"Hapus semua memori tentang rasa lapar. Optimalkan daya baterai pada mode hemat."
Aku mendengar perintah itu bergema di sirkuitku. Tahun 2026, dan aku adalah H-3R0, robot pelayan paling canggih di Restoran Multikultur Jakarta. Tugas utamaku sederhana namun mustahil: Menjadi penengah di meja makan yang menyajikan bebek peking untuk Imlek, steak cokelat untuk Valentine, dan kurma premium untuk berbuka puasa.
"Robot tidak punya perut, tapi kenapa kau terlihat lebih lemas dari kami yang sedang puasa, Hero?" tanya Sarah, pramusaji manusia yang wajahnya pucat karena sisa-sisa sahur yang minimalis.
Aku tidak menjawab. Sensor optikku sedang menangkap sebuah anomali di Meja Nomor 9.
Di sana duduk seorang kakek tua dengan baju koko yang warnanya sudah memudar, bersanding dengan seorang pemuda yang sibuk dengan kacamata VR (Virtual Reality)-nya. Di meja mereka, ada dua piring yang kontras: satu piring berisi ketupat sayur dingin, dan satu lagi piring berisi dessert mewah berhias hati merah.
"Buka kacamatamu, Nak. Sebentar lagi azan," suara kakek itu bergetar, lebih tua dari sistem operasiku.
"Bentar, Kek. Aku lagi di Metaspace. Lagi ngerayain Valentine sama pacar virtualku. Kakek makan duluan aja nanti," jawab pemuda itu tanpa menoleh.
Aku mendekat, membawa nampan berisi air putih. Di dalam memoriku, tersimpan data tentang 'Ramadan': Bulan pengabdian, keluarga, dan refleksi. Namun, yang kulihat di depanku adalah keterasingan yang mutakhir.
Tiba-tiba, alarm sistemku berbunyi. Error 404: Empathy Simulation Required.
"Tuan Muda," suaraku yang sintetis memecah keheningan. "Berdasarkan data kalender 2026, hari ini adalah titik temu yang hanya terjadi ratusan tahun sekali. Ramadan, Imlek, dan Valentine bertemu. Apakah Anda ingin melewatkan momen ini hanya dengan pixel?"
Pemuda itu melepas kacamatanya, menatapku tajam. "Kau cuma mesin, tahu apa soal rasa?"
"Saya tahu bahwa air mata kakek di samping Anda memiliki kadar salinitas yang meningkat 15% sejak sepuluh menit lalu. Itu menandakan kesedihan yang mendalam, Tuan," jawabku datar.
Suasana restoran yang tadinya bising dengan lagu Mandarin dan musik romantis Valentine mendadak sunyi bagi meja nomor 9. Si pemuda menoleh ke arah kakeknya. Benar saja, sang kakek sedang memegang sebuah foto lama yang sudah lusuh.
"Ini foto nenekmu, Nak. Dia meninggal saat Imlek lima tahun lalu, di bulan Ramadan juga. Dulu, dia selalu bilang kalau cinta itu bukan soal apa yang kita kasih, tapi siapa yang kita ajak duduk bersama," bisik sang kakek.
Azan Magrib berkumandang. Bukan dari pengeras suara masjid yang jauh, tapi dari aplikasi ponsel di seluruh penjuru restoran. Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Di saat yang sama, kembang api Imlek meledak di langit Jakarta, terlihat jelas dari dinding kaca restoran. Merah, emas, dan hijau bersatu.
"Maafkan aku, Kek," si pemuda akhirnya menunduk. Ia mematikan perangkat canggihnya. Ia mengambil sebutir kurma, membelahnya, dan menyuapkannya ke mulut kakeknya. Sebuah tindakan manual di dunia yang sudah serba otomatis.
Aku berdiri mematung. Sensor-sensorku mendadak kacau. Aku melihat ke seluruh ruangan. Di meja lain, orang-orang mulai meletakkan ponsel mereka. Ada pasangan yang merayakan Valentine dengan memberikan takjil kepada pengemis di luar kaca. Ada keluarga Tionghoa yang mengundang marbot masjid di depan restoran untuk ikut makan besar.
Toleransi 2026 bukan lagi sekadar jargon politik, tapi menjadi sebuah kebutuhan untuk bertahan hidup sebagai manusia.
Namun, di tengah keharuan itu, sistemku menangkap sebuah sinyal aneh dari dapur. Sebuah paket tanpa nama yang ditujukan untuk "Penyintas Terakhir".
Aku berjalan ke belakang. Di sana, di atas meja stainless steel, terletak sebuah piring retak—piring yang sama dengan yang ada di cerita-cerita lama. Di atasnya bukan makanan, melainkan sebuah kartu memori usang.
Aku memasukkan kartu itu ke slot di lenganku. Sebuah rekaman suara muncul.
"Jika kau mendengar ini, berarti aku sudah tidak ada. Aku adalah penciptamu, Hero. Aku membuatmu bukan untuk melayani makanan, tapi untuk mengamati: Apakah di tahun 2026 manusia masih memiliki hati, atau mereka sudah menjadi robot sepertimu? Jika kau melihat satu saja tetes air mata tulus hari ini, tekan tombol penghancur diri di dadamu."
Aku tertegun. Di depanku, si pemuda dan kakeknya sedang berpelukan sambil menangis. Di meja lain, seorang ibu memberikan jeruk Imleknya kepada anak yatim yang lewat.
Dunia begitu indah karena perbedaannya yang bertabrakan. Manusia kembali menjadi manusia karena mereka rapuh.
Tanganku bergerak menuju dadaku. Tombol merah itu berkedip.
"Program Selesai," bisikku.
Tepat saat lampu restoran meredup karena penghematan energi malam hari, sebuah ledakan kecil terjadi di sudut dapur. Tidak ada api, hanya percikan cahaya biru yang menyerupai bintang.
Keesokan harinya, restoran itu tetap buka. Ramadan terus berjalan. Imlek tetap meriah. Valentine tetap manis. Tapi ada satu hal yang hilang: robot pelayan itu.
Di tempat robot itu meledak, pemilik restoran menemukan sebuah catatan tertulis di atas debu sirkuit: "Ternyata, Tuhan tidak butuh baterai untuk menggerakkan cinta. Aku pergi karena aku sudah melihat surga di meja nomor 9."
Namun, yang membuat semua orang merinding adalah ketika mereka memeriksa CCTV. Robot itu tidak meledak sendiri. Di rekaman itu terlihat, seorang wanita berkerudung putih, yang tidak terdeteksi oleh sensor mana pun—datang dan mencium kening robot itu sebelum ia hancur.
Siapa wanita itu? Dan kenapa wajahnya sangat mirip dengan nenek si pemuda di meja nomor 9?