Ramadan kali ini, matahari seolah enggan menunjukkan sinarnya. Hujan turun hampir setiap hari. Ketika malam tiba, jalanan penuh dengan genangan air sisa hujan sore. Sementara itu, di pelataran Masjid Al-Ma’arif, sandal-sandal tersusun acak. Aroma tanah basah masih pekat menyapa indera penciuman.
Rafi berdiri di dekat tempat wudu, menggulung lengan baju koko abu-abunya. Air mengalir dingin di sela jemarinya. Suara anak-anak berlarian di serambi dan lantunan niat puasa yang dilagukan sembari menunggu para jamaah menciptakan suasana sejuk yang terasa akrab di hati umat muslim.
“Allahu Akbar …”
Takbir pertama salat Isya malam itu terlantun merdu oleh sang imam, disusul dengan bacaan surat Alfatihah. Rafi melangkah masuk dan mengambil posisi di saf ketiga dari depan. Empat rakaat berlalu, di antara dua salam, perhatiannya teralihkan. Di saf paling belakang, hampir dekat pintu keluar perempuan, berdiri sosok dengan mukena putih polos. Tanpa bordir, tanpa motif. Kainnya jatuh sederhana hingga menutup kaki.
Tampaknya ia datang terlambat dan tertinggal satu rakaat, dan setiap malam, Rafi melihatnya berjalan cepat setelah salam terakhir salat tarawih, bahkan sebelum doa panjang usai dibacakan. Wajahnya tak pernah jelas. Hanya bayangan samar di balik lipatan kain.
Malam berikutnya, Rafi datang lebih awal. Ia duduk bersandar di tiang masjid, pura-pura membaca mushaf. Matanya sesekali melirik ke arah pintu samping. Ketika jamaah mulai berdatangan, perempuan itu muncul lagi. Langkahnya ringan, hampir tak bersuara. Mukena putihnya seperti menyerap cahaya lampu. Ia memilih tempat yang sama, di pojok saf paling belakang.
Rafi mencoba fokus pada bacaan imam. Namun setiap kali salam, ia merasakan gerakan cepat di belakang. Suara kain bergesek pelan. Lalu pintu kayu berderit singkat. Ia menoleh. Perempuan itu sudah menghilang di lorong gelap samping masjid.
“Siapa, sih?” gumamnya.
Usai tarawih, Rafi mendekati Pak Ali, marbot yang sedang merapikan sajadah.
“Pak, perempuan yang selalu di belakang itu… yang mukenanya putih polos. Bapak tahu?”
Pak Ali mengangkat kepala, berpikir. “Yang pulang duluan itu?” Rafi mengangguk.
Pak Ali menggeleng pelan. “Jarang lihat wajahnya. Datang, salat, pulang. Tidak pernah ikut tadarus. Mungkin bukan orang sini, Mas.”
Jawaban itu justru menambah rasa penasaran.
Malam kelima Ramadan, hujan turun rintik-rintik. Pelataran masjid basah, memantulkan bayangan lampu seperti serpihan emas cair. Udara terasa lebih dingin. Rafi berdiri di bawah atap serambi, menunggu.
Perempuan itu datang dengan payung kecil berwarna gelap. Ujung mukenanya sedikit basah. Ia menutup payung, menaruhnya di sudut, lalu masuk tanpa menoleh. Seusai salam terakhir, sebelum doa dimulai, ia kembali bergerak cepat.
Rafi melangkah mengikuti, menjaga jarak. Di luar, hujan masih turun tipis. Perempuan itu berjalan menyusuri gang kecil di samping masjid. Lampu-lampu rumah redup, hanya suara air menetes dari talang.
“Mbak, maaf …” Rafi memberanikan diri memanggil.
Langkah perempuan itu terhenti. Ia tidak langsung berbalik.
“Ada yang bisa saya bantu?” Suaranya lembut, tertahan.
Rafi menelan ludah. “Saya sering melihat Anda salat di masjid. Maaf kalau lancang, saya hanya ingin berkenalan.”
Beberapa detik sunyi. Hujan menjadi satu-satunya suara. Perempuan itu berbalik perlahan. Wajahnya masih setengah tertutup bayangan mukena. Rafi hanya bisa menangkap sepasang mata yang redup, seperti menyimpan malam panjang.
“Maaf. Saya lebih nyaman tidak dikenal,” jawabnya pelan.
Lalu ia melanjutkan langkahnya, meninggalkan Rafi di bawah rintik hujan.
***
Rasa penasaran berubah menjadi sesuatu yang lain. Bukan sekadar ingin tahu, melainkan keinginan memahami. Malam-malam berikutnya, Rafi tidak lagi menatapnya dengan rasa ingin membongkar rahasia. Ia hanya memperhatikannya dari jauh. Pada malam kesepuluh, setelah tarawih, Rafi tidak mengejarnya. Ia justru duduk di saf belakang, di tempat yang biasa ditempati perempuan itu.
Karpetnya sedikit lebih tipis di sudut. Ada aroma samar minyak telon. Ia membayangkan perempuan itu berdiri di sana, memandang lurus ke depan, namun memilih keluar sebelum doa panjang dipanjatkan bersama. Mengapa ia selalu pergi sebelum doa selesai?
Lalu jawaban itu datang tanpa direncanakan. Suatu sore, Rafi membantu ibunya mengantar pesananan makanan ke rumah Bu Salma, janda anak satu yang tinggal dua gang dari masjid. Rumahnya kecil, cat temboknya mulai mengelupas. Pintu dibuka pelan. Seorang perempuan menyambut dengan senyum tipis. Rambutnya tertutup kerudung sederhana. Sekali lihat, Rafi langsung mengenalinya. Mukena putih terlipat rapi di kursi kayu dekat pintu. Jantung Rafi berdetak lebih cepat.
“Bu Salma?” Rafi berucap tak begitu yakin.
“Saya putrinya. Bunda lagi di dapur,” ujar perempuan itu.
Rafi bergegas menyerahkan dua porsi makanan yang rupanya untuk buka perempuan itu dan ibunya. Dia berdiri canggung di ruang tamu. “Kamu …” ucapnya pelan.
Perempuan itu mengangguk kecil. “Saya perempuan yang kamu ikuti malam itu.”
Rafi menunduk. “Maaf.”
Paham laki-laki di hadapannya menyimpan rasa penasaran, perempuan itu mempersilakannya duduk. Di dinding ruang tamu tergantung foto seorang pria muda. Di bawahnya, pigura kecil bertuliskan nama dan tanggal wafat dua tahun lalu.
“Itu suami saya,” katanya pelan, mengikuti arah pandang Rafi. “Ia biasa menjadi imam di masjid-masjid. Ramadan adalah bulan favoritnya.”
Suara perempuan itu tetap tenang, tetapi jemarinya meremas ujung kerudung. “Sejak ia pergi, saya sulit berada di keramaian terlalu lama. Setiap kali mendengar imam melantunkan doa di masjid, saya selalu teringat dengan suami saya.”
Rafi terdiam. Ia membayangkan perempuan itu berdiri di saf belakang, menahan tangis saat doa dipanjatkan keras-keras.
“Itu sebabnya saya pulang lebih dulu,” lanjutnya. “Saya ingin tetap datang ke rumah Allah. Tapi saya belum kuat mendengar doa imam yang mengingatkan saya pada kehilangan.”
Hening memenuhi ruang kecil itu. “Nama saya Aisyah,” katanya kemudian.
“Saya Rafi.” Nama itu terasa sederhana, tetapi bagi Rafi, malam-malam tarawih tak lagi sama.
***
Ramadan memasuki sepuluh malam terakhir. Masjid semakin ramai. Lampu-lampu diganti yang lebih terang. Suara tadarus mengalun hingga larut. Malam itu, Rafi berdiri di saf belakang. Tidak lagi di depan.
Aisyah datang seperti biasa, mukena putihnya bersih, wajahnya lebih tenang dari sebelumnya. Saat salam terakhir selesai, doa mulai dibacakan. Rafi tidak menoleh. Ia tetap menunduk, membiarkan suaranya sendiri bergetar dalam doa pribadi.
Di sudut matanya, ia melihat Aisyah masih berada di tempatnya. Doa imam mengalun panjang. Beberapa jamaah terisak. Aisyah tidak bergerak menuju pintu. Mukena putihnya tetap diam di saf paling belakang.
Ketika doa usai dan orang-orang saling bersalaman, Aisyah melangkah pelan ke arah serambi. Rafi mengikutinya tanpa tergesa.
“Selamat, Aisyah.” katanya pelan.
Aisyah menatapnya. “Untuk apa?”
“Sudah mencoba berdamai dengan rasa kehilangan.”
Senyum tipis terbit di wajahnya. Bukan senyum lebar, tetapi cukup untuk mengubah bayangan matanya. Angin malam berembus lembut, membawa suara takbir kecil dari dalam masjid.
Di bawah langit yang dipenuhi bintang samar, dua sosok itu berdiri berdampingan. Tidak banyak kata yang terucap. Namun di antara sisa wangi kayu gaharu dan lantunan doa yang baru saja selesai, ada sesuatu yang perlahan mulai tumbuh, seperti cahaya yang tak lagi takut pada gelap. Ramadan menjadi saksi, bukan hanya bagi sujud yang panjang, tetapi bagi jiwa yang perlahan belajar berdamai dengan masa lalu dan memilih untuk tinggal lebih lama dalam cahaya.