Selepas melewati jembatan layang yang dipenuhi oleh mural pada sisi penyangga di kiri dan kanan, kereta yang kukemudikan semakin melambat. Kereta memasuki jalur dua. Ketika aku turun dari lokomotif, seorang perempuan telah menyambutku di peron jalur satu. Aku teringat delapan tahun yang lalu, saat tiba-tiba ia menghilang setelah seorang pemuda membocorkan jati dirinya.
Wajah itu. Wajah yang seolah-olah tidak mengalami penuaan. Aku merasa suasana begitu puitis. Aku melihat seakan tidak ada yang berubah. Wajahnya persis seperti ketika kami terakhir kali bertemu, hingga kemudian karena sebuah takdir, kami dipertemukan kembali dalam keadaan rindu yang sangat hebat dua tahun yang lalu. Dua tahun yang lalu, tiba-tiba saja ia muncul di Lempuyangan, setelah enam tahun tidak bertemu.
Kebiasaannya tidak berubah. Dan rantang itu. Rantang berwarna kuning, juga tidak berubah. Masih rantang yang sama. Hanya saja, kini ada yang sedikit berbeda. Ia membawa seorang anak yang sudah masuk ke sekolah dasar. Anak kecil itulah anak yang dikandungnya dulu. Aku saat itu dibuatnya kaget dengan perubahan perut yang membesar. Itu delapan tahun yang lalu. Jujur saja, meski aku sudah berkeluarga, ada perasaan yang mengganggu di hatiku saat itu. Semacam kecewa, barangkali.
“Ini dimakan dulu,” katanya. Dua tahun ini, kata-kata yang diucapkan hampir sama saat ia menyodorkan rantang kuningnya. Kali ini ia memasakkanku pecel lengkap dengan kerupuknya.
Perutku yang sudah tidak lagi dapat diajak kompromi mendorongku untuk segera menyantapnya.
“Ayah, kapan Rangga naik kereta?” Pertanyaan itu membuatku hampir tersedak. Aku sudah menjanjikan kepada anak itu—anak perempuan itu—bahwa aku akan mengajaknya naik kereta. Aku berjanji sudah berminggu-minggu yang lalu.
“Sabar, Rangga. Kalau sudah saatnya, Rangga akan naik kereta,” ucap ibunya dengan penuh kesabaran. Itulah salah satu alasan yang kusuka darinya, dari sekian alasan yang tidak dapat kusebutkan. Ia begitu cepat tanggap dan mengerti keadaanku. “Bukan begitu, Yah?”
Aku hanya mengangguk sembari tersenyum dengan mulut yang masih berisi sedikit nasi. Apakah aku sudah menikahi perempuan itu sehingga panggilan "Ayah" tersemat padaku? Jawabannya adalah tidak, atau belum. Di relung hati yang terdalam, aku ingin menikahinya. Hari-hariku hampa semenjak istri dan anak-anakmu meninggal dunia setelah mobil yang dikendarai macet di tengah-tengah rel kereta, dan selang beberapa detik kemudian bunyi sirene tanda kereta api akan lewat terdengar. Mobil dihantam.
Karena aku tahu anak itu tidak mempunyai seorang ayah, akhirnya aku rela dipanggil olehnya "Ayah". Aku tidak masalah jika kelak ia memang menganggapku ayah kandungnya. Biarkan saja. Aku tidak bisa membayangkan seorang anak yang sejak kecil hidup tanpa seorang ayah di sampingnya. Ibunya pernah menyesal kepadaku dalam beberapa kesempatan kami bertemu. Ia menyesal telah terjun ke dalam dunia hitam. Akibat dirinya, seorang anak dipaksa tumbuh tanpa seorang ayah. Perempuan itu sungguh menyesal. Meski tidak mudah, aku selalu dapat menenangkannya saat penyesalannya muncul.
Seperti biasanya, aku hanya punya waktu sebentar untuk berinteraksi dengan perempuan itu dan anaknya. Setelah kembali bertemu dua tahun yang lalu, perempuan itu menjadi sedikit agak cerewet. Tidak seperti dulu yang tidak banyak bicara. Sekarang selalu ada pertanyaan, hari besok aku mau dimasakkan apa? Terkadang aku mengatakan terserah dimasakkan apa, terkadang juga mengatakan kalau aku sedang menginginkan suatu makanan. Atau kalau bukan soal makanan, ia bertanya bagaimana perjalananku.
Aku mengembalikan rantang setelah isinya kulahap habis. Perempuan itu tampak bahagia. Bagiku saat ini, tiada yang lebih indah daripada melihatnya bahagia.
“Ayah, beneran Rangga naik kereta, kan?”
“Iya, Sayang. Pasti Rangga naik kereta. Ayah kan sudah janji,” kataku sembari memposisikan diriku sejajar dengannya. Kami saling bertatap-tatapan.
“Ayahmu tidak pernah ingkar, bukan, kalau sudah janji? Jadi Rangga sabar dulu,” ucap perempuan itu. Aku tersenyum dan mengelus pipi kiri anak kecil itu dengan jari-jemariku. Kemudian, aku mencium pipinya.
Perasaan bahwa anak kecil itu bukan darah dagingku tidak pernah terlintas di benak. Ia seperti anakku sendiri. Benar-benar anakku. Aku pun berbincang dengan perempuan itu, sementara Rangga melihat KRL yang baru saja tiba di Lempuyangan setelah menempuh perjalanan dari Palur. Setelah cukup bercakap-cakap, aku berpamitan. Tiba-tiba anak kecil itu berbicara.
“Ayah, Ayah… Rangga besok mau jadi masinis seperti Ayah,” ujarnya. “Rangga ingin berpakaian gagah seperti Ayah.”
Kalimatnya mengingatkan pada ucapan perempuan itu suatu hari, dulu sebelum ia menghilang. Kala kandungannya berusia lima bulan. Ia ingin anaknya kelak menjadi masinis. Katanya, meski masinis tidak dikenali oleh penumpang kereta api, ia selalu dirindukan kedatangannya.
“Rangga besok kalau sudah besar akan jadi masinis?” tanyaku seolah memastikan.
“Iya, Ayah. Rangga ingin jadi masinis.”
“Rangga ingin jadi masinis tidak disuruh Ibu, kan?”
Ia menggelengkan kepala. Aku mau tidak mau tersenyum. Ingatan soal keinginan perempuan itu tidak juga hilang dari kepala. Keinginan anaknya menjadi seorang masinis.
“Sepertinya cita-citamu akan terkabul. Kamu ingin anakmu menjadi masinis, bukan? Sudah kamu cekoki apa saja?”
“Ngawur! Aku tidak pernah menyuruhnya jadi masinis. Aku hanya ingin saja.” Nada bicara perempuan itu berbau mengelak.
“Kalau kelak itu benar terjadi, kamu senang, kan?”
“Sudah, ah. Sana berangkat!”
Seperti biasa, kami saling melambaikan tangan. Anaknya juga ikut melambaikan tangan. Dua tahun ini antusiasmeku bekerja seperti bertambah berlipat-lipat. Dulu saat perempuan itu menghilang, aku sempat mengira bahwa aku sudah tidak mungkin lagi bertemu, sebab berhari-hari lamanya ia tidak kunjung muncul, bahkan hingga enam tahun kemudian. Lempuyangan kembali menjadi stasiun yang paling spesial bagiku. Sungguh spesial.
***
Sudah kukatakan, aku tidak ingat sama sekali awal aku mengenal perempuan itu hingga ia rajin membawakanku rantang berwarna kuning yang berisi masakan buatannya. Semuanya memang diawali dengan keanehan. Bahkan sampai sekarang, kami masih terlibat dalam keanehan, hanya saja bentuknya lain. Misalnya, kami tidak pernah mengirim pesan lewat ponsel. Perbincangan hanya dilakukan saat di stasiun. Itu pun hanya sebentar. Bukankah dalam hidup sering kali terdapat keanehan-keanehan yang tidak bisa diterima nalar?
Andai saja aku punya wewenang, aku ingin berhenti di Stasiun Lempuyangan lebih lama sebelum melanjutkan perjalanan ke Purwokerto ataupun ke Jember dengan kereta Logawa. Akhir-akhir ini, tidak bisa dimungkiri, aku merasakan ada sesuatu dalam dadaku. Tingkatannya lebih tinggi dari rindu, aku bingung hendak menyebutnya apa.
Hari ini, kereta Logawa tujuan Jember yang kukemudikan sampai di Stasiun Lempuyangan pukul 08.30. Tepat waktu. Dan perempuan itu sudah menanti di peron jalur satu. Ia sendiri tanpa anaknya. Tentunya ini jam-jam sekolah. Kami berjalan menuju sebuah kursi panjang, menghadap ke jalur-jalur perlintasan.
“Ini dimakan dulu,” katanya sembari menyodorkan rantang padaku.
“Masak apa hari ini?” tanyaku sembari membuka tutup rantang. Seharusnya aku tidak perlu bertanya jika pada akhirnya aku membuka.
“Semur ayam spesial.”
“Mengapa harus ada kata spesial?”
“Karena aku memasak untuk seorang masinis yang juga spesial.” Ia begitu ceria. Sangat ceria.
“Eh, tapi serius lho. Masinis itu spesial. Bagaimana tidak? Ia mengantarkan ratusan orang ke tempat tujuan dengan berbagai macam kepentingan,” ucapnya.
Aku menutupnya kembali dan meletakkannya di sampingku.
“Tidak suka?” Wajahnya yang ceria menghilang.
“Bukan begitu.”
Aku semakin meyakini bahwa aku dan dirinya sama. Sama-sama mempunyai keinginan. Keinginan untuk benar-benar bersama dalam arti yang sesungguhnya. Aku meyakini bahwa ia mempunyai rasa khawatir terhadapku. Begitu pun aku. Aku tidak mau masa lalu itu kembali hadir. Aku tidak mau pada waktu kehadiran di Lempuyangan tidak ada lambaian tangan. Aku tidak mau punya perasaan bahwa semua yang terjadi ini adalah ilusi yang sangat mencengangkan. Aku tidak mau timbul pertanyaan, ke manakah ia?
Aku tidak ingin disekap ke dalam ruang kehilangan. Aku tidak mau kenangan pahit hadir. Kehilangan ketika itu sudah cukup membuatku tidak keruan. Aku memeluknya dan mengelus-elus rambutnya. Bayangan-bayangan kehilangan itu semakin jelas dalam kepalaku. Tanpa terasa, mataku basah.