Plastik bening pembungkus kain itu mengeluarkan bunyi kerisik yang tajam saat jemari Bram menariknya dengan kasar dari atas meja jati di teras rumah Haji Usman. Bram tidak menoleh ke kiri atau ke kanan; ia tidak peduli jika ada mata tetangga yang mengintip dari balik gorden. Di dalam kepalanya hanya ada satu perintah: ambil kain itu sekarang atau semuanya akan berakhir berantakan. Kain mori itu masih kaku, dingin, dan berbau pabrik yang menyengat, sangat kontras dengan suhu tubuh Bram yang mulai menggigil meski keringat membasahi seluruh punggungnya.
Bram bukan pencuri amatir yang butuh uang untuk membeli baju Lebaran, dan ia juga tidak sedang dililit utang. Ia adalah mahasiswa hukum yang pulang ke desa hanya untuk mendapati bahwa integritasnya sedang dipertaruhkan. Di bagasi motornya yang terparkir di bawah pohon kamboja, tersimpan sebuah rahasia klandestin yang ia bawa dari kota. Bukan barang elektronik curian, melainkan seekor anjing pelacak milik kepolisian yang ia temukan sekarat di pinggir jalan raya setelah tertabrak lari. Anjing itu terluka parah di bagian perut, darahnya terus merembes, dan Bram tahu anjing itu tidak akan bertahan jika tidak segera dibalut dengan kain yang bersih dan kuat.
Di desa ini, membawa anjing sekarat ke dalam rumah saat Ramadan adalah tindakan bunuh diri sosial. Haji Usman, pemilik kain kafan yang dicuri Bram, adalah sosok yang paling vokal tentang kesucian ritual desa. Kain kafan di teras itu sebenarnya disiapkan untuk stok masjid, namun Bram melihatnya sebagai satu-satunya alat medis darurat yang tersedia secara literal di depan matanya.
Ia mendekap kain itu erat-erat sambil berjalan cepat menuju motornya. Rasa haus yang mencekik tenggorokannya karena puasa mendadak hilang, digantikan oleh adrenalin yang memacu napasnya. Bram menyalakan motor, membawa kain suci itu ke sebuah gudang pupuk tua di ujung permukiman tempat ia menyembunyikan si stowaway bernyawa empat itu.
Di dalam gudang yang pengap, Bram merobek plastik pembungkus kain kafan dengan giginya. Ia membeberkan kain mori yang putih nirmala itu di atas lantai tanah yang kotor. Tanpa ragu, ia membalut luka anjing yang terus mengerang itu. Putih kain segera berubah menjadi merah pekat. Bram merasa masygul melihat kontradiksi di depan matanya: benda yang diciptakan untuk membungkus kematian, kini ia gunakan untuk memaksa kehidupan tetap tinggal.
"Kau melakukan hal yang sangat gila, Bram."
Bram tersentak. Di ambang pintu gudang, berdiri Haji Usman. Lelaki tua itu tidak membawa tongkat atau marah-marah. Ia hanya berdiri di sana, melihat bagaimana kain kafan miliknya kini bersimbah darah hewan yang dianggap najis oleh sebagian warga desa.
"Saya akan menggantinya, Pak Haji. Saya akan belikan kain yang lebih mahal setelah ini," ujar Bram defensif, suaranya parau karena debu gudang.
Haji Usman melangkah masuk, mengabaikan debu yang mengotori sarungnya yang bersih. Ia berjongkok di samping Bram, menatap anjing yang napasnya mulai teratur setelah dibalut mori. "Kau mencurinya dari teras rumahku tepat saat aku sedang berdoa meminta ampunan di dalam masjid. Kau tahu apa yang kupikirkan saat melihat kain itu hilang?"
Bram diam, tidak berani menatap mata lelaki tua itu.
"Aku pikir, Tuhan sedang menghinaku dengan mengambil pakaian terakhir yang kusiapkan untuk diriku sendiri," lanjut Haji Usman dengan nada datar. "Tetapi melihatmu di sini, mengotori tanganmu dan kain suci itu demi makhluk yang bahkan tidak bisa mengucap terima kasih, aku menyadari bahwa puasaku hari ini hanyalah sandiwara perut."
Bram tertegun. Ia mengharapkan makian atau laporan polisi, namun yang ia dapatkan adalah sebuah refleksi yang menghunjam. Haji Usman meraih ujung kain kafan yang masih bersih, lalu membantu Bram mengencangkan balutan pada luka anjing itu.
"Ramadan tahun ini memberikan sepotong kisah yang tidak pernah diajarkan di pengajian mana pun, Bram," bisik Haji Usman. "Kita sering sibuk membungkus diri dengan kain suci agar tampak nirmala di mata manusia, tetapi kita lupa merawat luka yang ada di depan mata kita sendiri. Biarkan kain ini habis di sini. Biarkan dia membungkus nyawa, bukan membungkus bangkai."
Selama sisa siang itu, Bram dan Haji Usman duduk di gudang pupuk yang sunyi. Tidak ada pembicaraan tentang agama secara luhur, hanya suara napas anjing yang mulai stabil dan debu yang menari di bawah seleret sinar matahari. Bram menyadari bahwa kejujuran batin jauh lebih berat daripada sekadar menahan lapar. Ia telah mencuri kain kafan, melakukan tindakan candala di bulan yang baik, namun di dalam gudang kotor itu, ia merasa jiwanya justru baru saja dibersihkan dari kepalsuan.
Saat azan Asar berkumandang, Haji Usman bangkit dan menepuk bahu Bram. "Pulanglah. Basuh tanganmu. Jangan ceritakan ini pada siapa pun di desa, bukan karena kita malu, melainkan karena ampunan atau aksama sejati tidak butuh tepuk tangan warga."
Bram berjalan keluar dari gudang dengan tangan kosong. Di atas langit, matahari atau Baskara tetap bersinar terik, namun udara tidak lagi terasa membakar kulitnya. Ia berjalan pulang melewati teras rumah Haji Usman yang kini sudah kosong. Meja jati itu bersih, tak ada lagi bungkusan putih di sana. Bram menyadari bahwa Ramadan tahun 2026 ini bukan tentang seberapa rapi ia menjalankan ritual, melainkan tentang keberanian untuk merobek jubah kepalsuan demi sebuah tindakan kemanusiaan yang paling nyata.
Besok, ia mungkin akan tetap dianggap mahasiswa sombong oleh warga gang. Namun bagi Bram, kemenangan sejati di bulan Ramadan adalah ketika ia berhenti mencuri perhatian manusia dan mulai merawat apa yang benar-benar berharga di mata Tuhan, meski itu harus dibungkus dengan kain kafan yang ia curi di teras rumah.