Seni Curhat ke Orang Tua: Baru Ngomong "A", Eh Nasihatnya Sudah Sampai "Z"

M. Reza Sulaiman | Zahrin Nur Azizah
Seni Curhat ke Orang Tua: Baru Ngomong "A", Eh Nasihatnya Sudah Sampai "Z"
Ilustrasi orang tua memberikan nasihat pada anaknya (Pexels/Kindel Media)

Dulu, saat masih kecil, rasanya mudah sekali bercerita kepada orang tua. Apa pun yang terjadi di sekolah, dengan teman, atau sekadar hal sepele, langsung ingin diceritakan. Orang tua adalah tempat pertama yang terlintas ketika hati ingin sekali untuk curhat.

Namun, seiring bertambahnya usia, kebiasaan itu perlahan berubah. Ada jarak yang tidak terlihat, tetapi terasa. Berbagi cerita tidak lagi semudah dulu. Bahkan, ada yang memilih untuk tidak bercerita sama sekali. Anggapan bahwa orang tua adalah rumah pertama mulai bergeser.

Sebagian anak merasa setiap kali mencoba curhat, ceritanya belum selesai sudah lebih dulu disela. Kalimat belum tuntas, tetapi nasihat sudah datang. Dari situ muncul rasa enggan. Jika setiap cerita berakhir dengan interupsi, lama-kelamaan muncul pertanyaan dalam hati: untuk apa melanjutkan?

Ketika Cerita Belum Selesai, Nasihat Sudah Datang

Tidak sedikit anak yang datang kepada orang tua hanya untuk berkeluh kesah. Niatnya sederhana. Mereka ingin mengeluarkan uneg-uneg yang mengganjal di hati. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Cerita dipotong dan nasihat langsung diberikan. Bahkan dalam beberapa situasi, responsnya berupa amarah.

Dalam kondisi seperti ini, anak merasa tidak benar-benar didengarkan. Mereka seolah tidak diberi kesempatan menuntaskan isi hati. Padahal, yang dibutuhkan saat itu bukan solusi. Mereka hanya ingin ruang untuk menyampaikan perasaan tanpa dihakimi.

Di sisi lain, orang tua sebenarnya sedang berusaha membantu. Mereka ingin memberi jalan keluar agar masalah tidak berlarut. Niatnya baik. Hanya saja, caranya sering terasa terlalu cepat. Anak belum selesai berbicara, tetapi orang tua sudah sibuk memperbaiki.

Protes yang Berujung Label Durhaka

Masalah menjadi lebih rumit ketika anak mencoba bersuara. Kalimat sederhana seperti, “Tolong dengarkan dulu, ceritanya belum selesai,” kadang justru memicu respons yang tidak menyenangkan. Orang tua dapat melihatnya sebagai bentuk pembangkangan. Bahkan, ada yang langsung memberi label durhaka.

Budaya hierarki dalam keluarga ikut berperan. Anak ditempatkan pada posisi yang harus patuh. Pendapat dianggap sebagai perlawanan. Dalam situasi seperti itu, ruang untuk berkomunikasi yang sehat menjadi sulit dicapai.

Dampaknya cukup jelas. Anak mulai merasa orang tua bukan lagi tempat aman untuk bercerita. Pilihan paling aman adalah diam. Mereka menahan cerita untuk menghindari konflik. Dalam hal ini, diamnya mereka bukan berarti tidak peduli, tetapi cara untuk bertahan.

Generasi yang Lebih Sadar tentang Kesehatan Mental

Fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari perubahan zaman. Generasi sekarang tumbuh dengan paparan informasi yang luas. Media sosial memperkenalkan istilah seperti validasi, batasan diri, dan trauma. Percakapan tentang kesehatan mental menjadi lebih terbuka.

Hal ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka hidup di masa ketika isu seperti ini jarang dibahas. Wajar jika ada perbedaan cara pandang. Anak menjadi lebih sadar akan pentingnya komunikasi yang setara, sementara orang tua tetap berpegang pada pola yang mereka anggap benar sejak dulu.

Perbedaan ini bukan berarti anak merasa lebih pintar. Mereka hanya memiliki bahasa baru untuk menjelaskan perasaan. Sayangnya, bahasa tersebut tidak selalu dipahami lintas generasi. Dari sinilah jarak komunikasi muncul. Bukan karena tidak saling menyayangi, tetapi karena tidak saling mengerti.

Mencari Titik Temu

Untuk menengahi situasi ini, kedua pihak perlu saling memahami. Orang tua perlu menyadari bahwa keinginan anak untuk didengarkan adalah kebutuhan emosional yang wajar. Mendengar sepenuhnya tidak mengurangi wibawanya sebagai orang dewasa.

Di sisi lain, anak juga perlu memahami bahwa orang tua dibentuk oleh zaman yang berbeda. Cara mereka berkomunikasi dipengaruhi oleh pengalaman hidup yang tidak sama. Ada pola yang sulit diubah dalam waktu singkat.

Komunikasi yang sehat lahir dari kesediaan untuk saling menahan diri. Duduk bersama lalu berbicara dengan kepala dingin. Mendengarkan tanpa menyela. Dengan begitu, anak mendapat kesempatan menyampaikan isi hati. Orang tua pun bisa memahami masalah secara utuh sebelum memberi nasihat.

Perlu diketahui, sebagian besar orang tua selalu menginginkan yang terbaik. Mereka tidak ingin anaknya tersesat atau terluka. Niat itu memang terlihat tulus. Namun, niat baik tetap membutuhkan cara yang tepat. Terkadang yang dibutuhkan anak bukan jawaban, melainkan seseorang yang mampu memahaminya tanpa ada niat menghakimi. Mungkin yang kita cari bukanlah orang tua yang sempurna, melainkan ruang di mana cerita bisa didengar seutuhnya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak