Sejak kecil, Arka dan Arsha dikenal sebagai anak kembar yang sulit dibedakan. Wajah mereka sama, suara mereka mirip, bahkan kebiasaan mereka sering saling mengulang tanpa sadar. Mereka terbiasa berbagi segalanya, mulai dari mainan, tempat tidur, hingga rahasia kecil yang hanya mereka pahami berdua. Bagi orang lain, mungkin mereka hanya sekadar dua anak kembar. Namun, bagi Arka dan Arsha, mereka adalah satu dunia yang dibagi ke dalam dua tubuh.
Kebahagiaan itu berhenti pada suatu hari yang mendung, ketika keputusan orang dewasa memisahkan hidup mereka. Perceraian orang tua mereka datang tanpa benar-benar memberi ruang bagi dua anak kecil itu untuk mengerti. Arka ikut Ayah ke kota lain, sementara Arsha tinggal bersama Ibu di rumah lama yang perlahan terasa sunyi. Perpisahan itu terjadi terlalu cepat, tanpa pelukan panjang atau janji untuk bertemu kembali. Yang tertinggal hanyalah pintu yang tertutup dan jarak yang tiba-tiba terasa sangat jauh.
Tahun-tahun berlalu tanpa kabar. Arka tumbuh menjadi anak pendiam yang terbiasa memendam perasaan. Ia belajar bahwa bertanya terlalu banyak hanya akan membuat segalanya lebih rumit. Di kota barunya, Arka jarang bercerita tentang keluarganya. Ia memilih diam ketika teman-temannya berbicara tentang saudara, seolah-olah topik itu terlalu sensitif untuk disentuh. Setiap malam, ia sering terbangun dengan perasaan kehilangan yang tidak bisa ia jelaskan.
Arsha tumbuh menjadi remaja yang terlihat ceria, mudah tertawa, dan mudah bergaul. Namun, di balik itu, selalu ada bagian dirinya yang kosong. Ia sering merasa seperti ada yang kurang, seperti lupa membawa sesuatu yang penting. Di rumah lama itu, Arsha masih menyimpan barang-barang kecil milik Arka; sebuah buku, kaus lama, dan foto buram yang warnanya mulai memudar. Ia tidak pernah membuangnya, seolah-olah takut jika ia melakukannya, Arka akan benar-benar hilang.
Keduanya menjalani hidup masing-masing tanpa benar-benar tahu bagaimana kabar separuh diri mereka. Namun, ada kebiasaan kecil yang sama-sama mereka miliki. Setiap kali merasa sedih tanpa alasan, mereka akan menatap cermin lebih lama dari biasanya, mencari sesuatu yang tidak bisa mereka sebutkan.
Suatu hari, terdapat pertemuan yang terjadi tanpa rencana. Di sebuah acara keluarga besar yang sudah lama tidak dihadiri, Arka datang dengan enggan, lebih karena rasa sungkan daripada keinginan. Aula itu ramai, dipenuhi suara tawa dan obrolan yang terasa asing baginya. Saat ia melangkah masuk, pandangannya tertuju pada seseorang di seberang ruangan. Seorang remaja dengan wajah yang terlalu mirip dengannya untuk dianggap kebetulan.
Arsha juga merasakan hal yang sama. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika matanya bertemu dengan mata Arka. Dunia di sekeliling mereka seakan melambat. Tidak ada yang perlu diperkenalkan, tidak ada pertanyaan pembuka. Mereka saling menatap, ragu namun yakin, seolah-olah sedang menatap pantulan diri sendiri yang telah lama hilang.
“Itu…,” gumam Arsha pelan, hampir tidak terdengar.
Mereka saling menatap cukup lama. Dunia terasa mengecil, suara di sekitar menjadi samar. Arka melangkah lebih dulu, langkahnya berat namun pasti.
“Arsha?” ucapnya hati-hati, seperti takut namanya salah.
Arsha menelan ludah. “Arka…?” suaranya bergetar, lalu ia tersenyum kecil. “Beneran kamu?”
Arka mengangguk. “Aku kira… aku kira aku cuma kebayang.”
Arsha tertawa pendek, tetapi matanya berkaca-kaca. “Aku juga sering merasa gitu.”
Mereka duduk berdampingan di sudut aula, canggung namun hangat. Ada jeda panjang sebelum Arsha akhirnya berkata, “Kamu kelihatan beda.”
“Kamu juga,” jawab Arka pelan. “Lebih tinggi.”
“Hah, kamu juga,” Arsha tersenyum. “Tapi… kamu kelihatan lelah.”
Arka terdiam sejenak. “Sendirian itu melelahkan.”
Arsha menunduk. “Aku juga merasa sendirian, padahal selalu ada orang.”
Kata-kata itu membuat Arka menoleh. “Serius?”
“Iya,” jawab Arsha jujur. “Kayak ada yang kurang, tapi aku tidak tahu apa.”
Arka mengangguk pelan. “Aku mengerti.”
Mereka mulai bercerita. Arka tentang kota baru dan malam-malam sepi. Arsha tentang rumah lama dan rasa iri melihat orang lain punya saudara. Sesekali mereka tertawa kecil, sesekali terdiam, membiarkan perasaan mengendap.
“Kenapa, ya, kita dipisahkan?” tanya Arsha lirih.
Arka menggeleng. “Aku tidak tahu. Tapi aku sering berpikir, apa hidup bakal beda kalau kita bareng?”
Arsha menatapnya lalu mengangguk. “Menurutku iya. Tapi mungkin… kita ketemu sekarang karena sudah siap.”
Kalimat itu membuat Arka tersenyum untuk pertama kalinya tanpa rasa berat. Saat senja menghampiri, mereka berdiri di luar aula. Angin sore berembus pelan.
“Kita tidak bakal pisah lagi, kan?” tanya Arsha.
“Enggak,” jawab Arka mantap. “Aku tidak mau. Aku bakal sering menulis surat buat kamu. Jangan lupa dibalas, ya, Sha.”
Arsha mengangguk dengan cepat lalu mengulurkan tangan. Arka menerimanya. Genggaman itu sederhana, tetapi terasa lengkap.
Ketika mereka berpisah sore itu, tidak ada janji berlebihan. Hanya keyakinan kecil bahwa jarak kali ini tidak akan memutuskan mereka. Karena meski waktu telah merenggut banyak hal, ikatan itu tetap ada. Pada akhirnya, Arka dan Arsha tahu, mereka tidak lagi berjalan sendirian.