NgabubuRun: Puasa Lancar, Tubuh Tetap Bugar

Hayuning Ratri Hapsari | Zahrin Nur Azizah
NgabubuRun: Puasa Lancar, Tubuh Tetap Bugar
Ilustrasi running di sore hari (Pexels/Pedro Colon)

Waktu menjelang magrib adalah waktu yang paling dinanti saat Ramadan. Banyak orang mengisi sore itu dengan berburu takjil atau sekadar duduk santai menunggu bedug.

Namun Ramadan kali ini terasa sedikit berbeda. Di beberapa sudut jalan, saya melihat orang-orang justru berlari kecil, mengenakan sepatu olahraga, lengkap dengan smartwatch yang terpasang di tangan mereka.

Kegiatan itu dikenal dengan sebutan "NgabubuRun", atau istilah sederhananya ngabuburit sambil running. Belakangan, istilah ini makin sering terdengar di kalangan para pegiat lari. Aktivitas tersebut dilakukan untuk mengisi waktu menjelang magrib, sambil tetap bergerak dan menjaga kebugaran. Setelah selesai berlari, tak sedikit dari mereka yang sekalian berburu takjil untuk berbuka.

Padahal tubuh sedang lemas karena berpuasa. Energi berkurang, asupan cairan belum masuk sejak subuh. Tapi semangat mereka untuk tetap bergerak tidak memudar.

Lari sebagai Pilihan Olahraga yang Tepat di Sore Hari

Lari menjadi salah satu pilihan olahraga yang paling mudah dilakukan sebelum berbuka. Tidak perlu alat khusus dan tidak bergantung pada tempat tertentu, olahraga ini bisa dilakukan sendiri maupun bersama komunitas, sehingga bisa dikatakan sebagai aktivitas fisik yang sederhana.

Salah satu waktu yang pas untuk berolahraga saat puasa adalah sore hari. Tepatnya menjelang berbuka karena dirasa pas dan tidak terlalu panas. Ketika waktu maghrib tiba, bisa langsung berbuka puasa dan langsung mendapat asupan kembali.

Dari sisi kesehatan, ada proses unik yang terjadi di dalam tubuh saat kita berolahraga sebelum berbuka. Saat tubuh tidak mendapat asupan makanan selama beberapa jam, cadangan energi dalam bentuk glikogen mulai menipis. Ketika aktivitas fisik dilakukan, tubuh akan memanfaatkan cadangan energi lain, termasuk lemak, sebagai sumber bahan bakar. Itulah sebabnya olahraga ringan hingga sedang sering direkomendasikan menjelang waktu berbuka.

Intensitasnya perlu dijaga agar tidak memicu kelelahan berlebihan atau dehidrasi. Beberapa referensi kesehatan, menyebutkan bahwa olahraga saat ngabuburit tetap aman selama dilakukan dengan durasi dan intensitas yang terkontrol.

Artinya, NgabubuRun bukanlah hal yang salah. Sebaliknya, aktivitas ini sangat bermanfaat bagi tubuh. Selama dilakukan dengan perhitungan yang tepat, lari sore bisa menjadi pelengkap rutinitas sehat selama bulan Ramadan.

NgabubuRun: Olahraga atau FOMO?

Namun di balik keringat dan niat menjaga kebugaran, ada pertanyaan lain yang menarik untuk diajukan: apakah NgabubuRun murni soal kesehatan, atau justru karena FOMO?

Fenomena lari sore ini telah terlihat di mana-mana, mulai dari lingkungan sekitar rumah saya hingga keramaian alun-alun kota. Tren ini tidak hanya terjadi di satu titik, melainkan telah menjamur di berbagai daerah. Hal tersebut mencerminkan tingginya antusiasme masyarakat untuk tetap aktif menjaga kebugaran sekaligus mempererat kebersamaan di bulan Ramadan.

Di sisi lain, peran media sosial sangatlah besar. Keberadaan aplikasi seperti Strava memungkinkan setiap kilometer dan pace lari dipamerkan serta dibandingkan dengan orang lain. Alhasil, banyak orang terdorong untuk ikut berlari karena melihat unggahan teman, seolah tak ingin ketinggalan tren yang sedang viral.

FOMO yang Sehat: Ikut Tanpa Mengejar Prestasi

Tak selamanya FOMO itu buruk, karena terkadang ini bisa menjadi pemantik bagi kita untuk hidup lebih sehat. Namun, kita perlu waspada saat motivasi tersebut mulai terasa menekan. Jangan sampai lari yang seharusnya menjadi pelepas penat justru berubah menjadi beban mental, hanya karena kita lebih peduli pada angka di layar daripada kesehatan tubuh yang sebenarnya.

Padahal esensi NgabubuRun seharusnya sederhana: bergerak secukupnya, menjaga kebugaran, dan membuat waktu menunggu berbuka terasa lebih cepat. Tidak perlu mengejar pace tertentu maupun memaksakan jarak demi konten. Tubuh yang sedang berpuasa punya batas yang perlu diperhatikan.

Sebagai penutup, NgabubuRun adalah cara baru masyarakat untuk mengisi waktu menjelang Maghrib dengan tetap produktif. Kegiatan ini menunjukkan bahwa menunggu buka puasa tidak harus selalu diisi dengan diam. Ada yang memilih berburu takjil, sekadar memilih duduk bersama keluarga, dan ada pula yang memilih berlari kecil menyusuri jalan sore.

Tapi tetap jangan melakukannya berlebihan sehingga sampai memberatkan tubuh setelahnya. Ramadan tetap tentang keseimbangan, antara ibadah, aktivitas, dan menjaga diri. Karena tujuan akhirnya adalah kita bukan sekadar mencatat kilometer di aplikasi, melainkan memastikan satu hal tetap terjaga: puasa lancar, tubuh tetap bugar.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak