Menara Pisa berdiri miring seperti biasa, menantang logika dan waktu, ketika Alessia melangkah pelan di antara kerumunan wisatawan. Dari sudut pandang siapa pun, menara itu tampak rapuh, seolah-olah bisa roboh jika disentuh angin yang salah. Namun, bagi Alessia, kemiringan itu justru terasa jujur, seperti pengakuan bahwa tidak semua hal harus tegak untuk tetap bertahan. Ia berhenti sejenak, membiarkan pandangannya mengikuti garis menara yang condong, merasakan denyut aneh di dadanya, seperti perasaan yang sudah lama ingin diakui.
Alessia datang ke Pisa bukan untuk berfoto atau mengikuti tur. Ia membawa sebuah buku catatan kecil di dalam tasnya, buku yang sudah menemaninya sejak bertahun-tahun lalu. Di halaman-halaman buku itu tersimpan sketsa, kalimat pendek, dan kenangan yang belum pernah benar-benar ia pahami. Ada coretan tentang kegagalan, tentang keputusan yang diambil terlalu cepat, dan tentang keheningan yang datang setelah semuanya runtuh. Menara Pisa hanyalah satu titik di peta perjalannya, namun entah mengapa, tempat itu memanggilnya lebih keras daripada kota-kota lain.
Ia memilih duduk di bangku kayu yang menghadap langsung ke menara. Dari sana, Alessia mengamati orang-orang yang datang dan pergi. Ada yang tertawa, ada yang sibuk mengatur sudut kamera, ada pula yang hanya berdiri terpaku beberapa detik sebelum berlalu. Semua tampak singkat dan sementara. Alessia membuka buku catatannya, menggambar garis miring yang tidak sempurna, lalu berhenti, seolah-olah menyadari bahwa dirinya juga tidak pernah benar-benar selesai digambar.
Di sisi lain lapangan, Antonio berdiri sambil memperhatikan bayangan menara yang jatuh miring di atas rumput. Ia bekerja sebagai pemandu wisata lepas, sudah bertahun-tahun menghafal sejarah menara itu, dari kesalahan fondasi hingga usaha panjang untuk menyelamatkannya agar tidak runtuh. Ia sering menceritakan kisah yang sama berulang-ulang. Ia hafal angka, tahun, dan istilah teknis, namun belakangan ia merasa semua itu terasa kosong. Setiap hari ia mengulang cerita yang sama, seakan-akan hidupnya berjalan dalam lingkaran yang tidak pernah berubah. Hari itu, pikirannya seakan melayang. Ada sesuatu tentang menara itu yang selalu mengingatkannya pada hidupnya sendiri, yang juga terasa tidak pernah benar-benar lurus.
Antonio menghela napas pelan. Ia mencintai pekerjaannya, namun ada rasa jenuh yang tidak bisa ia jelaskan. Menara itu mengingatkannya pada dirinya sendiri, seseorang yang tetap berdiri, tetapi dengan arah yang tidak pernah ia rencanakan. Saat itulah, matanya menangkap sosok Alessia yang duduk sendirian, menulis tanpa tergesa-gesa, tidak seperti wisatawan lain yang berlomba menangkap momen.
Ketika Alessia duduk di bangku dekat menara dan membuka buku catatannya, Antonio memperhatikannya dari jauh. Perempuan itu tidak sibuk mengambil foto seperti wisatawan lain. Ia hanya menulis, sesekali mendongak, menatap menara dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. Rasa penasaran membuat Antonio mendekat dan menawarkan bantuan, sekadar bertanya apakah Alessia ingin mendengar cerita tentang menara tersebut.
Alessia tersenyum dan menggeleng pelan. Ia berkata bahwa ia sudah membaca banyak hal tentang Menara Pisa, tetapi ia datang untuk alasan lain. Antonio tidak memaksa. Ia duduk di bangku yang sama, membiarkan keheningan mengisi jarak di antara mereka. Dari tempat itu, kemiringan menara terlihat lebih jelas, seakan-akan menara itu sedang bersandar pada langit. Alessia mengamati detail batu-batunya, retakan kecil yang dibiarkan ada, dan bekas usia yang tidak dihapus. Ia merasa sedang bercermin, melihat dirinya sendiri dalam wujud bangunan tua yang tetap dikunjungi meski tidak sempurna.
Alessia akhirnya bercerita. Bukan karena ditanya, tetapi karena suasana membuatnya ingin berbagi. Ia mengatakan bahwa hidupnya pernah runtuh perlahan, bukan karena satu kejadian besar, melainkan karena kesalahan kecil yang dibiarkan menumpuk. Ia merasa seperti menara itu; dibangun dengan niat baik, namun berdiri di atas fondasi yang tidak pernah benar-benar kuat.
Antonio mendengarkan tanpa menyela. Ia menyadari bahwa tidak semua wisatawan datang untuk melihat bangunan, sebagian datang untuk melihat diri mereka sendiri melalui sesuatu yang lebih besar. Ia lalu menceritakan bagaimana menara itu tidak pernah diperbaiki dengan cara diluruskan sepenuhnya. Para insinyur memilih menstabilkannya, membiarkannya miring, namun tetap aman untuk berdiri.
Kata-kata itu tinggal di benak Alessia. Ia menatap Menara Pisa sekali lagi, kali ini dengan perasaan yang berbeda. Ia memahami bahwa mungkin hidup tidak perlu selalu diperbaiki sampai sempurna. Cukup dijaga agar tidak runtuh. Saat matahari mulai condong ke barat dan bayangan menara memanjang, dua orang asing itu duduk diam, sama-sama menemukan makna di balik kemiringan yang selama ini dianggap cacat.
Saat lonceng gereja di kejauhan berdentang pelan, angin sore berembus membawa aroma rumput dan batu tua. Alessia menutup buku catatannya, lalu menulis satu kalimat terakhir sebelum menyimpannya kembali ke dalam tas. Antonio berdiri lebih dulu, menatap menara dengan senyum samar, seolah-olah sedang berpamitan pada sahabat lama. Mereka tidak saling bertanya apakah akan bertemu lagi, karena pertemuan itu terasa cukup dengan sendirinya. Menara Pisa tetap berdiri miring di belakang mereka, menjadi saksi bahwa ada pertemuan yang tidak dimaksudkan untuk berlanjut, tetapi cukup untuk mengubah cara seseorang memandang hidup.