Di sebuah celah bumi yang tersembunyi, tempat dua tebing curam menjulang seolah-olah ingin memeluk langit, berdirilah Desa Sukamaju. Namun, nama itu hanyalah sebuah ironi yang getir. Selama puluhan tahun sejak kemerdekaan diproklamasikan, kemajuan seolah-olah enggan menuruni lereng terjal menuju lembah tersebut. Bagi penduduknya, kegelapan bukan sekadar fenomena alam yang datang setelah matahari terbenam; kegelapan adalah selimut tebal yang membatasi mimpi, membelenggu produktivitas, dan menjadi sahabat karib yang menyesakkan.
Di desa ini, malam berarti berhenti bernapas. Satu-satunya cahaya berasal dari pelita minyak tanah yang menari-nari ditiup angin, mengeluarkan asap hitam yang perlahan mengotori paru-paru dan menghitamkan langit-langit rumah bambu. Di salah satu rumah itu, hiduplah Bayu, seorang pemuda dengan tatapan mata yang selalu tampak sedang melihat sesuatu yang jauh di cakrawala.
Bayu adalah potret dari ribuan harapan yang terhenti di tengah jalan. Ia terpaksa putus sekolah saat baru menginjak tahun pertama SMA. Harga kopi sedang anjlok, dan ayahnya tidak lagi mampu membiayai ongkos transportasi menuju sekolah di kota yang jaraknya berkilometer-kilometer. Namun, meski raganya terkurung di lembah sunyi, jiwanya merantau melalui tumpukan buku-buku fisika bekas yang ia kumpulkan dari pasar loak setiap kali ia mengantar hasil panen ke kota.
Setiap malam, saat penduduk desa lain sudah terlelap dalam sunyi, Bayu duduk bersila di atas tikar pandan. Di bawah temaram lampu minyak yang menyisakan jelaga di hidungnya, ia menekuni diagram-diagram turbin, rumus arus listrik, dan hukum-hukum elektromagnetik. Baginya, buku-buku kusam itu adalah peta menuju dunia yang lebih terang.
"Untuk apa kau menyiksa matamu setiap malam, Bayu? Lebih baik kau simpan tenagamu untuk membantu Ayah menjemur kopi besok pagi. Kopi tidak butuh listrik untuk menjadi kering," ujar ayahnya, Pak Tarno, suatu sore sambil mengisap rokok lintingannya.
Bayu menatap ke arah sungai yang mengalir deras di dasar lembah, suaranya menderu sepanjang tahun. "Ayah, air itu... dia tidak pernah lelah mengalir. Selama ini kita hanya menggunakannya untuk mencuci baju dan mandi. Padahal, di dalam alirannya tersimpan kekuatan raksasa. Kekuatan yang bisa membuat malam kita tidak lagi hitam, Ayah."
Pak Tarno hanya menggeleng. Di balai desa, saat Bayu mencoba mengutarakan idenya, tawa meremehkan menjadi jawaban yang ia terima. "Listrik itu urusan pemerintah, Bayu. Kita ini orang kecil, jangan bermimpi setinggi langit kalau kakimu masih menginjak lumpur," cetus Pak Kades. Mereka menganggap Bayu hanyalah pemuda pemimpi yang terlalu banyak membaca buku hingga akalnya sedikit miring.
Namun, ejekan itu justru menjadi minyak yang menyulut api semangat di dada Bayu. Ia mulai bergerak dalam diam. Selama berbulan-bulan, setiap kali ia memiliki sedikit uang sisa, ia tidak menggunakannya untuk membeli baju baru atau rokok. Ia berkeliling ke bengkel-bengkel tua di kota, mencari "sampah" yang bagi orang lain tidak berguna: sebuah dinamo tua dari mesin cuci yang sudah terbakar, gulungan kabel-kabel sisa, hingga magnet-magnet kecil.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, Bayu sudah berada di pinggir sungai. Ia mengukur kecepatan arus dengan ranting pohon, mencatatnya di buku saku yang dekil, dan mulai merakit kincir air dari kayu-kayu keras yang ia bentuk dengan kapak dan pahat pinjaman. Ia bekerja seperti orang kesurupan, mengabaikan peluh yang membasahi bajunya.
Ujian pertama datang dengan kejam. Suatu malam pada bulan Desember, hujan badai melanda lembah. Arus sungai yang biasanya bersahabat berubah menjadi monster cokelat yang mengamuk. Kincir pertama yang dibangun Bayu dengan susah payah selama tiga bulan hancur berkeping-keping dalam hitungan menit dihantam batang pohon yang hanyut.
Pagi harinya, Bayu terduduk lesu di atas batu kali yang licin. Ia menatap sisa-sisa kayu kincirnya yang tersangkut di antara bebatuan. Rasanya sesak, seolah-olah semua usaha dan ejekan yang ia tahan selama ini meledak di dadanya.
"Sudahlah, Bayu. Alam sudah bicara. Jangan melawan takdir," hibur seorang tetangga yang lewat, meski nada bicaranya lebih terdengar seperti kepuasan karena ramalannya terbukti benar.
Namun, kegagalan adalah guru yang paling jujur. Bayu kembali ke tumpukan bukunya. Ia menyadari kesalahannya: konstruksinya kurang kokoh dan letaknya terlalu rendah. Ia mulai merancang ulang. Kali ini, ia tidak bekerja sendiri. Ia mendekati dua temannya, Anto dan Dimas, yang juga putus sekolah dan bosan dengan kegelapan desa.
"Kita tidak bisa hanya menunggu bantuan yang mungkin tidak akan pernah datang sampai kita tua. Kita yang harus menjemput cahaya itu ke sungai," ucap Bayu dengan nada yang begitu meyakinkan.
Tergerak oleh semangat Bayu, Anto dan Dimas membantu. Mereka mulai membangun bendungan kecil dari tumpukan batu untuk mengarahkan air ke sebuah celah sempit guna meningkatkan tekanan. Kincir kayu kali ini dibuat lebih besar dan kokoh, diperkuat dengan pelat besi bekas. Dinamo mesin cuci itu ia bongkar, ia bersihkan, dan ia tempatkan dalam wadah kedap air yang ia modifikasi dari jeriken bekas.
Minggu demi minggu berlalu. Tangan mereka kasar dan penuh luka, tetapi harapan di mata mereka semakin menyala. Kabel-kabel mulai ditarik dari pinggir sungai, mendaki tebing, menuju sebuah gubuk kecil yang mereka jadikan pusat kendali.
Malam yang dinanti pun tiba. Kabar bahwa Bayu akan "menyalakan lampu" tersebar luas. Penduduk desa berkumpul di lapangan kecil, sebagian besar masih dengan tatapan skeptis, bersiap untuk menertawakan kegagalan kedua. Bayu berdiri di dekat kincir, tangannya memegang tuas penghubung. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada suara arus sungai.
"Bismillah," bisiknya.
Ia menarik tuas itu. Air mulai menghantam bilah-bilah kincir. Awalnya lambat, lalu kincir itu berputar semakin cepat hingga menciptakan deru stabil yang merdu. Bayu berlari ke arah gubuk, tempat sebuah bohlam kecil berukuran lima watt terpasang di langit-langit.
Bohlam itu berkedip. Sekali. Dua kali. Redup sejenak, lalu... klik. Cahaya putih yang jernih memancar, mengusir kegelapan di dalam gubuk tersebut. Bayu tidak berhenti di situ. Ia menyambungkan kabel utama ke sebuah lampu sorot yang ia arahkan ke lapangan desa.
Seketika, lapangan yang tadinya gelap gulita menjadi terang benderang. Anak-anak kecil berteriak kegirangan, berlarian mengejar bayangan mereka sendiri—sesuatu yang belum pernah mereka lakukan di malam hari. Orang-orang tua terpaku, menutup mulut dengan tangan karena tidak percaya.
Pak Tarno melangkah mendekati putranya. Ia meraba kabel yang mengalirkan energi itu, lalu memeluk Bayu dengan erat. Air mata menetes di pipi sang ayah yang keras. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah Desa Sukamaju, bau asap minyak tanah hilang digantikan oleh aroma kemenangan.
Keberhasilan Bayu menjadi percik api yang membakar semangat perubahan. Inovasi "Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro" miliknya terdengar hingga ke kantor kabupaten. Tidak lama kemudian, para ahli datang, bukan untuk mengambil alih, melainkan untuk menyempurnakan dan memperbesar kapasitas listrik desa atas inspirasi dari pemuda putus sekolah tersebut.
Kini, Desa Sukamaju benar-benar melangkah maju. Pada malam hari, suara mesin jahit terdengar dari rumah-rumah warga, anak-anak belajar dengan buku yang terlihat jelas tanpa mata yang pedih, dan sebuah perpustakaan desa dibangun atas inisiatif Bayu.
Bayu telah membuktikan satu hal yang akan dikenang sepanjang sejarah desa itu: bahwa keterbatasan biaya bukanlah tembok yang mematikan inovasi, melainkan tantangan yang melahirkan kreativitas. Inspirasi sejati tidak datang dari fasilitas yang mewah, melainkan dari kedalaman rasa peduli dan kemauan untuk mencari solusi di tengah kesempitan. Di lembah sunyi itu, Bayu tidak hanya menyalakan lampu; ia telah menyalakan api harapan di hati setiap jiwa bahwa mereka berdaulat atas nasib mereka sendiri.
Kegelapan kini bukan lagi sahabat karib mereka karena cahaya telah menemukan jalannya pulang, mengalir melalui deru air sungai yang tidak pernah lelah bercerita tentang perjuangan seorang pemuda dan buku-buku bekasnya.