Di sebuah hutan yang luas dan hangat, hiduplah seekor singa besar bernama Arka yang dikenal sebagai raja hutan. Semua hewan menghormatinya, tapi bukan karena cinta melainkan karena takut.
Arka kuat, gagah, dan suaranya bisa mengguncang pepohonan. Setiap langkahnya membuat tanah seolah ikut menunduk. Ia terbiasa memerintah, bukan mendengar. Baginya, menjadi raja berarti selalu di atas, selalu benar, dan tak pernah perlu meminta atau memberi dengan lembut.
Suatu musim kemarau datang lebih panjang dari biasanya. Sungai menyusut, rumput mengering, dan hutan yang biasanya ramai berubah sunyi.
Hewan-hewan mulai berebut air, dan satu-satunya sumber yang tersisa hanyalah sebuah kolam kecil di tengah hutan. Arka datang lebih dulu setiap hari dan minum sampai puas, membuat hewan lain menunggu di kejauhan. Tak ada yang berani mendekat. Bahkan gajah tua pun memilih mundur daripada memancing amarah sang raja.
Suatu sore, saat Matahari terasa seperti bara api di langit, Arka berjalan ke kolam seperti biasa. Tetapi, tiba-tiba ia melihat seekor tikus kecil terjatuh di tepi air. Tubuhnya lemah, napasnya cepat.
Tikus itu terlalu kecil untuk menjadi ancaman, terlalu rapuh untuk dianggap penting. Biasanya Arka akan mengabaikan makhluk sekecil itu. Namun entah kenapa, ia berhenti.
Tikus kecil itu mencoba bangun, tapi gagal. Kakinya gemetar. Ia benar-benar kehausan.
“Air…” bisiknya lirih dan meminta pertolongan. Suaranya serak dan tenggorokannya kering.
Arka menatapnya lama. Dalam hidupnya, tak pernah ada makhluk yang meminta sesuatu darinya dengan suara setenang itu. Tidak memohon, tidak memuji, hanya berharap.
Ada sesuatu yang aneh terasa di dada Arka. Ia menggeser tubuhnya, memberi ruang di tepi kolam.
“Minumlah,” katanya singkat pada si tikus.
Tikus itu ragu. Semua hewan tahu kolam itu wilayah raja. Tapi rasa haus lebih kuat dari rasa takut. Ia merangkak pelan, meneguk air sedikit demi sedikit, lalu menatap Arka dengan mata yang berkaca-kaca.
“Terima kasih, Singa. Kau telah menyelamatkanku,” katanya.
Hanya dua kata: terima kasih. Tapi entah mengapa, Arka merasa hutan menjadi lebih tenang setelahnya. Tikus itu pergi dengan langkah goyah, namun ia tetap dibiarkan hidup.
"Aku berhutang budi padamu, Singa." Tikus itu bergumam dalam hati.
Arka berdiri lama di tepi kolam, menatap bayangannya di air. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat raja. Ia melihat seekor makhluk yang baru saja memilih untuk tidak kejam dan ternyata dunia tidak runtuh karenanya.
Keesokan harinya, Arka datang lagi. Hewan-hewan seperti biasa menyingkir. Namun sebelum minum, ia mundur sedikit dan berkata, “Mendekatlah. Mari kita minum bersama.”
Tak ada yang bergerak. Semua hewan mematung.
Arka mengulang, suaranya lebih pelan lagi, “Air ini milik hutan. Bukan milikku, jadi minumlah sepuasnya.”
Seekor rusa melangkah duluan dengan kaki gemetar. Lalu kelinci. Kemudian burung-burung turun dari dahan.
Kolam yang biasanya sunyi kini penuh dengan suara minum dan napas lega. Tak ada yang menyerang. Tak ada yang kacau. Hutan justru terasa hidup.
Hari demi hari, kebiasaan itu berlanjut. Arka mulai memperhatikan hal-hal kecil, seperti anak burung yang jatuh dari sarang, kura-kura yang terbalik, dan serigala muda yang terluka.
Ia membantu tanpa pengumuman, tanpa meminta pujian. Setiap kebaikan terasa kecil, hampir tak berarti. Tapi hutan perlahan berubah.
Hewan-hewan tak lagi berlari saat Arka datang. Mereka menunduk bukan karena takut, melainkan hormat. Anak-anak hewan bermain di dekatnya. Burung-burung bernyanyi tanpa hening mendadak. Hutan yang dulu tunduk kini percaya.
Suatu malam, badai besar datang. Angin merobohkan pohon-pohon tua. Arka terjebak di bawah batang besar yang jatuh saat ia mencoba melindungi sebuah sarang. Ia mengaum, tapi suaranya tertelan hujan.
Yang datang bukan pasukan singa.
Yang datang adalah hutan.
Gajah mengangkat batang pohon. Monyet-monyet menarik ranting.
Burung-burung berputar memberi arah. Bahkan tikus kecil yang dulu ia tolong berlari di antara akar, menggigit tali tanaman yang menahan beban. Bersama-sama, mereka membebaskan Arka.
Singa itu berdiri terengah, basah, gemetar bukan karena dingin, tapi karena sadar. Ia hidup karena makhluk-makhluk yang dulu ia anggap kecil.
Tikus itu mendekat.
“Kebaikanmu kembali padamu,” katanya sederhana.
Arka menunduk. Untuk pertama kalinya, raja hutan menundukkan kepala bukan karena kalah tapi karena mengerti.
Sejak malam itu, tak ada lagi raja yang ditakuti di hutan. Yang ada adalah penjaga.
Pemimpin yang tahu bahwa kekuatan terbesar bukan terletak pada taring atau auman, melainkan pada kebaikan kecil yang ditanam tanpa pamrih.
Sosok Arka yang tadinya sangat arogan dan ingin disanjung kini berubah menjadi sosok singa berdedikasi dan senang membantu sesama.
Dan hutan itu berkembang lebih subur dari sebelumnya. Karena satu kebaikan kecil telah mengubah segalanya. Memang, berbagi dan berbuat baik tidak akan membuat hidupmu kalah, tetapi justru akan memberikan keberkahan dan keindahan dalam hidup.