku. Jangan biarkan aku mengecewakan kedua orangtuaku.”
Setelah salat, sebagian jamaah pulang. Namun beberapa tetap tinggal untuk i’tikaf. Arga termasuk di antaranya. Ia membuka mushafnya dan mulai membaca pelan. Waktu berjalan tanpa terasa. Jam menunjukkan hampir pukul sepuluh malam ketika Arga memutuskan keluar sebentar untuk mengambil udara segar.
Halaman masjid sepi. Lampu taman menyinari jalan setapak yang terbuat dari paving. Di sudut dekat pagar, sesuatu tergeletak di tanah. Arga melangkah mendekat. Sebuah dompet kulit cokelat. Ia menunduk dan memungutnya. Permukaannya masih bersih, tidak tampak lama terjatuh. Ia membuka perlahan. Jantungnya berdegup lebih cepat. Di dalamnya terselip beberapa lembar uang pecahan seratus ribu rupiah. Tebal. Sangat tebal. Di bagian depan ada kartu identitas atas nama seseorang yang tidak ia kenal.
Arga menelan ludah. Tangannya sedikit gemetar. Angin malam berembus pelan, membuat dedaunan berdesir. Ia berdiri diam cukup lama, hanya ditemani suara jangkrik dan dengung listrik lampu taman. Di kepalanya, angka-angka berputar cepat. Uang kos bulan ini belum dibayar. Sudah dua minggu ia menunda dengan alasan beasiswa belum cair. Warung tempat ia biasa berutang juga mulai menagih dengan halus.
Kalau uang ini ia pakai … tak ada yang melihatnya memungut dompet itu. Halaman masjid kosong. CCTV? Ia tak melihatnya di sekitar masjid. Arga menggenggam dompet itu lebih erat.
“Tapi ini bukan milikku,” bisiknya pelan.
Ia duduk di bangku kayu dekat taman. Lampu di atasnya memancarkan cahaya temaram, membuat bayangannya memanjang di lantai. Ia membuka lagi dompet itu. Selain uang, ada foto seorang anak kecil tersenyum memakai baju koko putih.
Arga menatap foto itu lama. “Kalau ayahmu kehilangan ini …,” gumamnya.
Pikirannya melompat pada ayahnya sendiri. Wajah yang mulai keriput, tangan yang kasar karena bekerja di sawah. Bagaimana jika ayahnya yang kehilangan uang sebanyak ini?
Arga memejamkan mata. Namun bayangan lain muncul. Perutnya yang sering kosong menjelang sahur. Pesan singkat dari pemilik kos siang tadi: “Arga, bulan ini belum ya?”
Ia membuka mata lagi. Uang itu terasa seperti jawaban dari doa-doanya. “Mungkin ini rezeki?” pikirnya. Tapi kata itu terasa berat di lidahnya sendiri.
Langkah kaki terdengar dari dalam masjid. Seorang lelaki tua keluar, membawa tas kecil. Ia memandang Arga sekilas, lalu tersenyum.
“Belum pulang, Nak?” tanyanya ramah.
“Belum, Pak,” jawab Arga cepat, refleks menyembunyikan dompet itu di balik pahanya.
Lelaki itu mengangguk lalu berjalan pergi. Arga kembali sendiri. Waktu hampir menunjukkan tengah malam. Ia membayangkan jika ia menyimpan dompet itu. Membayar kos. Membeli beras. Mengirim sedikit uang ke rumah. Tak ada yang tahu. Namun malam itu adalah salah satu malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadhan. Malam yang katanya lebih baik dari seribu bulan.
Arga menatap langit. Bintang-bintang berkelip samar di balik awan tipis. “Kalau ini ujian …,” katanya lirih, “kenapa berat sekali?”
Ia berdiri. Langkahnya pelan kembali masuk ke dalam masjid. Ia mencari takmir yang berjaga. Di sudut dekat mimbar, seorang pemuda berpeci sedang menyusun mushaf.
“Mas,” panggil Arga pelan.
“Iya?”
“Saya menemukan ini di halaman.” Ia menyerahkan dompet itu.
Pemuda itu membuka dan matanya melebar. “Maasya Allah, ini pasti punya Pak Hasan. Tadi beliau panik mencari-cari dompetnya sebelum pulang.”
Arga menunduk. Dadanya terasa ringan sekaligus kosong. “Bisa tolong simpan dan hubungi pemiliknya, Mas?” katanya pelan.
Pemuda itu tersenyum lebar. “Masya Allah, terima kasih ya. Uangnya banyak sekali ini.”
Arga hanya mengangguk. Ia keluar dari masjid dengan langkah yang terasa berbeda. Angin malam menyentuh wajahnya, tapi kini terasa lebih sejuk. Perutnya tetap kosong. Kosnya tetap belum terbayar. Masalahnya belum hilang. Namun ada sesuatu yang tidak lagi menekan dadanya. Di perjalanan pulang, ia berhenti sejenak di depan warung yang sudah tutup. Lampu di dalamnya mati, menyisakan bayangan rak-rak makanan. Arga menarik napas panjang.
“Ya Allah… Engkau tahu aku butuh,” bisiknya. “Tapi Engkau juga tahu aku ingin jujur.” Matanya sedikit basah, tapi ia tersenyum tipis.
Keesokan sore, setelah salat Asar, Arga dipanggil oleh takmir masjid. Ia datang dengan langkah ragu. Di ruang kecil samping masjid, seorang pria paruh baya berdiri dengan wajah haru. Di tangannya ada dompet cokelat itu.
“Kamu yang menemukan ini?” tanyanya lembut.
Arga mengangguk. Pria itu menggenggam tangan Arga erat. “Ini uang untuk membayar biaya operasi anak saya minggu depan. Saya pikir sudah hilang.” Suara pria itu bergetar.
Arga terdiam. Foto anak kecil dalam dompet itu terbayang lagi. “Terima kasih, Nak. Kalau tidak ada kamu …,” Pria itu merogoh saku dan mencoba menyodorkan beberapa lembar uang.
Arga buru-buru menggeleng. “Tidak usah, Pak. Saya hanya mengembalikan yang bukan milik saya.”
Pria itu menatapnya lama, lalu tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. “Semoga Allah membalas kebaikanmu.”
Esok paginya, usai menunaikan salat duha, sebuah notifikasi masuk dari pihak kampus: Beasiswa tahap akhir telah dicairkan. Arga membuka pesan itu berkali-kali, memastikan ia tidak salah baca.
Hari itu berlalu dengan cepat. Arga memanfaatkan waktunya dari siang hingga sore untuk melunasi satu per satu tanggungannya dengan uang beasiswa dan belanja kebutuhan beberapa hari ke depan. Tatapan Arga menengadah ke langit yang mulai menggelap. Air matanya jatuh tanpa suara. Bukan karena uang itu akhirnya ada. Namun karena ia tahu, malam tadi ia hampir memilih jalan yang berbeda.
Ia duduk di tangga kos, menatap langit yang perlahan menjingga. Di kejauhan, azan Magrib berkumandang. Ramadhan belum berakhir. Ujian mungkin akan datang lagi. Namun malam Lailatul Qadar itu telah meninggalkan jejak dalam hidupnya. Jejak tentang pilihan, tentang kejujuran saat keadaan terasa sulit, juga tentang iman yang diuji bukan saat lapang, tetapi saat sempit. Dan di antara lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu, seorang mahasiswa perantau bernama Arga akhirnya memahami bahwa tidak semua jawaban datang dalam bentuk uang. Sebagian datang dalam bentuk ketenangan.