Aku tidak pernah menyangka bahwa hidupku bisa berubah hanya karena satu kalimat yang diucapkan sambil tertawa. Di tengah pertemuan keluarga yang seharusnya hangat, Tante menatapku sekilas lalu berkata,
“Eh, kamu sekarang kelihatan gendut, ya?”
Ucapan itu ringan, nyaris tanpa niat menyakiti. Namun, anehnya ucapan tadi diikuti dengan canda dan tawa dari saudaraku yang lain. Aku terdiam sejenak lalu ikut tersenyum, meski dadaku terasa sesak tanpa tahu kenapa.
Usai acara makan bersama itu, aku jadi lebih banyak terdiam. Ada perasaan sunyi yang tidak biasa di antara kegiatanku sehari-hari. Setiap kali jam makan tiba, kakiku terasa berat untuk melangkah ke meja makan. Selera makanku menghilang entah ke mana. Bahkan melihat nasi saja, perutku sudah terasa mual. Pikiranku terus memutar candaan singkat waktu itu secara berulang-ulang, dan setiap putarannya meninggalkan bekas yang semakin dalam di benakku.
Ibu yang melihat perubahanku langsung merasa heran. Ia menatapku lebih lama dari biasanya sebelum akhirnya bertanya,
“Kenapa makanmu sedikit? Ayo menambah lagi, nasinya masih banyak.”
Ucapan itu sebenarnya hampir setiap hari Ibu lontarkan; kalimat yang sama, dengan nada yang sama. Namun, kali ini rasanya terdengar berbeda. Aku melirik sekilas tudung saji yang berisi lauk kesukaanku, berjajar rapi dan masih hangat. Biasanya pemandangan itu cukup untuk membuatku lapar. Namun, entah kenapa, semua itu tidak lagi menarik perhatianku.
“Segini saja, Bu. Sudah kenyang,” ucapku pelan sambil mengambil nasi hanya setengah centong. Tentu saja, itu membuat Ibu terlihat semakin bingung.
“Kok makin sedikit? Nanti perutmu perih lagi, lho. Kalau sakit, yang susah siapa?”
Aku memilih diam. Berdebat dengan Ibu hanya akan membuatku tampak seperti anak yang durhaka. Saat sarapan, Ibu rupanya belum puas dengan jawabanku. Ia mengajukan satu pertanyaan yang sejak tadi ingin kuhindari.
“Kamu masih kepikiran ucapan Tante kemarin?”
Aku menggeleng dan berbohong dengan cepat. Namun, dari caranya menatapku, aku tahu Ibu tidak sepenuhnya percaya.
“Tante cuma bercanda, Nak. Jangan dipikirkan terlalu dalam.”
Aku tersenyum kecil. Seperti yang sudah kuduga, bagi mereka itu hanyalah candaan, sekadar basa-basi. Namun bagiku, kalimat itu terlanjur menancap dan meninggalkan rasa yang sulit dijelaskan.
Hari-hari berlalu dengan pikiran yang terus dipenuhi ucapan itu. Aku menjadi lebih murung, kehilangan semangat, dan semakin sering mengurung diri. Hingga suatu sore, Adikku berdiri di depan pintu kamar dan mengajakku keluar rumah.
“Hari Minggu jalan-jalan, yuk. Biasanya kan ada Car Free Day.”
Awalnya aku ingin menolak. Aku tahu ajakan itu kemungkinan besar datang dari Ibu agar aku tidak terus mengurung diri di kamar. Namun, setelah kupikirkan lagi, tidak ada ruginya ikut keluar sebentar. Setidaknya, aku tidak sendirian dengan pikiranku sendiri.
Keesokan harinya, aku dan Adikku berangkat menuju alun-alun kota. Jam masih menunjukkan pukul enam pagi, tetapi jalanan sudah ramai. Orang-orang memenuhi area itu. Ada yang berjalan santai, bercanda dengan keluarga, ada pula yang berlari mengelilingi alun-alun dengan langkah mantap.
Aku menoleh ke arah Adikku yang terlihat siap berolahraga.
“Kamu mau lari?”
“Iyalah. Terus buat apa aku pakai sepatu running?” jawabnya santai, disusul tawa kecil.
Belum sempat aku menimpali, ia sudah lebih dulu berlari meninggalkanku. Aku hanya menggeleng kecil dan memilih berjalan santai. Toh, cepat atau lambat, nanti kita akan bertemu lagi di tempat yang sama.
Aku melangkah mengelilingi alun-alun dengan tempo pelan, tidak tergesa-gesa. Meski begitu, keringat mulai membahasi pelipisku. Sesaat, ucapan Tanteku kala itu kembali terngiang. Rasa sedih dan kesal masih tertinggal, meski kini tidak lagi sekuat sebelumnya. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memilih fokus pada langkahku saat ini.
Pandanganku menyapu suasana sekitar hingga tertuju pada seorang kakek yang sedang berlari. Awalnya aku mengira ia akan segera melambat. Namun tanpa kusadari, kami sudah berpapasan tiga kali. Artinya, ia telah mengitari alun-alun itu tiga putaran penuh.
Yang membuatku tertegun adalah langkahnya yang tetap stabil dan napasnya yang teratur tanpa tanda kelelahan. Padahal, aku yang hanya berjalan santai justru berkeringat dan mulai terengah. Saat napasku terasa berat, aku berhenti sejenak di pendopo. Tak lama kemudian, kakek itu ikut berhenti.
“Sendirian, Nak?” tanyanya, sekadar basa-basi.
“Tadi sama Adik, tapi sepertinya dia belum selesai olahraganya,” jawabku sambil tersenyum canggung.
Ketika ia duduk beristirahat, mataku tertarik pada tulisan di jersey yang ia kenakan: "Umur Hanyalah Angka". Tanpa kusadari, sudut bibirku terangkat.
“Kelihatan aneh, ya, tulisannya?” katanya sambil tertawa kecil. “Begini-begini, umur saya sudah hampir tujuh puluh, lho,” lanjutnya dengan nada bangga.
Aku terdiam. Di usia yang sudah senja, kakek itu masih tampak bugar. Aku justru merasa malu pada diriku sendiri yang masih muda, namun cepat menyerah hanya karena lelah.
Percakapan singkat itu tidak berlangsung lama, tetapi entah kenapa meninggalkan getaran kecil di hatiku. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, tekad itu muncul bukan karena luka di hati, bukan pula karena candaan kala itu yang menyakitkan. Aku ingin bergerak karena keinginanku sendiri. Karena aku tidak ingin kalah oleh diriku sendiri.
“Kenapa senyum-senyum sendiri?” Adikku tiba-tiba sudah berdiri di depanku. Keringat bercucuran di pelipisnya, entah sudah berapa putaran ia berlari.
“Tidak apa-apa. Memangnya aneh, ya, lihat aku senyum?” jawabku ringan.
Ia menatapku curiga, lalu mengangkat bahu, tidak ingin memperpanjangnya.
“Minggu depan ke sini lagi, ya?” ucapku, kali ini dengan nada yang bahkan mengejutkanku sendiri.
Adikku terlihat bingung. “Boleh saja, tapi kenapa tiba-tiba?”
Aku mengedikkan bahu sambil tersenyum kecil. “Memangnya aneh, ya, kalau aku ingin olahraga lagi?”
Aku baru sadar, perubahan itu tidak datang dari hal besar. Bisa jadi semua itu berawal dari candaan kecil yang melukai, lalu disempurnakan oleh sapaan singkat seorang kakek di pagi hari. Dari situlah aku menemukan alasanku sendiri untuk melangkah—pelan namun pasti.