Pesan Suara dari Nomor Asing

M. Reza Sulaiman | Sendi Sudrajat
Pesan Suara dari Nomor Asing
Ilustrasi gambar [gemini]

Pernahkah kamu menerima pesan suara dari nomor tak dikenal, lalu mendadak merasa tidak nyaman bukan karena nadanya menyeramkan, melainkan karena isinya terlalu tepat? Bukan ramalan, bukan ancaman, bukan pula promosi pinjaman online. Pesan itu terdengar biasa saja, bahkan cenderung tenang, namun seolah tahu apa yang sedang kamu rasakan saat itu.

Aku pertama kali mendengar cerita ini dari obrolan santai. Tidak dramatis, tidak juga berlebihan. Justru karena disampaikan dengan nada datar, kisah ini terasa lebih mengganggu.

Pesan suara itu datang di waktu yang tidak istimewa. Bukan tengah malam, bukan juga dini hari. Sekitar pukul empat sore, saat aktivitas sedang biasa-biasa saja. Nomornya tidak tersimpan, tidak dikenal, dan tidak memiliki foto profil. Hanya deretan angka yang terlihat acak.

Isinya singkat, sekitar dua puluh detik. Suaranya netral, tidak terlalu tua, tidak terlalu muda. Tidak terdengar seperti rekaman robot, namun juga tidak menunjukkan emosi berlebih.

“Sepertinya hari ini kamu lelah, tetapi kamu memaksakan diri untuk tetap terlihat baik-baik saja.”

Kalimat itu tidak menyebut nama ataupun tempat. Namun, entah kenapa pendengarnya langsung terdiam. Bukan karena takut, melainkan karena kalimat itu benar. Terlalu benar untuk diabaikan sebagai kebetulan semata.

Awalnya, pesan itu dianggap iseng. Mungkin salah kirim, mungkin prank, atau mungkin orang iseng yang kebetulan menebak. Namun, keanehan tidak berhenti di situ.

Pesan serupa datang lagi. Tidak setiap hari, tidak terjadwal. Kadang dua minggu sekali, kadang sebulan tidak ada apa-apa. Namun, setiap pesan selalu berisi satu hal yang relevan dengan kondisi penerimanya saat itu. Bukan informasi besar, bukan pula rahasia. Justru hal-hal kecil yang jarang dibagikan kepada siapa pun.

Tentang rasa cemas yang tidak bisa dijelaskan. Tentang keputusan kecil yang sedang ditunda. Tentang perasaan rindu yang tidak diakui. Tentang kelelahan yang disembunyikan di balik tawa. Tidak ada ajakan, tidak ada perintah, tidak ada pula ancaman. Hanya observasi.

Yang membuat situasi ini semakin aneh adalah ketika pesan tersebut dicoba untuk dibalas. Panggilan tidak pernah tersambung. Pesan teks tidak pernah terkirim. Nomor itu seolah hanya bisa berbicara satu arah, seperti suara yang memang tidak ingin diajak berdialog.

Sebagian orang mungkin akan langsung mencari penjelasan logis. Bisa jadi ini bagian dari sistem pemasaran berbasis data. Bisa jadi nomor ini terhubung dengan aplikasi tertentu, atau mungkin kebocoran informasi digital yang tidak kita sadari.

Penjelasan itu masuk akal. Kita hidup di zaman saat algoritma tahu lebih banyak tentang kita dibandingkan orang terdekat. Namun, ada detail-detail kecil yang sulit dijelaskan dengan logika teknologi semata. Pesan itu kadang datang setelah kejadian yang tidak pernah diunggah ke media sosial, tidak pernah diketik di kolom chat, dan tidak pernah dicari di mesin pencari. Hanya disimpan di kepala. Lalu, bagaimana bisa ada pihak lain yang mengetahuinya?

Di sinilah misteri mulai terasa personal.

Beberapa orang yang mengalami hal serupa mengaku tidak merasa diteror, tidak juga merasa diintai. Justru yang muncul adalah perasaan aneh seperti sedang diingatkan. Seolah pesan itu datang bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memastikan satu hal: bahwa perasaan mereka nyata.

Ada yang mengatakan pesan itu datang tepat saat ia hampir menyerah. Ada yang mendengarnya ketika sedang ragu mengambil keputusan penting. Ada pula yang menerima pesan itu setelah lama merasa sendirian. Tidak ada pola teknis yang jelas, tetapi ada pola emosional yang terasa konsisten.

Menariknya, pesan suara itu tidak pernah memberikan solusi. Tidak pernah menyarankan apa pun. Hanya menyebutkan kondisi, lalu berhenti. Seolah tugasnya memang hanya mengamati, bukan mengarahkan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan yang lebih dalam: apakah yang paling mengganggu dari pesan itu adalah sumbernya atau kenyataan bahwa ada sesuatu atau seseorang yang mampu membaca keadaan batin kita dengan sangat akurat?

Bisa jadi ini bukan soal nomor misterius sama sekali. Bisa jadi ini tentang bagaimana manusia sering merasa paling sendirian justru ketika tidak ada yang benar-benar mendengarkan. Pesan itu menjadi cermin, dan cermin memang tidak pernah memberi jawaban, hanya pantulan.

Beberapa orang akhirnya memilih menghapus pesan tanpa mendengarkannya lagi. Bukan karena takut, melainkan karena merasa terlalu terbuka. Ada juga yang menyimpannya, bukan sebagai bukti, melainkan sebagai pengingat bahwa perasaan mereka pernah “terlihat”.

Setelah pesan-pesan itu berhenti datang, tidak ada rasa lega. Justru ada kekosongan kecil, seperti kehilangan suara yang diam-diam menemani tanpa pernah benar-benar hadir.

Apakah pesan suara itu nyata? Bisa jadi. Apakah ada penjelasan rasional? Mungkin ada. Namun, misteri tidak selalu tentang hal yang tidak bisa dijelaskan, melainkan tentang hal yang terasa terlalu dekat dengan sisi manusiawi kita.

Kita hidup di dunia yang bising. Banyak suara, banyak opini, banyak pesan. Namun, jarang sekali ada suara yang hanya mengatakan, “Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja,” lalu pergi tanpa meminta apa pun. Mungkin itulah mengapa pesan dari nomor tak dikenal ini terasa begitu membekas. Bukan karena ancamannya, melainkan karena kejujurannya.

Misteri terbesar bukanlah siapa yang mengirimkannya, melainkan mengapa kita sangat membutuhkan pesan seperti itu untuk merasa dipahami.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak