Angkot itu sudah tua bahkan sebelum aku cukup besar untuk duduk di bangku depan. Cat birunya pudar, sebagian terkelupas hingga menampakkan warna hijau entah dari tahun berapa.
Pintu gesernya sering macet, harus ditarik sambil memaki pelan. Namun setiap pagi, bapak tetap menyalakan mesin yang batuk-batuk itu seperti menyapa kawan lama.
Bapak menyebut angkot itu dengan nama, si Biru. Bukan nama resmi, hanya panggilan yang ia ucapkan dengan nada berbeda dari saat ia memanggil orang lain. Ada rasa sabar di sana. Kadang juga lelah.
Aku sering ikut bapak sejak kecil. Duduk di belakang, menghitung koin receh, atau memandangi jalanan yang berubah pelan-pelan. Dari jendela angkot, dunia terasa bergerak lebih lambat.
Orang-orang naik dan turun dengan cerita masing-masing. Ada ibu yang membawa belanjaan berlebih, anak sekolah yang tertidur sambil memeluk tas, ada juga buruh dengan seragam kusam dan mata yang berat.
Bapak orangnya tidak banyak bicara dan lebih sering menyimpan pikirannya sendiri. Tangannya hafal setiap lubang jalan, seolah aspal itu bagian dari ingatan tubuhnya.
Kakinya tahu kapan harus mengerem bahkan sebelum mata sempat benar-benar menangkap bahaya. Kadang ia bersenandung pelan, lagu lama dengan nada yang goyah, tapi selalu setia menemani perjalanan.
Angkot itu saksi hidup bapak. Dari saat ibu masih ada, duduk di kursi depan sambil mengingatkan bapak jangan ngebut, sampai hari ketika kursi itu kosong dan tidak pernah terisi lagi. Setelah ibu pergi, bapak tetap menarik angkot. Tidak ada cuti untuk kehilangan.
Aku ingat satu sore ketika hujan turun tiba-tiba. Jalanan macet, penumpang sepi. Bapak memarkir angkot di pinggir, mematikan mesin, lalu menatap kaca depan yang buram oleh air. Aku bertanya kenapa berhenti. Bapak berkata mesin perlu beristirahat. Namun kala itu aku paham bahwa yang lelah bukan hanya mesin.
Tahun demi tahun berjalan. Angkot bapak semakin sering mogok. Bapak semakin sering batuk. Bengkel sudah seperti rumah kedua, tapi setiap perbaikan selalu ditunda seminimal mungkin. Katanya masih bisa jalan, rasanya sayang kalau dilepas.
Orang-orang mulai bicara tentang angkot yang akan digantikan. Transportasi baru, lebih cepat, lebih bersih. Penumpang berkurang. Setoran makin berat. Bapak pulang lebih malam dengan uang lebih sedikit, tapi wajahnya tetap sama, datar namun keras kepala.
Aku tumbuh, sekolah, lalu bekerja. Angkot itu tetap ada di sana. Setiap kali aku pulang, bapak masih berangkat pagi-pagi dengan jaket lusuhnya. Aku pernah menyarankan agar ia berhenti dan beristirahat.
Ia semakin tua dan tenaganya sudah tak sebesar kala ia muda dulu. Tapi bapak hanya tersenyum dan berkata, kalau tidak menarik angkot, ia tidak tahu harus ke mana.
Suatu pagi, mesin si Biru benar-benar mati di tengah jalan. Tidak bisa lagi dibujuk. Tidak bisa lagi didorong. Penumpang turun satu per satu dengan wajah kesal, lalu pergi. Bapak duduk lama di balik kemudi, memegang setir seperti memegang tangan seseorang yang sudah dingin.
Kami pun membawa angkot itu pulang dengan derek. Parkir di depan rumah, miring sedikit, seperti orang tua yang tertidur tidak nyaman. Hari-hari setelahnya, bapak tidak ke mana-mana. Ia duduk di teras, menatap jalan. Tidak lagi bangun subuh. Tidak lagi pulang sore.
Suatu malam, aku melihat bapak membersihkan angkot itu sendirian di bawah lampu rumah yang remang-remang. Ia mengelap dashboard dengan kain tua, menyapu lantai yang sudah hafal jejak sepatu penumpang, lalu membetulkan spion yang sejak lama retak. Gerakannya pelan dan telaten, tanpa tergesa, seolah ia sedang berpamitan dan menyiapkan segalanya untuk terakhir kali.
Keesokan harinya, ada pembeli datang. Bukan untuk dipakai. Untuk dibongkar. Besi tua, kata mereka. Bapak mengangguk, menandatangani kertas, menerima uang yang tidak sebanding dengan waktu.
Saat angkot itu dibawa pergi, bapak berdiri lama di tepi jalan tanpa bergerak. Tangannya gemetar sedikit, entah karena usia atau karena menahan sesuatu yang tidak sempat keluar.
Aku ingin mengatakan sesuatu untuk menghentikan sunyi itu, tapi tidak tahu harus mulai dari mana, lidahku terasa kaku. Kehilangan yang satu ini tidak punya kata, hanya rasa yang tinggal dan tidak bisa dijelaskan.
Sekarang bapak sudah jarang keluar rumah. Kadang kami duduk bersama di teras. Tidak ada percakapan panjang, hanya mendengar suara kendaraan yang lewat.
Namun setiap kali angkot biru lain melintas, bapak selalu menoleh perlahan. Matanya mengikuti kendaraan itu sampai hilang di tikungan, seolah ada bagian dirinya yang masih ikut berjalan di sana, menyusuri rute yang sudah tak lagi ia lalui.
Aku tahu, sebagian hidup bapak ikut pergi hari itu. Meski angkot tua itu sudah tidak ada, suaranya masih tertinggal, dalam batuk mesin yang samar di ingatan, dan dalam cara bapak selalu bangun pagi, meski tidak lagi punya tujuan.