Cerita Fiksi
Tikus Menari di Atas Meja Makan
Hujan turun perlahan di atas kota yang muram di Negeri Konoha. Jalanan dipenuhi genangan, baliho-baliho pejabat mulai kusam, dan di televisi nasional, wajah seorang lelaki berkacamata muncul berkali-kali sejak pagi.
Namanya Damar Hidayat, Mantan Kepala Badan Gizi Nasional. Kini tersangka.
“Korupsi proyek Makan Bergizi Gratis.” Begitu tulisan besar di bawah layar televisi.
Di sebuah warung kopi kecil pinggir terminal, orang-orang menonton berita itu tanpa banyak bicara. Sesekali terdengar dengusan sinis, tawa pahit, lalu sunyi lagi. Seolah rakyat sudah terlalu akrab dengan berita semacam itu.
Namun bagi Bu Zainab, berita itu seperti petir yang menyambar dadanya. Ia mematung sambil menggenggam piring seng tipis milik anaknya.
Anaknya, Argadana, murid kelas lima SD, pernah begitu bahagia saat sekolah mulai membagikan makan gratis. Nasi hangat, telur, sayur, dan susu kecil menjadi kemewahan baru bagi anak-anak kampung yang selama ini akrab dengan perut kosong.
“Bu, sekarang aku nggak lapar di sekolah,” kata Argadana dulu dengan mata berbinar.
Kalimat sederhana itu membuat Bu Zainab menangis diam-diam malamnya.
Sebagai buruh cuci dengan penghasilan tak menentu, ia tahu rasanya memilih antara membeli beras atau membeli obat. Program makan gratis itu sempat membuatnya percaya bahwa negara akhirnya benar-benar melihat rakyat kecil.
Tapi ternyata, di balik dapur besar negara itu, ada tikus-tikus gemuk yang sedang menari dan berpesta.
Berita demi berita mulai terbuka. Mark-up pengadaan motor operasional. Televisi mahal masuk anggaran dapur gizi. Perjalanan dinas fiktif. Komisi proyek. Uang miliaran mengalir ke kantong-kantong pribadi.
Di layar televisi, para tersangka berjalan memakai rompi oranye. Kepala mereka tertunduk, tetapi kamera menangkap jam tangan mahal di pergelangan tangan mereka. Warung kopi mendadak riuh.
“Dasar tikus!”
“Makan uang anak-anak!”
“Masih sempat beli TV 75 inci!”
Seorang bapak tua menggeleng pelan sambil menyeruput kopi pahitnya.
“Yang dicuri itu bukan uang,” katanya lirih. “Yang dicuri itu harapan.”
Kalimat itu membuat warung mendadak hening.
***
Di gedung tahanan yang dingin, Damar Hidayat duduk bertiga. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia mendengar suara detak jam begitu jelas.
Tidak ada ajudan. Tidak ada wartawan yang berebut wawancara. Tidak ada pejabat yang menyalami sambil tersenyum. Hanya tembok kusam dan bau lembap.
Ia menatap tangannya sendiri. Tangan yang dulu menandatangani proyek bernilai triliunan. Tangan yang dulu dielu-elukan sebagai penyelamat gizi bangsa. Namun kini tangan itu gemetar.
Ingatannya melayang pada masa kecilnya di desa. Dulu ia pernah menjadi anak kurus yang sulit makan. Ibunya sering membagi satu telur untuk tiga anak. Karena itulah ia menangis ketika pertama kali dipercaya memimpin program makan gratis nasional.
“Akhirnya tidak ada anak lapar lagi,” katanya dalam pidato pelantikannya dulu.
Orang-orang bertepuk tangan. Ia sendiri hampir percaya pada kata-katanya. Namun kekuasaan datang bersama godaan.
“Semua juga begini, Pak.”
“Anggap saja uang lelah.”
“Proyek sebesar ini mustahil bersih.”
Begitu kata kroni-kroninya. Sedikit demi sedikit nurani mulai kalah oleh angka-angka.
Hotel mewah. Mobil baru. Rumah megah. Perjalanan luar negeri. Jam tangan mahal. Dan semua terasa wajar karena semua orang melakukannya.
Sampai akhirnya ia lupa satu hal paling penting, bahwa setiap rupiah yang dicuri berasal dari piring rakyat.
***
Di sebuah sekolah dasar pelosok, program makan gratis mendadak berhenti selama penyelidikan berlangsung. Hari itu Argadana kembali membawa bekal seadanya. Nasi dingin dengan lauk tempe. Temannya bahkan hanya membawa air putih.
Guru mereka mencoba tersenyum.
“Nanti programnya jalan lagi,” katanya pelan.
Tetapi anak-anak itu tidak benar-benar mengerti soal korupsi. Mereka hanya tahu satu hal: perut mereka kembali lapar.
Saat jam istirahat, Argadana duduk sendirian di pojok kelas sambil memandangi piring plastik kosong. Ia teringat telur rebus dan susu yang dulu rutin datang.
“Kenapa dihentikan?” tanyanya pada ibunya malam itu.
Bu Zainab terdiam lama sebelum menjawab.
“Karena ada tikus yang rakus.”
“Rakuskah sampai makanan anak-anak dimakan juga?”
Pertanyaan polos itu menusuk lebih tajam daripada berita televisi mana pun. Bu Zainab tak sanggup menjawab.
***
Sidang korupsi itu akhirnya menjadi tontonan nasional. Jaksa membacakan angka-angka fantastis. Puluhan miliar. Ratusan miliar. Uang negara menguap seperti asap.
Tetapi di luar gedung pengadilan, seorang bocah kecil berjualan tisu di lampu merah sambil menahan lapar. Ironisnya, bocah itu seusia anak-anak yang seharusnya menerima makan gratis.
Damar Hidayat melihatnya dari balik mobil tahanan. Mata bocah itu sayu. Bajunya lusuh. Namun entah mengapa, wajah bocah itu mengingatkannya pada dirinya sendiri saat kecil.
Tiba-tiba dadanya sesak. Ia sadar selama ini dirinya tidak sekadar mencuri uang. Namun ia telah mencuri kesempatan anak-anak untuk tumbuh sehat. Mencuri tenaga seorang ibu miskin. Mencuri masa depan. Dan pencurian paling besar adalah ketika ia membuat rakyat kehilangan kepercayaan.
Malam itu di sel tahanan, Damar menangis untuk pertama kalinya. Bukan karena hukuman. Bukan karena jabatan yang hilang. Tetapi karena ia sadar telah berubah menjadi tikus yang dulu paling ia benci.
***
Beberapa bulan kemudian, program makan gratis perlahan diperbaiki oleh seorang ibu berhijab mantan jurnalis. Pengawasan diperketat. Dapur-dapur sekolah dibangun ulang dengan sistem transparan. Banyak relawan muda ikut mengawasi distribusi makanan.
Di sekolah Argadana, makan siang kembali tersedia. Hari itu Arga menerima sepiring nasi hangat lengkap dengan lauk sederhana. Ia tersenyum lebar.
“Bu, makanannya datang lagi.”
Bu Zainab memandang anaknya sambil menahan air mata.
Di televisi tua rumah mereka, berita tentang vonis para koruptor masih terus berjalan. Namun Bu Zainab memilih mematikan televisi itu.
Ia lebih suka melihat anaknya makan dengan lahap. Karena di negeri ini, mungkin harapan memang sering dicuri.
Tetapi selama masih ada orang-orang kecil yang tetap jujur, harapan itu tak akan benar-benar mati. Sejarah pun tetap selalu mengingat, bahwa tikus bisa menggerogoti piring rakyat kapan saja.