Aku Menemukan Sahabat di Tengah Hutan, Tapi Dia Bukan Manusia

M. Reza Sulaiman | Sendi Sudrajat
Aku Menemukan Sahabat di Tengah Hutan, Tapi Dia Bukan Manusia
Ilustrasi gambar [gemini]

Ada hari-hari ketika hidup terasa terlalu bising, padahal kita sedang sendirian di dalam kamar. Hari itu adalah salah satunya. Kepala rasanya penuh dengan benang kusut seperti tuntutan pekerjaan, drama pertemanan, hingga pertanyaan "mau jadi apa" yang tak kunjung ketemu jawabannya.

Daripada meledak, aku memutuskan untuk kabur sejenak. Aku membawa motor tanpa tujuan jelas, hingga akhirnya berbelok masuk ke sebuah hutan kecil di pinggir kota. Ini bukan hutan wisata yang penuh dengan spot selfie atau pedagang bakso bakar. Bukan juga hutan lindung dengan papan petunjuk resmi. Ini hanya sisa jalur tanah dengan pepohonan tinggi yang tumbuh liar, dan suara alam yang tidak peduli apakah kamu sedang baik-baik saja atau tidak.

Tujuanku sederhana, yaitu menenangkan isi kepala yang nyaris mengalami korsleting.

Hutan yang Terlalu Tenang untuk Menjadi Nyata

Awalnya biasa saja. Angin tipis menyapa kulit, daun-daun bergesekan menciptakan musik alami, dan langkah kakiku sendiri yang terdengar terlalu jelas di atas ranting kering. Tidak ada sinyal internet, tidak ada notifikasi WhatsApp yang menuntut dibalas cepat. Rasanya seperti dunia sengaja mematikan tombol “ganggu” untukku.

Aku berjalan cukup jauh sampai menemukan sebuah batang kayu tua yang sudah tumbang dan retak. Batang itu besar, dilapisi lumut hijau tebal yang terlihat empuk. Jamur putih kecil tumbuh di sisinya, terlihat rapuh tetapi entah kenapa mampu bertahan hidup di tempat selembap itu. Aku duduk di sana, memperhatikan detail kecil itu lama sekali, seolah otakku sedang belajar cara berhenti berpikir berat.

Suasana hening sekali, sampai kemudian aku mendengar suara lain. Bukan suara binatang yang biasa kita dengar di dokumenter alam. Bukan kicau burung, bukan pula dengung serangga. Suara itu lebih seperti… helaan napas kecil. Pelan, ragu, tetapi nyata.

Sesuatu di Balik Retakan Kayu

Aku menajamkan telinga, mencari sumber suara. Perlahan, aku mendekat ke arah pangkal batang kayu tempatku duduk. Ada lubang alami di sana. Gelap, sempit, dan tampak kosong sampai sepasang mata kecil memantulkan cahaya matahari sore yang menerobos kanopi pohon.

Aku refleks mundur setengah langkah karena kaget. Jantungku berdegup kencang, takut itu ular atau hewan buas. Namun, dari dalam lubang itu, perlahan muncul makhluk kecil. Tubuhnya tidak lebih besar dari botol minum ukuran sedang. Sisiknya berkilau samar, warnanya unik seperti campuran merah bata dan oranye yang lembut, bukan warna mencolok yang menakutkan. Matanya besar, bulat sempurna dengan pupil vertikal, dan… terlihat penasaran.

Dia menatapku sama bingungnya seperti aku menatap dia. Kami saling mengunci pandangan selama beberapa detik.

“Apa kamu… nyata?” gumamku, setengah berbisik, takut suaraku memecah keajaiban itu.

Makhluk itu memiringkan kepalanya ke kanan. Gerakannya kikuk, patah-patah, tetapi lucu. Tidak ada aura mengancam sama sekali. Tidak ada raungan garang. Tidak ada semburan api meski bentuknya sedikit mengingatkanku pada naga di film kartun. Hanya makhluk kecil yang terlihat lebih takut pada manusia raksasa di depannya ini.

Pertemuan yang Tidak Direncanakan

Entah kenapa, rasa takutku menguap. Aku duduk lagi di tanah, menyejajarkan tinggiku dengannya. Tidak kabur. Tidak panik. Mungkin karena aku terlalu lelah mental untuk merasa takut, atau mungkin karena aku merasa… tidak sendirian untuk pertama kalinya hari itu.

Tangan kananku merogoh tas, mengeluarkan sebungkus biskuit gandum sisa bekal. Tanpa berpikir panjang, aku remukkan sedikit biskuit itu, meletakkannya di tanah yang berjarak sejengkal darinya, lalu aku mundur perlahan.

Makhluk itu diam sebentar. Hidung kecilnya bergerak-gerak lucu, mengendus aroma asing itu. Pelan-pelan, dia melangkah maju. Dia menjilat remah biskuit itu, ragu sejenak, lalu menggigitnya. Bunyi krak kecil terdengar.

Aku tertawa kecil melihatnya. “Tenang aja, aku nggak jahat. Itu enak kok, nggak ada racunnya,” kataku, meski sadar betapa konyolnya berbicara pada hewan liar.

Tetapi dia seolah paham. Dia mengunyah dengan wajah serius, seolah itu adalah tugas kenegaraan yang penting. Sesekali ekor panjangnya bergoyang pelan menyapu tanah. Dia tidak sadar kalau tingkahnya itu terlihat sangat menggemaskan.

Teman Tanpa Nama dan Tanpa Penghakiman

Kami tidak bicara. Tentu saja, karena dia tidak bisa bahasa manusia. Namun anehnya, di keheningan itu, aku merasa dimengerti. Jauh lebih dimengerti daripada saat mencurahkan isi hati kepada teman yang sibuk bermain ponsel.

Mulutku mulai terbuka, dan kata-kata meluncur begitu saja. Aku bercerita tentang bos yang semena-mena, pekerjaan yang menumpuk tetapi gaji hanya "numpang lewat", ekspektasi orang tua yang beratnya minta ampun, hingga rasa lelah yang tidak kelihatan lukanya dari luar.

Aku bicara sambil menatap tanah, sesekali menatap dia yang masih sibuk dengan biskuitnya. Dia hanya mendengarkan. Kadang dia mendekat sedikit, menatapku dengan mata bulatnya itu. Kadang dia bersin kecil—dan sumpah, aku melihat percikan asap tipis keluar dari hidungnya yang langsung hilang tertiup angin.

Tidak ada penilaian dari tatapannya. Tidak ada kalimat klise, "Sabar ya, namanya juga hidup." Tidak ada saran, "Kamu harusnya begini, harusnya begitu." Hanya hadir. Murni kehadiran fisik yang menemani. Ternyata, itu yang aku butuhkan selama ini. Bukan solusi cerdas, melainkan telinga yang tidak menyela.

Saat Aku Harus Pergi

Matahari mulai turun, mengubah warna langit di sela dedaunan menjadi jingga keemasan. Hutan mulai menggelap. Suara jangkrik mulai terdengar menggantikan burung siang. Aku tahu aku tidak bisa tinggal lebih lama, atau aku akan tersesat dalam gelap.

Aku membersihkan celana, lalu berdiri perlahan. Makhluk kecil itu mendongak menatapku, lalu mundur teratur kembali ke dekat lubang persembunyiannya.

“Aku harus pulang,” kataku pelan, ada rasa berat di dada karena harus meninggalkan ketenangan ini. “Terima kasih ya, sudah mau dengerin ocehanku. Biskuitnya abisin aja.”

Dia mengeluarkan suara kecil seperti decitan lembut, entah apa artinya. Lalu dia masuk kembali ke lubang kayu itu. Namun sebelum ekornya sepenuhnya menghilang ke dalam kegelapan batang pohon, dia menoleh sebentar. Hanya sedetik, tetapi tatapan itu seolah mengucapkan selamat jalan.

Pulang dengan Perasaan Berbeda

Perjalanan pulang terasa surealis. Aku kembali membelah kemacetan kota, disambut klakson angkot, lampu merah yang lama, dan notifikasi ponsel yang kembali hidup memberondong pesan. Secara teknis, tidak ada yang berubah. Masalahku tidak langsung selesai hanya karena aku memberi makan hewan aneh di hutan. Bosku mungkin besok masih galak. Cicilan motor masih harus dibayar.

Namun, dadaku terasa jauh lebih ringan. Seperti ada beban batu yang tertinggal di batang kayu berlumut tadi. Sesampainya di kamar, aku berbaring sambil menatap langit-langit. Aku tidak berniat menceritakan kejadian ini pada siapa pun. Tidak akan aku jadikan Story Instagram. Biarlah ini jadi rahasiaku.

Aku juga memutuskan untuk tidak mencari tahu hewan apa itu di Google. Aku takut kalau tahu nama ilmiahnya, keajaibannya akan hilang. Biarlah dia tetap menjadi "sahabat kecil"-ku yang misterius.

Sejak hari itu, aku percaya satu hal: kadang yang kita butuhkan untuk tetap waras di dunia yang gila ini bukan liburan mewah atau validasi ribuan likes. Kadang, kita cuma butuh pertemuan kecil yang sederhana. Pertemuan yang mengingatkan kita bahwa kita adalah bagian dari alam, dan kita masih bisa merasakan koneksi tanpa harus berkata-kata.

Dan entah itu nyata atau sekadar halusinasi orang stres yang kelelahan, sahabat kecil di hutan itu sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik. Dia menyelamatkanku, tepat di saat aku hampir menyerah.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak