Biji Kecil yang Mengguncang Hutan

Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Biji Kecil yang Mengguncang Hutan
Ilustrasi gambar seekor tupai (Gemini AI/Bank Banana)

Di lereng Gunung Api yang sudah lama diam, hidup seekor tupai bernama Kiri. Ia bukan tupai biasa. Matanya selalu gelisah, mencari sesuatu yang tak pernah ia temukan. Setiap pagi ia memanjat pohon tertinggi, menatap hamparan hutan yang mulai menguning, lalu menghela napas panjang. “Hutan ini sakit,” gumamnya setiap hari, “tapi apa yang bisa kulakukan? Aku hanya tupai kecil.”

Suatu senja, angin membawa sebutir biji kecil berwarna perak ke kakinya. Biji itu tak lebih besar dari kuku jari kelingkingnya. Permukaannya halus, memantulkan cahaya matahari terbenam seperti cermin kecil. Kiri memungutnya, memutar-mutar di telapak tangan. “Apa gunanya biji sekecil ini?” pikirnya. Tapi entah mengapa, ia tak tega membuangnya.

Malam itu hujan deras. Petir menyambar pohon tua di tengah hutan. Api kecil mulai menjilat akar-akarnya. Asap mengepul tipis, tapi cukup membuat burung-burung terbang ketakutan. Kiri terbangun oleh bau hangus. Ia melihat nyala itu dari kejauhan—masih kecil, tapi lapar. Hutan sudah kehilangan banyak pohon karena penebangan dan kekeringan bertahun-tahun. Api ini bisa menjadi akhir.

Tanpa pikir panjang, Kiri berlari ke pohon terbakar sambil menggenggam biji perak itu. Ia naik ke dahan terendah, lalu melompat ke pohon sebelah. Api sudah merayap naik. Panas menyengat bulunya. Ia hampir menyerah, tapi matanya tertuju pada biji di tangannya. “Kalau aku mati di sini, setidaknya aku mencoba,” katanya pada diri sendiri.

Kiri menggigit biji itu sekuat tenaga, lalu menjatuhkannya tepat ke celah kulit pohon yang terbakar. Biji itu jatuh ke dalam lubang kecil yang terbuka karena panas, tepat di tempat api paling ganas. Lalu ia berlari menjauh, terbatuk-batuk karena asap.

Pagi harinya, api sudah padam. Pohon besar itu hangus separuh, tapi masih berdiri. Penduduk hutan berkumpul, berbisik kagum. “Bagaimana bisa api sekecil itu mati begitu cepat?” tanya seekor rusa. Tak ada yang tahu jawabannya.

Tiga hari kemudian, dari celah kulit pohon yang hangus itu muncul tunas hijau mungil. Bukan tunas biasa. Daunnya bercahaya samar seperti mutiara. Semakin hari, tunas itu tumbuh cepat. Akarnya merayap di bawah tanah, mencari air yang tersisa di lapisan dalam. Daun-daunnya melebar, menangkap embun pagi dan mengembalikannya ke tanah dalam bentuk tetesan yang jernih.

Hewan-hewan mulai mendekat. Burung kecil hinggap di dahan pertamanya. Katak-katak kecil memanjat akarnya yang basah. Bahkan serangga yang biasanya menghindar dari pohon mati kini berkumpul di situ. Pohon kecil itu tak hanya tumbuh—ia menyembuhkan.

Seminggu kemudian, akar-akarnya menyentuh akar pohon-pohon lain yang sudah lama kering. Seperti tangan yang saling bergandengan, ia mengalirkan air dan nutrisi yang ia tarik dari dalam bumi. Daun-daun di sekitarnya mulai hijau kembali. Bunga-bunga yang sudah lama tak mekar perlahan membuka kelopaknya. Aroma manis menyebar, membangunkan lebah yang sudah lama tak terlihat.

Kiri duduk di batu dekat pohon itu, tak percaya. Ia hanya menjatuhkan satu biji kecil. Satu biji yang bahkan tak ia tahu dari mana asalnya. Tapi pohon itu terus tumbuh, semakin tinggi, semakin lebar. Dahan-dahannya melengkung membentuk kanopi alami yang menaungi seluruh lereng. Burung-burung bersarang di sana. Monyet-monyet kecil bermain ayunan di ranting-ranting mudanya. Bahkan harimau tua yang biasanya menyendiri kini sering terlihat tidur di bawah naungannya.

Suatu malam, saat bulan purnama, semua hewan berkumpul di bawah pohon itu. Pohon kecil yang kini sudah setinggi menara kecil itu bergetar pelan. Daun-daunnya bercahaya lebih terang. Lalu terdengar suara lembut, seperti bisikan angin, tapi jelas terdengar oleh semua.

“Terima kasih, Kiri. Hal kecil yang mengubah segalanya sering kali tak terlihat sampai ia selesai bekerja.”

Kiri menatap pohon itu dengan mata berkaca-kaca. Ia tak pernah menceritakan kepada siapa pun bahwa ia hampir menyerah malam itu. Ia tak pernah mengira biji sekecil itu bisa melakukan apa yang tak bisa dilakukan oleh gajah, harimau, atau bahkan sungai yang sudah mengering.

Pohon itu terus tumbuh. Akar-akarnya kini mencapai lereng sebelah, menyentuh mata air yang hilang puluhan tahun lalu. Air mulai mengalir lagi. Sungai kecil muncul, membelah hutan yang dulu gersang. Ikan-ikan kecil kembali berenang. Rumput liar tumbuh subur di tepiannya. Hutan yang hampir mati kini bernapas kembali.

Kiri tak lagi gelisah setiap pagi. Ia hanya duduk di bawah pohon itu, memandang daun-daun yang bercahaya samar. Kadang ia tersenyum kecil, mengingat malam ketika ia memutuskan untuk tidak menyerah.

Hewan-hewan lain mulai memanggil pohon itu dengan nama berbeda-beda. Ada yang menyebutnya Pohon Perak. Ada yang menyebutnya Pohon Harapan. Tapi bagi Kiri, ia hanya memanggilnya “Biji”.

Dan setiap kali angin bertiup, daun-daun itu berdesir pelan, seolah mengingatkan semua yang mendengar:

Hal kecil yang mengubah segalanya tak pernah meminta izin untuk datang. Ia hanya menunggu seseorang—siapa pun—berani menjatuhkannya ke tempat yang tepat, pada waktu yang tepat.

Kiri tahu itu sekarang. Dan hutan tahu itu selamanya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak