Kursi Kosong dan Rekonsiliasi

Bimo Aria Fundrika | Sri Rahayu
Kursi Kosong dan Rekonsiliasi
Kursi Kosong dan Rekonsiliasi (Nano Banana/Gemini AI)

"Satu... dua... dua belas. Kursi nomor tiga belas kosong, tapi piringnya sudah kotor oleh sisa kaviar dan gelasnya masih menyisakan bekas bibir yang basah.

Katakan padaku, ke mana perginya Ketua Partai Garda?"

Suara detektif swasta, Pandu, memecah kesunyian di ruang makan swasta Hotel Gran Melati. Ruangan itu kedap suara, tanpa jendela, dan dijaga oleh dua belas ajudan bersenjata di balik pintu baja.

Di dalam ruangan, duduk sebelas pemimpin partai paling berkuasa di negeri ini. Mereka baru saja menyelesaikan "Makan Malam Rekonsiliasi" untuk menentukan siapa yang akan menjadi calon presiden tunggal.

Satu orang hilang: Baskoro, Ketua Partai Garda yang memegang kartu sebagai koalisi.

“Kami tidak tahu, Pandu,” sahut Bapak Hendrawan, yang merupakan politisi paling senior di meja itu, sambil menyeka keringat di dahi.

"Lampu padam selama tepat enam puluh detik karena gangguan teknis. Saat lampu menyala kembali, Baskoro sudah tidak ada di kursinya. Pintu tetap terkunci dari dalam. Kami semua tetap di tempat duduk masing-masing."

Pandu berjalan memutari meja jati bundar itu. Ia mengamati sebelas wajah di depannya. Wajah-wajah yang terbiasa di depan umum, kini tampak benar-benar ketakutan.

"Dua belas orang masuk. Lampu mati. Satu orang hilang di ruangan yang terkunci rapat dari dalam. Ini bukan sulap, ini politik," bisik Pandu. Ia berhenti di depan kursi nomor tiga belas yang kosong.

Ia memeriksa kolong meja. Bersih. Ia memeriksa langit-langit. Utuh. Ia kemudian menatap sebuah vas bunga besar di tengah meja. Di dalamnya, ada mawar-mawar merah yang mulai layu. Pandu mencabut salah satu mawar, dan matanya.

“Bapak-bapak, ada yang bisa menjelaskan kenapa mawar ini beraroma sianida?”

Hening yang menyalakan gabus ruangan. Sianida bukan hanya racun, itu adalah pesan.

"Kami semua diperiksa sebelum masuk!" protes Ibu Ratna, satu-satunya wanita di meja itu. "Tidak ada senjata, tidak ada racun. Protokol keamanannya sempurna!"

“Protokol manusia tidak pernah sempurna jika ada pengkhianat di dalamnya,” jawab Pandu. Ia mengambil gelas milik Baskoro yang masih berisi sedikit wine merah. Ia mengeluarkan sebuah alat kecil dari sakunya—pemindai laser saku, dan mengarahkannya ke bekas bibir di bibir gelas.

Laser itu memantulkan kode digital yang muncul di layar kecil. Pandu tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat para politisi itu merinding.

"Baskoro tidak diculik. Dia juga tidak dibunuh di sini," ujar Pandu tiba-tiba.

"Apa maksudmu? Dia hilang!" teriak Hendrawan.

"Dia tidak hilang. Dia hanyalah sebuah proyeksi," Pandu berjalan menuju panel lampu di dinding. Ia membongkar saklar lampu dengan pisau lipatnya.

Di balik kabel-kabel itu, tersembunyi sebuah proyektor holografik mikro yang sangat canggih. "Baskoro yang makan malam dengan kalian selama dua jam tadi bukanlah manusia. Itu adalah rekaman hologram yang sinkron dengan sensor gerak dan suara. Baskoro yang asli bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di hotel ini malam ini."

Kehebohan pecah. Para pemimpin partai itu saling menghargai, merasa bodoh karena telah berdiskusi dan membagi-bagi jabatan menteri dengan sebuah bayangan.

"Tapi siapa yang memasangnya? Dan kenapa?" tanya Ratna.

"Pertanyaannya bukan siapa yang memasangnya, tapi siapa di antara kalian yang tahu bahwa itu hologram dan tetap berpura-pura berbicara dengannya?" Pandu menatap mereka satu demi satu.

"Karena proyektor ini hanya bisa bekerja jika ada seseorang di meja ini yang mengendalikan respons penjelasan melalui perangkat di bawah meja."

Pandu tendang kursi milik Hendrawan. Di sana, tertempel sebuah pemancar kecil.

Wajah Hendrawan berubah pucat pasi. "Aku... aku hanya diperintah! Baskoro bilang dia dalam bahaya, dia memintaku memasang itu agar koalisi tetap terlihat solid sementara dia mencari perlindungan!"

“Perlindungan?” Pandu tertawa getir. "Coba nyalakan televisi itu."

Salah satu ajudan menyalakan televisi besar di dinding ruangan.

Berita sela muncul dengan judul merah yang berkedip: "KETUA PARTAI GARDA, BASKORO, DITEMUKAN TEWAS DI KEDIAMAN PRIBADINYA. DIDUGA BUNUH DIRI DENGAN SIANIDA SEJAM YANG LALU."

Ruangan itu tiba-tiba menjadi sangat dingin. Jika Baskoro sudah mati sejam yang lalu di rumahnya, siapa yang mengendalikan hologram itu untuk terus berbicara dengan mereka hingga lima menit yang lalu?

Pandu mendekati proyektor mikro di dinding. Ia melihat ada satu pesan terakhir yang terjadwal untuk muncul di layar proyektor. Ia menekan tombol play.

Proyeksi Baskoro muncul kembali di tengah meja, kali ini bukan dalam posisi duduk, melainkan berdiri tegak dengan wajah yang sangat sedih.

"Rekan-rekan sepakatku," suara hologram itu menggema, "Saat kalian melihat ini, aku sudah tidak ada. Tapi rahasia tentang dana abadi yang kita simpan di bank Swiss sudah kukirimkan ke satu alamat email.

Email itu akan terkirim secara otomatis jika dalam sepuluh menit ke depan, kursi nomor tiga belas ini tidak ditekan dengan kode sidik jari dariku."

Semua orang di meja itu panik. Mereka merangsek menuju kursi nomor tiga belas, mencoba menekan sensornya, namun sia-sia. Tangan mereka bukan milik Baskoro.

"Pandu! Lakukan sesuatu!" teriak Hendrawan kalap. "Jika data itu bocor, kita semua akan masuk penjara! Bangsa ini akan terburu-buru!"

Pandu hanya berdiri diam, melipat tangannya di dada. Ia melihat selai tangan. Kurang dari tiga puluh detik.

“Aku disewa untuk mencari yang hilang, bukan untuk menyelamatkan para pencuri,” ujar Pandu tenang.

Tiba-tiba, ponsel semua orang di ruangan itu bergetar hebat. Bukan email yang masuk, melainkan sebuah pesan siaran langsung dari media sosial milik Baskoro yang tiba-tiba aktif.

Di layar ponsel mereka, terlihat sosok Baskoro yang asli sedang duduk di sebuah ruangan putih yang tidak dikenal. Dia tidak mati. Berita di televisi tadi adalah hoaks yang sengaja disebarkan untuk memancing reaksi mereka.

“Terima kasih rekan-rekan,” ujar Baskoro di layar ponsel. "Rekaman reaksi kalian saat ketakutan tadi adalah bukti terakhir yang kubutuhkan bahwa kalian lebih takut pada kehilangan harta daripada kehilangan teman. Perjamuan malam ini sudah berakhir. Dan pintunya... tidak akan pernah terbuka."

Suara klik keras terdengar. Lampu di ruangan itu padam kembali. Kali ini, tidak ada suara nafas. Hanya ada suara desis halus dari ventilasi udara.

Aroma kacang almond pahit—sianida—mulai memenuhi ruangan.

Pandu meraba saku jasnya, mencari masker oksigen kecil yang selalu ia bawa, namun sakunya kosong. Ia tersenyum pahit dalam kegelapan. Ia menyadari satu hal: ia bukanlah detektif yang disewa untuk memecahkan kasus. Ia disewa untuk menjadi bagian dari dekorasi kematian mereka.

Pintu baja itu tidak akan terbuka dari luar. Dan kursi nomor tiga belas tetap kosong, tertawa dalam kenyamanan.

Siapakah yang menyewa Pandu sebenarnya? Apakah Baskoro benar-benar berkompromi dan ingin membersihkan bangsa, ataukah ini hanyalah cara dia melenyapkan seluruh saingannya dalam satu malam? Dan siapa yang mengambil masker oksigen dari saku Pandu sebelum ia masuk ke ruangan itu?

Dalam politik, persahabatan adalah ilusi yang dibangun di atas tumpukan kepentingan. Ketika kepentingan itu terancam, mereka yang paling keras menyuarakan "persatuan" adalah mereka yang paling cepat menyerang dari belakang.

Kesetiaan sejati tidak bisa dibeli dengan jabatan, dan kebenaran sering kali menuntut pengorbanan yang tak terduga—termasuk bagi mereka yang hanya menjadi penonton atau perantara.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak