Surat yang Tiba setelah Hujan Reda

Hayuning Ratri Hapsari | Fildza Malahati
Surat yang Tiba setelah Hujan Reda
Ilustrasi Arlan (Nano Banana/Gemini AI)

Jakarta selalu punya cara untuk merayakan kesedihan, salah satunya melalui hujan yang turun tanpa permisi di bulan Oktober. Bagi Arlan, bunyi rintik yang menghantam kaca jendela kedai kopi "Selasih" terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur sisa keberaniannya. Ia duduk di kursi pojok dekat rak buku, tempat yang sama di mana lima tahun lalu, sebuah janji diucapkan di atas selembar tisu yang kini sudah memudar warnanya.

"Lima tahun dari sekarang, jam empat sore, di kursi ini. Siapa pun yang sampai lebih dulu harus memesankan Americano tanpa gula untuk yang satunya," ucap Lana saat itu, sambil mencoba menahan air mata yang hampir jatuh.

Arlan tersenyum pahit menatap kursi kosong di hadapannya. Di atas meja, dua cangkir kopi hitam sudah mendingin. Uapnya telah lama hilang, menyisakan cairan pekat yang tampak sepahit perasaannya saat ini. Jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit. Lana belum datang.

Lima tahun lalu, Arlan memilih pergi. Ia mengejar beasiswa arsitektur ke Berlin, meninggalkan Lana dengan tumpukan rindu dan sebuah janji yang tampak manis di permukaan, namun beracun di kedalamannya. Selama di Berlin, Arlan adalah pria yang sibuk. Ia membangun karier, mengejar ambisi, dan perlahan-lahan, frekuensi pesannya kepada Lana berkurang. Dari setiap hari menjadi seminggu sekali, lalu sebulan sekali, hingga akhirnya hanya menjadi sunyi yang panjang.

Arlan berpikir Lana akan baik-baik saja. Ia pikir wanita itu akan mengerti bahwa kesuksesan butuh pengorbanan. Namun, saat ia melangkah masuk kembali ke Jakarta dua hari yang lalu, ia menyadari bahwa ia tidak tahu apa-apa tentang apa yang ditinggalkannya.

Pintu kedai berdenting. Arlan mendongak dengan jantung yang berdegup kencang, berharap melihat sosok wanita dengan rambut sebahu dan syal rajut berwarna krem. Namun, yang masuk adalah seorang pria paruh baya dengan seragam petugas pos yang tampak basah kuyup. Petugas itu mengedarkan pandangan, lalu melangkah menuju meja bar.

Arlan kembali menunduk. Harapannya hancur berkeping-keping. Ia meraih ponselnya, mencoba mengirim pesan ke nomor Lana yang sudah tidak aktif selama dua tahun terakhir. Aku di sini, Lana. Di tempat kita.

"Permisi, apakah Anda yang bernama Arlan?"

Arlan tersentak. Barista kedai kopi itu berdiri di samping mejanya bersama petugas pos tadi. Petugas pos itu merogoh tasnya yang kedap air dan mengeluarkan sebuah amplop biru pucat yang tampak sedikit kusam di bagian pinggirnya. 

"Ada titipan untuk Anda. Surat ini seharusnya dikirim tiga tahun lalu, tapi alamat penerimanya di Jerman selalu salah atau tidak ditemukan. Kami baru mendapatkan alamat domisili baru Anda di Jakarta dari catatan kependudukan minggu lalu," ucap petugas pos itu sopan.

Arlan menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Di sudut kiri atas, tertulis nama yang membuat napasnya seolah terhenti: Lana Kirana.

Dengan jemari yang dingin, ia merobek amplop itu. Secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali terjatuh.

Juli, 2022

Arlan, pria yang mungkin sedang sibuk menggambar gedung tinggi di Berlin.

Saat kau membaca ini, mungkin lima tahun yang kita janjikan belum tiba, atau mungkin sudah lewat. Aku menulis ini karena aku tahu, aku tidak akan bisa menepati janji untuk duduk di kursi pojok itu bersamamu.

Maafkan aku, Arlan. Maaf karena aku tidak sekuat yang kau bayangkan. Dokter bilang sel-sel di dalam tubuhku terlalu mencintaimu, hingga mereka memutuskan untuk tumbuh liar dan merusak segalanya agar aku bisa segera beristirahat. Lucu, ya? Bahkan di saat sakit pun, aku masih mencoba melucu.

Aku tidak memberitahumu karena aku tahu kau sedang berjuang untuk mimpimu. Aku tidak ingin menjadi jangkar yang menahan kapalmu untuk berlayar. Aku ingin kau melihat Berlin dengan mata yang benderang, bukan mata yang sembap karena mengkhawatirkanku yang ada di belahan bumi lain.

Arlan, jangan benci waktu. Waktu tidak salah, dia hanya menjalankan tugasnya untuk memisahkan yang memang tidak ditakdirkan bersama. Jika nanti kau datang ke kedai itu dan aku tidak ada, tolong jangan tunggu aku terlalu lama. Pesanlah kopimu, minum sampai habis, lalu berjalanlah keluar tanpa menoleh ke belakang.

Aku sudah mencintaimu dengan seluruh waktu yang aku miliki. Dan itu cukup bagiku.

Selamanya, Lana.

Dunia Arlan seolah runtuh seketika. Suara bising di kedai kopi itu mendadak hilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekik. Ia menatap kopi hitam yang sudah dingin di depannya. Americano tanpa gula. Pahitnya tidak sebanding dengan rasa sesak yang kini menghimpit dadanya.

Ia baru menyadari bahwa selama lima tahun ini, ia tidak sedang membangun masa depan. Ia sedang membangun sebuah monumen kesepian di atas makam cinta yang ia telantarkan. Ia mengejar bayang-bayang kesuksesan, sementara satu-satunya cahaya yang ia miliki telah padam dalam diam dan kesendirian.

Arlan memejamkan mata. Ia bisa merasakan kehadiran Lana di kursi kosong itu. Ia bisa membayangkan tawa gadis itu, aroma parfum lavendernya, dan cara ia menatap Arlan seolah pria itu adalah pusat semestanya. Namun, saat ia membuka mata, yang ada hanyalah kursi kayu yang dingin dan bayangan dirinya sendiri di kaca jendela yang basah.

Lana telah menunggunya, bukan di kedai ini, melainkan di dalam surat yang tertahan selama tiga tahun. Lana menunggunya di dalam doa-doa yang tidak pernah ia dengar.

Arlan bangkit berdiri dengan kaki yang terasa lemas. Ia merogoh sakunya, meletakkan beberapa lembar uang di atas meja—bayaran untuk dua cangkir kopi yang tidak akan pernah diminum oleh orang yang tepat. Ia melipat surat itu dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam saku jaket, tepat di atas jantungnya.

Ia melangkah keluar dari kedai "Selasih". Hujan di luar sudah mulai reda, menyisakan aroma tanah yang basah dan udara dingin yang menggigit kulit. Arlan berdiri di trotoar, menatap langit Jakarta yang berwarna abu-abu keunguan.

Ia teringat kalimat terakhir Lana: Berjalanlah keluar tanpa menoleh ke belakang.

Arlan melangkah maju. Satu langkah, dua langkah. Namun, setegar apa pun ia mencoba, air matanya jatuh juga, bercampur dengan sisa rintik hujan di pipinya. Ia menyadari sebuah kebenaran yang paling menyakitkan: ia bisa membangun gedung tertinggi di dunia, namun ia tidak akan pernah bisa membangun kembali waktu yang telah hancur.

Di bawah lampu jalan yang mulai menyala remang, Arlan berjalan menjauh. Ia membawa pulang sebuah kesuksesan yang megah, namun dengan hati yang selamanya akan tertinggal di kursi pojok sebuah kedai kopi, bersama seorang gadis yang tidak akan pernah datang kembali.

Malam itu, Jakarta saksinya, bahwa cinta yang paling sedih bukanlah cinta yang tak terbalas, melainkan cinta yang baru disadari keberhargaannya saat sang pemilik hati sudah lama berpulang ke haribaan sunyi.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak