Di depan sebuah rumah bercat hijau pudar, Andi duduk di anak tangga, kedua lututnya tertekuk, jari-jarinya sibuk mengorek sisi sandal jepit biru yang talinya sudah diganti dengan kawat tipis. Kawat itu berkilat kusam, menahan lubang yang melebar di antara jempol dan telunjuk kakinya. Setiap kali ia berjalan cepat, sandal itu berbunyi ceklek-ceklek, seperti mengejek pemiliknya sendiri.
“Andi!” suara ibunya memanggil dari dalam rumah. “Ayo siap-siap, nanti telat tarawih.”
Andi menunduk, mengusap sandal itu dengan ujung kausnya, seolah-olah debu yang dihapus bisa menghapus rasa panas di dadanya. Sore tadi, di lapangan kecil dekat musala, Dimas menepuk bahunya sambil tertawa.
“Andi, sandal kamu antik banget. Warisan kerajaan mana?”
Tawa anak-anak lain mengembang, pecah seperti balon yang dipencet. Andi ikut tersenyum, tapi bibirnya terasa kaku. Dia pulang lebih cepat dari biasanya.
Andi berdiri, membawa sandalnya masuk. Di dapur, ibunya sedang mengaduk kolak pisang di panci kecil. Uap manis mengepul, menyentuh langit-langit rumah yang rendah.
“Kok murung?” tanya ibunya tanpa menoleh.
“Enggak,” jawab Andi cepat.
Ibunya menoleh. Tatapannya lembut, tapi teliti. “Sandalnya lepas lagi?”
Andi menggeleng. “Masih bisa dipakai kok, Bu.”
Perempuan itu mengangguk pelan, lalu kembali mengaduk. Di pergelangan tangannya, jam kecil berwarna perak tampak longgar. Andi tahu jam itu sudah lama tak diganti baterainya. Sama seperti banyak hal di rumah itu yang dibiarkan apa adanya.
Masjid Al-Ikhlas berdiri di ujung gang, temboknya putih dengan cat yang mulai mengelupas di beberapa sudut. Lampu-lampu neon memantulkan cahaya kebiruan ke lantai keramik. Rak sandal di teras depan penuh warna: hitam mengilap, cokelat kulit, biru dengan merek terkenal. Sandal Andi yang berkawat tampak seperti noda kecil di antara mereka.
Ia melepasnya pelan-pelan dan mendorongnya ke sudut rak, berharap tak ada yang memperhatikan. Di dalam, saf anak-anak sudah hampir penuh. Andi duduk di baris kedua dari belakang. Di sebelahnya, Dimas memamerkan sandal barunya sebelum masuk tadi.
“Lihat, Ga. Empuk banget. Kata ayahku, kalau Ramadan harus pakai yang bagus ke masjid.” Andi hanya mengangguk. Tangannya meremas ujung sarungnya.
Tarawih malam itu dipimpin oleh Ustaz Rahman, lelaki paruh baya dengan janggut tipis dan suara berat. Setelah tarawih, ia berdiri di depan, menyandarkan tangan pada mimbar kayu.
“Anak-anak,” katanya, suaranya menggema lembut. “Sebagai manusia kita harus bisa mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk.”
Andi mengangkat kepala.
“Mengambil yang baik artinya memilih akhlak yang baik, kata-kata yang baik, perbuatan yang baik. Meninggalkan yang buruk artinya meninggalkan iri hati, sombong, dan mengambil yang bukan hak kita.”
Beberapa anak di depan berbisik. Ustaz Rahman tersenyum tipis. “Allah tidak melihat sandal kita, pakaian kita, atau seberapa mahal barang yang kita pakai. Allah melihat hati dan niat kita.”
Kalimat itu menggantung di udara, bercampur dengan dengung kipas angin. Andi menatap lantai. Hatinya seperti diremas sesuatu yang tak terlihat. Mengambil yang baik. Meninggalkan yang buruk. Dari panjangnya ceramah Ustaz Rahman, hanya dua kalimat itu yang menancap kuat di pikirannya, lainnya menguap begitu saja. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
Ia membayangkan sandal Dimas yang empuk itu. Terbayang pula sandal-sandal bagus lainnya yang ada di rak masjid. Ia membayangkan dirinya berjalan tanpa bunyi ceklek-ceklek. Tarawih malam itu ditutup dengan salat witir berjamaah seperti biasa. Andi tak bisa fokus. Dua kalimat yang diucapkan Ustaz Rahman terus menerus membayangi pikirannya.
Setelah doa selesai, jamaah bergerak keluar, suara percakapan dan gesekan sandal bersahutan. Andi berjalan paling akhir. Rak sandal kembali riuh oleh tangan-tangan yang mencari miliknya.
Di baris tengah, ia melihat sandal hitam baru dengan sol tebal. Ukurannya hampir sama dengan kakinya. Tak jauh dari situ, sandal biru Dimas sudah tak ada, mungkin sudah dipakai pulang. Andi berdiri diam. Tangannya terasa dingin. Kata-kata Ustaz Rahman terngiang lagi di pikirannya. Ambil yang baik, tinggalkan yang buruk.
Ia menoleh ke kanan dan kiri. Orang-orang sibuk berbincang. Tak ada yang memperhatikannya. Tangannya bergerak sendiri. Ia mengambil sandal hitam itu, menimbangnya. Ringan. Wangi karet baru. Sandal berkawatnya ia lepaskan dan ia letakkan rapi di tempat sandal hitam tadi. Ia merapikan posisinya, memastikan terlihat seolah-olah memang milik seseorang. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia melangkah turun dari teras masjid. Sandal baru itu empuk, tak berbunyi.
Di gerbang, ibunya menunggunya. “Lama sekali, Nak.” kata ibunya. “Doanya panjang?”
Andi mengangguk. Ia menunduk, berjalan di samping ibunya. Setiap langkah terasa berbeda. Lebih ringan. Tapi entah mengapa, dadanya terasa berat. Di tengah jalan, ibunya melirik ke bawah.
“Sandalnya beda?”
Andi menelan ludah. “Iya.”
“Baru?”
“Iya.”
Ibunya berhenti. Lampu jalan memantulkan bayangan mereka ke aspal yang basah. “Dari mana?”
Andi tak menjawab. Angin malam mengibaskan ujung kerudung ibunya.
“Andi.” Suara itu tak keras, tapi cukup membuatnya mengangkat wajah.
“Aku … cuma mau mengambil yang baik,” katanya cepat, seperti membaca jawaban dari kertas tak terlihat. “Tadi ustaz bilang begitu. Meninggalkan yang buruk. Sandalku jelek, Bu. Aku tinggalkan.”
Keheningan jatuh di antara mereka. Suara jangkrik terdengar jelas. Ibunya berlutut di depannya, menyamakan tinggi wajah mereka. Tangannya menyentuh bahu Andi.
“Jadi yang buruk itu sandalnya?” tanyanya pelan.
Andi menggigit bibir. “Aku capek diejek.”
Ibunya menghela napas. “Nak, kalau yang dimaksud ustaz itu sandal, tentu semua orang berebut memilih yang paling bagus di masjid untuk dipakai pulanh.”
Air mata Andi menggenang, tapi ia menahannya.
“Mengambil yang baik itu bukan mengambil milik orang lain,” lanjut ibunya. “Meninggalkan yang buruk itu bukan meninggalkan barang yang kita punya.”
Andi menatap sandal hitam di kakinya. Kilapnya terasa menyilaukan.
“Yang buruk itu rasa iri,” kata ibunya. “Rasa rendah diri. Itu yang harus ditinggalkan.”
“Tapi mereka ketawa, Bu.”
Ibunya mengusap pipinya. “Biarkan. Sandal ini mungkin baru. Tapi kalau kamu pulang memakai sandal dari mencuri, apakah itu lebih baik?”
Kata-kata itu seperti air yang disiramkan ke api kecil di dadanya. Hangat, tapi memadamkan sesuatu.
Andi menunduk. “Orang yang punya sandal ini pasti sedih, ya?”
Ibunya tersenyum tipis. “Menurutmu?”
Andi membayangkan seseorang berdiri di rak, mencari sandalnya. Wajah bingung. Mungkin juga malu karena harus pulang dengan sandal berkawat miliknya. Dadanya semakin sesak.
“Ayo,” kata ibunya lembut. “Kita kembali.”
Masjid sudah lebih sepi. Lampu teras masih menyala, memantulkan bayangan rak sandal yang mulai renggang. Andi berjalan cepat, sandal hitam itu kini terasa berat. Di sudut rak, sandal berkawatnya masih tergeletak. Di dekatnya, seorang anak kecil berdiri sambil memegang sandal jepit yang kebesaran.
“Bu, ini bukan punyaku,” katanya pada ibunya.
Andi berhenti. Ibunya mendorongnya pelan. “Pergilah.”
Andi melangkah mendekat. Tangannya gemetar saat ia melepas sandal hitam itu dan meletakkannya kembali di tempatnya semula.
“Maaf,” katanya lirih, lebih kepada udara daripada siapa pun.
Ia mengambil sandal berkawatnya. Tali kawat itu terasa dingin di sela jarinya.
Anak kecil tadi tersenyum ketika melihat sandal hitam itu kembali. “Ini punyaku, Bu!”
Andi menunduk, rasa panas menjalari wajahnya. Ibunya berdiri di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Mereka berjalan pulang. Kali ini, bunyi ceklek-ceklek kembali terdengar, mengikuti langkahnya. Namun langkah itu terasa berbeda. Tidak seringan sandal baru tadi, tapi lebih pasti.
Di depan rumah, Andi berhenti. “Bu.”
“Iya?”
“Kalau aku belajar yang rajin, nanti bisa beli sandal bagus sendiri, ya?”
Ibunya tersenyum, matanya berkilat oleh cahaya lampu teras. “Bisa. Tapi ingat, harga sandal tidak menentukan harga dirimu.”
Andi mengangguk. Ia menatap sandal tuanya. Kawatnya masih kuat menahan. Ia membayangkan suatu hari membeli yang baru dari hasil usahanya sendiri, bukan dari rak orang lain.
Malam semakin dalam. Dari kejauhan, suara orang mengaji terdengar samar, bercampur dengan angin yang menyentuh daun-daun pisang di belakang rumah. Andi masuk ke dalam, menggantung sarungnya, lalu duduk di lantai dekat ibunya yang kembali menghangatkan sisa kolak. Ia menyendok sedikit dan meniupnya pelan. Manisnya terasa sederhana, tapi cukup.
Di sudut ruangan, sandal berkawat itu tergeletak. Tak berubah bentuknya. Tetap usang. Tetap sederhana. Namun malam itu, Andi tak lagi melihatnya sebagai sesuatu yang memalukan. Ia melihatnya sebagai saksi sebuah pelajaran bahwa kebaikan bukan tentang apa yang dipakai di kaki, melainkan apa yang disimpan di hati. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, bunyi ceklek-ceklek itu tak lagi terdengar seperti ejekan, melainkan seperti pengingat.