Masinis

Bimo Aria Fundrika | Risen Dhawuh Abdullah
Masinis
sumber gambar: pexels.com

Seperti biasa, ia sudah berdiri di peron jalur satu, menunggu kedatanganku. Ia tidak pernah telat menyambutku. Ia selalu sudah ada ketika aku turun dari lokomotif.

Ia berdiri dengan rantang berwarna kuning. Sore ini, ia tidak datang bersama anaknya.

Kali ini sedikit berbeda. Aku tidak begitu antusias disambutnya. Senyum yang kukeluarkan terasa terpaksa. Seperti biasa, kami berjalan mencari kursi kosong—kursi yang biasanya digunakan calon penumpang untuk menunggu kedatangan kereta api. Kami duduk di sisi timur, dengan suasana yang tidak terlalu ramai.

“Ini dimakan dulu.” Ia membuka tutup rantang.

Aku melirik isinya sekilas: nasi, sayur tahu kuning, dan tempe goreng lengkap dengan sambal. Seharusnya aku antusias, sebab itu makanan kesukaanku.

Namun kali ini tidak. Aku justru melirik jam dinding yang menempel tak jauh dari tempat kami duduk. Masih tersisa sepuluh menit sebelum kereta Logawa yang kubawa diberangkatkan kembali.

Hidup, kalau dipikir-pikir, lucu. Baru dua hari lalu aku begitu bahagia karena perempuan yang kini duduk di sampingku ini.

Setelah sekian lama, akhirnya aku berani mengatakan padanya bahwa aku ingin memilikinya sepenuhnya. Aku tidak peduli pada statusnya, pada masa lalunya yang kelam. Aku tidak ingin kehilangannya untuk kedua kalinya.

Aku tak pernah ingat dengan jelas bagaimana aku bisa mengenal perempuan itu hingga begitu akrab, hingga ia rutin membawakanku makanan dengan rantang berwarna kuning.

Semuanya terjadi begitu alami. Barangkali lebih alami daripada embun yang muncul di rerumputan pagi hari. Delapan tahun lalu adalah pertemuan terakhir kami—setidaknya, aku sempat mengira begitu.

Saat itu ia sedang mengandung lima bulan. Anak yang kini telah duduk di bangku sekolah dasar.

Aku masih ingat betul, ia mengenakan daster merah muda dan memberikanku rantang yang dibawanya. Seperti biasa, kami mencari tempat duduk. Namun pada pertemuan terakhir itu, aku tak sempat menikmati makanan yang ia bawa.

Aku benar-benar syok—dan merasa bodoh—karena tidak menyadarinya sejak awal. Perubahan pada perutnya baru kusadari saat itu. Ketika kami sedang berbincang, seorang pemuda datang dan berbicara padanya. Dari ucapannya, aku tahu perempuan itu baru saja diusir oleh seseorang yang ia sebut tante dan terpaksa berpindah mangkal ke Lempuyangan.

Ia menangis seketika. Pada kesempatan berikutnya, saat kereta yang kubawa kembali berhenti, aku tak lagi menemukannya. Hari itu, tak ada prosesi lambaian tangan ketika aku meneruskan perjalanan menuju Purwokerto—tujuan akhir kereta Logawa yang kubawa.

Hari berganti hari. Aku terus berharap perempuan dengan rantang kuning itu kembali muncul. Namun yang kutemukan hanyalah ketiadaan. Aku berusaha mencarinya—bertanya ke sana-sini, bahkan kepada sesama masinis Logawa—namun tak seorang pun tahu.

Hingga enam tahun berselang sejak pertemuan terakhir kami, ia kembali muncul di Lempuyangan. Masih dengan rantang berwarna kuning.

Tak ada yang berubah dari wajahnya—maksudku, tak ada kerut tambahan. Ia masih sama: tersenyum menyambut kedatanganku. Ketika kami duduk, ia kembali berkata, “Ini dimakan dulu.” Kalimatnya tak pernah berubah.

Anehnya, aku langsung menikmati makanan itu. Seolah-olah sebelumnya tak pernah terjadi apa-apa. Tentu ini aneh. Barangkali keanehannya serupa dengan kemunculannya yang terasa begitu alami, hingga kami bisa kembali sedekat itu. Tapi begitulah kenyataannya.

Ia tak pernah mengatakan rindu. Namun aku tahu, rindu itu tersimpan di balik sepasang matanya yang cerlang. Sementara aku mengungkapkan rinduku dengan cara lain. Kataku, aku sangat ingin kembali merasakan masakannya.

Pada pertemuan berikutnya, aku mengatakan padanya bahwa aku sudah tak memiliki keluarga. Istri dan anak semata wayangku meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil—mobil yang mogok di tengah rel kereta api.

Saat mobil itu mogok, palang pintu kereta sudah tertutup. Menurut kesaksian petugas penjaga palang, istriku sempat berusaha berkomunikasi dengannya. Namun jendela mobil tertutup dan pintu tak kunjung terbuka. Dugaan sementara, pintu mobil terkunci dan tak bisa dibuka. Kecelakaan pun tak terhindarkan.

Kehadirannya kembali seolah mengisi kekosongan dalam jiwaku. Ia terus membawakan rantang kuning untukku. Kadang kami bertemu pagi hari, sekitar pukul setengah sembilan, setelah aku memulai perjalanan dari Purwokerto. Kadang sore hari, sekitar pukul empat, setelah aku berangkat dari Jember.

Jika sore, ia sering datang bersama anaknya—anak yang terakhir kali kulihat masih berada dalam kandungan. Jika pagi, ia datang sendiri karena anaknya sudah berangkat sekolah.

Kami seperti suami istri yang memiliki seorang anak, padahal sebenarnya bukan siapa-siapa. Aku sendiri sulit memahami situasi ini. Anaknya memanggilku ayah. Sungguh aneh, memang, tetapi begitulah kenyataannya.

Hingga perasaan-perasaan yang pernah kurasakan di masa lalu kembali muncul. Sudah hampir dua tahun sejak kami bertemu lagi. Ada kecemasan samar yang perlahan menguasaiku. Aku tak ingin membohongi diri sendiri. Aku tak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.

Dua hari yang lalu dengan penuh kesungguhan, aku ingin memilikinya sepenuhnya. Ia tampak begitu bahagia. Masa lalunya yang melekat pada dirinya seperti tidak pernah berbekas. Aku tidak peduli siapa dirinya di masa lalu.

“Sepertinya sedang ada masalah?” tanya perempuan itu, setelah aku mengatakan kalau aku tidak bernafsu makan.

Ia tidak terlihat kecewa, justru aku yang menyesal telah mengucapkan itu.

Rantang itu sendiri sudah tertutup kembali.

“Sulit untukku menjelaskan, aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Aku tidak siap,” kataku.

Setelah ujaranku, terdengar pemberitahuan kalau kereta Logawa sebentar lagi akan diberangkatkan. Pemberitahuan itu mengimbau bagi penumpang yang belum masuk ke dalam kereta api, segera masuk.

“Secara singkat saja tidak dapat kau ceritakan?”

Aku berjanji akan menceritakannya pada pertemuan selanjutnya. Aku melambaikan tangan padanya dengan pikiran masih dikuasai bayangan itu. Bayangan itu semakin jelas begitu lokomotif yang kukemudikan berangkat.

Aku benar-benar diteror. Diteror!

Ya, bayangan itu telah melahirkan rasa bersalah yang begitu dalam pada diriku. Meski aku tahu, itu terjadi bukan juga karena kesalahanku. Aku sama sekali tidak salah.

Bagaimana mungkin aku menghentikan sebuah kereta api secara dadakan? Lagi pula, aku tidak menyangka. Kemunculannya begitu mendadak. Sangat mendadak.

Aku tidak tahu lagi bagaimana harus menghapus rasa bersalah ini. Aku tidak pernah menduga, kalau perjalananku kali ini disajikan suatu hal yang mengerikan.

Dalam perjalanan dinasku, seseorang berlari ke arah rel dan berhenti tepat di hadapanku. Aku tak punya waktu. Tak ada pilihan. Lokomotif tetap melaju.

Sejak saat itu, setiap perjalanan terasa seperti membawa sesuatu yang tak ikut turun di stasiun mana pun.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak