Sebagai tukang gali kubur, upah Mugeni tidak seberapa. Berulang kali istrinya, Rus, menyuruhnya untuk meninggalkan pekerjaan itu dan mencari pekerjaan yang lain.
Terkadang gara-gara Rus, keduanya sampai adu mulut, meski pada akhirnya juga baikan. Tentu saja alasannya karena dengan upah yang tidak seberapa—ditambah tidak pasti—hanya mampu untuk mengisi perut.
Dulu sebelum menikah, awalnya Rus berpikir, bahwa setelah menikah nanti Mugeni akan berubah, mencari pekerjaan lain.
“Aku tahu, kehidupan rumah tangga sangat jauh berbeda dengan kehidupan ketika seseorang masih sendiri. Maka dari itu, setelah kita menikah nanti, akan kucari pekerjaan lain yang menghasilkan untuk rumah tangga kita,” ucap Mugeni.
“Syukurlah kalau kau sejalan denganku. Aku sangat senang sekali mendengarnya. Setelah menikah nanti, mungkin aku juga akan membantumu mencari penghasilan dengan membuka warung kecil-kecilan, atau berdagang sayuran segar di pasar.”
Sementara di hadapan sepasang manusia itu terbentang sawah yang begitu luas. Mereka kini sedang berada di rumah-rumahan yang biasa digunakan petani untuk beristirahat.
Ketika sepasang manusia itu membicarakan tentang hal itu, umur Mugeni telah menginjak usia tiga puluh tujuh tahun, dan Rus tiga puluh tiga tahun.
Di kampung mereka, usia kepala tiga, apalagi hampir menginjak kepala empat, menikah adalah sebuah keterlambatan. Mereka hanya lulusan SMP.
“Lihat sawah di depan kita, hanya sawah ini, sawah satu-satunya yang luas yang masih ada,” ucap Mugeni.
“Semakin hari sawah semakin habis,” kata Rus.
“Benar, di perkampungan kita, semakin banyak berdiri rumah baru. Rasanya semakin tidak seperti di desa.”
“Kembali lagi, maka memang sudah seharusnya mencari pekerjaan lain. Tidak mungkin bukan, bertahan menjadi buruh tani, meskipun kau punya pekerjaan lain?”
Mugeni tidak menanggapi. Ia tidak menyangka, ucapan Rus akan kembali pada pembahasan kehidupan setelah menikah, mencari pekerjaan yang baru, lebih menjanjikan.
Lima tahun lalu, Rus sebenarnya telah dilamarkan oleh seorang lelaki tidak berwajah tampan dan gemuk, tapi mapan. Betapa senangnya hati orang tua Rus. Timbul di benak mereka sebuah harapan ; setelah menikah nanti, kehidupan mereka akan jauh lebih baik.
Namun Rus sendiri menolak lamaran itu. Orang tuanya kalap. Rus menjelaskan, siapa sesungguhnya lelaki itu. Ia adalah seorang lelaki yang gemar mabuk-mabukan dan berjudi. Tidak ketinggalan pula, ia suka bermain perempuan. Wajar, bila di usianya yang hampir menginjak empat puluh tahun ia belum juga menikah.
Angan-angan sering tidak sejalan dengan kenyataan. Sering menggiring pada kekecewaan. Apa yang telah Mugeni ucapkan kepada Rus, tidak menjadi kenyataan. Bukan berarti Mugeni tanpa usaha mencari pekerjaan lain. Ia telah ke sana dan kemari.
Apa daya, pendidikan yang hanya sebatas kelas dua SMP, yang berarti ia hanya mempunyai ijazah SD, tak mampu berbicara apa-apa. Ada pekerjaan, namun hanya menjadi penjaga toko alat tulis, yang gajinya menyedihkan. Mugeni tidak mengambil lowongan itu. Sementara setelah Mugeni menikah, ia hampir tidak pernah menggarap sawah.
Di sekitar perkampungannya, semakin hari sawah semakin banyak berkurang, akibat penutupan lahan sawah yang akan dibangun rumah maupun perumahan. Pembangunan memang selalu memberikan dampak buruk, pikir Mugeni. Mugeni memutuskan untuk bertahan menjadi tukang gali kubur.
“Kau sendiri yang bilang, dulu akan mencari pekerjaan lain yang lebih menghasilkan. Mana? Mana? Atau jangan-jangan kau sengaja melakukan ini?” kata Rus dengan nada kesal dan keras, dua hari yang lalu. “Sengaja membuat istrimu sengsara, hah?”
“Apa kau sudah tuli? Atau malah gila? Dari dulu aku sudah berusaha keras mencari ke sana kemari. Tidak ada pekerjaan yang layak untuk orang yang tidak berpendidikan.”
“Aku sudah sampaikan kepadamu, Mugeni. Jika memang tidak ada, jual-lah tanah warisanku untuk modal sebuah usaha yang kira-kira senantiasa dibutuhkan oleh masyarakat. Jangan hanya terus diam, malah terus jadi tukang gali lubang kubur!”
“Tidakkah kau memikirkan, jika kita memiliki anak? Jika mau pun aku bisa saja menjual tanah warisan bagianku yang luasnya tak seberapa. Namun aku selalu melihat bagaimana besok ke depannya. Tanah itu bisa digunakan untuk kebutuhan di masa mendatang. Kalau tidak, cukup kita wariskan kepada anak kita nanti.”
“Tapi bukankah jika digunakan sebagai modal akan membuat kita mendapatkan keuntungan? Bisa saja kita menjadi kaya? Bisa saja!” ucap Rus, tidak mau kalah, beradu argumen. “Kita bisa mencari gantinya, atas tanah yang kita jual!”
“Ya kalau berhasil. Kalau tidak? Selalu ada kemungkinan ke sana bukan?”
“Ya tidak tahu. Sudahlah, pokoknya aku tidak peduli! Apa pun pekerjaannya, atau kau hendak menjual atau tidak tanahku, aku menginginkan penghasilan yang lebih dari sekarang. Apa kau tega membuat istrimu menderita? Sebagai istri, aku bingung membelanjakan uangmu yang pas-pasan itu. Masih untung aku membuka warung kecil-kecilan. Kalau tidak? Aku tidak bisa membayangkan.”
Kemudian setelah itu, Rus merasakan mual pada perutnya. Ia seperti ingin muntah. Mugeni diam-diam memikirkan juga apa yang diucapkan oleh istrinya. Mugeni merasa ucapannya benar, ada kemungkinan tidak berhasil yang disarankan oleh istrinya. Namun, di sisi lain, ada peluang untuk sebaliknya. Bukankah peluang itu akan ada jika berani mengambil risiko?
Sayangnya, Mugeni tidak akrab dengan hal-hal yang berisiko. Meskipun di luar sana banyak orang yang berhasil karena tindakannya, tapi Mugeni tetap saja takut mengambil langkah. Bayang-bayang kegagalan yang berhasil menguasai dirinya. Mugeni pada akhirnya tidak mau berjudi, sebagaimana yang disarankan oleh istrinya.
***
Oleh dokter, Rus dinyatakan hamil. Kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Pun Mugeni. Di tempurung kepala Mugeni sudah terbayang suara tangis bayi di rumahnya yang hanya berlantai semen.
Namun kebahagiaan itu segera sirna, manakala ia teringat akan pekerjaannya. Sebagai tukang gali kubur upahnya tak seberapa.
Terbayang di kepalanya ; sebuah persalinan. Tentunya melahirnya juga membutuhkan biaya, belum lagi hari-hari setelahnya. Mugeni harus menghidupi bayi yang membutuhkan banyak gizi—misalnya ia harus membeli susu setelah bayinya tidak disusui lagi oleh istrinya. Belum lagi pakaian dan segala tetek-bengek untuk si bayi.
Mugeni tentu tidak mungkin berdoa, agar ada orang mati setiap harinya. Mugeni tidak akan berdoa seperti itu. Jelas itu sebagai sebuah tindakan yang tidak terpuji, bahkan Mugeni merasa jika ia seperti itu, ia berarti telah bertindak jahat.
Mugeni pernah dituduh oleh beberapa orang di kampungnya, mendoakan banyak orang mati—waktu itu memang pernah terjadi dalam waktu tiga hari yang meninggal dunia sampai tiga orang. Karena hal itu pula, sampai ada yang memusuhinya sampai detik ini. Mugeni tidak pernah membalasnya dengan sesuatu hal yang menyakitkan. Ia menerima dengan sabar. Baginya, yang namanya hidup, adalah wajar ada orang yang tidak menyukainya.
Hanya Mugeni-lah satu-satunya orang yang bekerja sebagai tukang gali kubur di kampungnya tinggal. Tidak ada orang lain. Kala ada orang yang meninggal dunia, Mugeni langsung dihubungi. Bahkan kampung di sekitarnya tinggal pun demikian. Tenaga Mugeni begitu dibutuhkan. Pekerjaan Mugeni bisa dikatakan mulia bila yang memandang ialah orang beriman.
Kian hari, perut Rus kian membesar. Kian hari, Rus kian gencar mengejar-ngejar Mugeni agar ia mencari pekerjaan lain yang lebih menghasilkan atau menjual tanahnya untuk modal usaha. Sebagai seorang suami, ia tidak tega melihat permintaan istri yang entah kapan terpenuhi. Tetapi keadaan telah membuatnya lesu.
Mugeni tetap bertahan pada pekerjaannya. Rus sering marah-marah. Mugeni dengan sabar mengingatkan agar menjaga segala perilaku, karena menurut kata orang, perilaku sang ibu disaat mengandung akan berpengaruh bagi anaknya nanti.
Sayang seribu sayang. Kejengkelan Rus telah bertumpuk-tumpuk. Rus tidak pernah mendengarkan nasehat suaminya. Mugeni gelisah. Rus semakin sering marah-marah, sering melontarkan kalimat-kalimat yang menyakiti hati Mugeni. Mugeni tidak pernah membalas rasa sakit hatinya. Tidak terasa kandungan Rus telah mencapai delapan bulan. Itu artinya semakin dekat dengan hari kelahiran si bayi.
Dan Mugeni? Ia tidak mau meninggalkan pekerjaannya. Selain tidak ada pekerjaan lain yang lebih mending, Mugeni juga mempunyai keyakinan kalau pekerjaan yang ia jalani sekarang merupakan pekerjaan yang mulia!