Kamu tahu, cermin cenderung berhasil mengungkapkan suatu identitas. Bahkan ketika identitas itu disimpan rapat-rapat, ditutup lekat-lekat, hingga disamarkan oleh topeng yang sulit di deteksi. Cermin, selalu berhasil mengetahuinya.
Barangkali, Friska sedang terperangah sesaat. Begitu dia memandangi cermin, dimana hadir suatu entitas yang lain.
“Skill-ku berkurang sepertinya,” gumam Friska seraya menyesap kopi. “Dulu perasaan gampang sekali nulis kata-kata.”
“Habisnya, dulu novel sudah mau terbit, malah ditarik. Mana kena penalti kan?” imbuh Tika.
Friska terkekeh. “Novel terkutuk sih.”
Tika tampak mencelupkan roti tawar ke kopi hitam sebelum memakannya. “Kamu dulu kan bagus di romansa, komedi, atau fantasi ala-ala begitu. Nyalimu besar juga menulis tema horor.”
“Namanya juga mencari angin lain.” Friska lantas memijat pelipisnya. “Tulisanku selalu ada unsur Adrian-nya. Makanya kucari tema baru.”
Tika, tertawa terbahak.
Sejak mengenal Adrian, salah satu kawan SMA yang seperti punya aura sendiri, Friska memang selalu menyelipkan unsur tentangnya. Entah pada perwatakan tokoh, penampilan tokoh, atau apapun yang didasarkan pada eksistensi Adrian. Friska juga mengakui dengan sadar, bahwa dia memiliki kekaguman pada kawannya tersebut.
Namun, kisah pertemanan mereka kemudian runtuh oleh suatu hal yang masih memberikan luka. Semata-mata bukan karena Adrian memilih hati yang lain. Namun alasannya mendekat dan berteman dengan Friska, yang rupanya menjadi umpan untuk membuat seseorang cemburu. Hingga melahirkan rumor-rumor menyesakkan dada.
Dari situ, Friska melemparkan lumpur ke muka Adrian. Dengan cara mencatut namanya sebagai penjahat dalam sebuah novel yang di posting di platform online, dan membiarkan semua orang tahu.
“Masih belum bisa melupakannya?” tanya Tika skeptis. “Seharusnya belum ya. Walau sudah sepuluh tahun.”
“Sialan!”
Sampai hari ini pun, Friska masih mengingat segalanya tentang Adrian. Latar belakang keluarga militernya, tinggi badan, mimpi dan cita-cita di masa depan, sorot mata mirip lemur yang bisa berubah menjadi husky atau serigala. Termasuk momen saat Adrian meminta maaf, dan meminta agar novel online itu di takedown.
“Aku bukan perebut kekasih orang. Tapi mereka bilang begitu.”
Tika menepuk pundak Friska. “Aku tahu kamu tidak salah. Namun, memangnya kamu bisa mengendalikan mulut orang?”
Friska menggeleng.
“Kamu juga tidak salah saat memutuskan untuk menulis fantasi horor itu, demi menghindari unsur Adrian. Namun, ada satu kesalahan fatal.”
“Aku tahu.”
Friska terjebak pada rumor yang membuatnya nyaris gila. Ditambah dengan nilai sekolah yang jatuh, dan gagal lolos ujian masuk universitas. Friska kemudian bekerja di sebuah toko, dimana terjadi senioritas dan fisiknya tidak cukup mumpuni. Ada juga guncangan dari pertikaian internal keluarga, dan eksternal dengan tetangga.
Pelariannya kala itu hanyalah menulis. Dengan tema fantasi horor, Friska mencampurkan keluh kesah, imajinasi tergelap, dan emosi campur aduknya. Barangkali karena energi gelap itulah, sosok-sosok tak kasat mata yang seharusnya diam justru ikut terjaga.
Tadinya, novel itu berhasil lolos perlombaan dan masuk redaksi untuk antrean terbit. Namun, dalam masa editing, Friska menyesal. Menyesal pada energi gelap yang membuatnya ketakutan. Tidak ada tidur nyenyak, tidak ada nafsu makan. Dia betul-betul mirip pasien rumah sakit jiwa. Menangis, tertawa, ketakutan, tapi tetap menggunakan topeng ramah di tempat bekerja.
Setelah itu, Friska berpisah dengan dunia fiksi. Tidak ada lagi karya fiksi yang lahir dari tangannya.
“Terlalu banyak minum kopi bisa membuat gila,” kata Tika. “Ah iya, kamu sendiri sudah gila.”
“Aku cuma perlu mencari inspirasi, supaya bisa menulis lagi. Sudah bertahun-tahun, tanganku pensiun dari fiksi.”
Tika tersenyum. “Coba kamu lihat ke sekitar. Bunga songgolangit, patikan kebo, rumput-rumput ginting, tapak liman, atau bahkan perdu bunga telang bisa kamu jadikan puisi.”
“Aku maunya menulis cerita fiksi. Bukan puisi!” Friska bersikukuh. “Tapi tanganku tidak lagi bisa menulis baris-baris fiksi. Skill-ku hilang!”
Tika lantas menghabiskan kopinya. “Setahuku, kamu punya banyak pengalaman misteri dan horor di masa lalu? Atau mimpi-mimpi yang mirip dunia fantasi? Kamu bisa menggunakannya kan?”
Friska terdiam. “Betul juga.”
“Kudengar, ada situs online dari Yoursay yang membuka kanal cerita fiksi dan misteri. Kamu bisa mencoba peruntungan disana.”
Senyum Friska merekah. Barangkali, dia tidak lagi bisa menciptakan fiksi-fiksi baru. Namun, apa yang sudah dia alami selama ini, tentulah bisa diadaptasi menjadi suatu karya tulis. Bisa dibilang, dia menambang ingatan lama. Yah, meski masih ada beberapa unsur Adrian di dalamnya. Namun, setelah sepuluh tahun, seharusnya dendam itu terkikis kan?
“Apa bisa berhasil?” tanya Friska ragu. “Sainganku berat. Penulis disini sudah memiliki ratusan bahkan ribuan artikel.”
Tika berdecak. “Coba dulu saja. Ingat apa yang pernah dikatakan Adrian? ‘Kita ya kita. Jadilah diri sendiri’.”
“Mulutmu!” Friska kemudian meraih ponsel dan mulai membuka aplikasi GoDocument, sebelum menoleh dan memicingkan mata. “Jangan-jangan, kamu menyukai Adrian ya?”
Tika tercenung. Mirip orang yang rahasinya tidak sengaja terbongkar, sebelum tertawa terbahak. “Nyaris semua orang tahu aku menyukai Adrian. Kamu sendiri pun tahu.”
Friska kemudian menatap Tika lama. Tepatnya pada cermin buram yang menempel di sebuah lemari kayu tua. Barangkali, Friska sedang terperangah sesaat. Begitu dia memandangi cermin, hadir seorang perempuan yang memegang cangkir kopi, sendirian di ruangan ini.
Senyumnya keluar sekejap, lalu teringat kata-kata mutiara dari internet yang sempat dia baca tempo waktu. Kata-kata yang dia posting sendiri.
Cermin selalu berhasil menguak identitas tersembunyi.
"Tadi, aku mau melakukan apa, ya?"