Cerita Fiksi
Sepotong Ayam Bumbu
Aku pernah percaya bahwa cinta itu sederhana. Tidak perlu mahal dan tempat yang mewah. Tidak perlu janji yang rumit dan kata-kata yang besar. Cukup sepotong ayam bumbu nasi kapau bersama ayah.
Dulu, Kamis adalah hari yang paling aku tunggu. Hari di mana Ayah selalu menjemputku sepulang sekolah, menggandeng tanganku dengan erat, lalu berkata, “Hari ini kita ke pasar, ya.”
Suaranya hangat, seperti pelukan yang tak pernah ingin kulepas. Pergi ke pasar bersamanya adalah petualangan kecil yang tak pernah terlupakan.
Kami berjalan menyusuri jalanan yang mulai ramai. Tangan kecilku selalu menggenggam jari telunjuknya. Di antara suara tawar-menawar, aroma sayur segar, dan teriakan pedagang, ada satu tujuan yang selalu sama, sebuah kedai nasi kapau di sudut pasar.
“Ayam bumbu yang besar ya, Mak,” pesan Ayah dengan senyum lebarnya.
Aku selalu mendapatkan bagian terbaik. Potongan ayam dengan kuah kental berwarna kemerahan, harum rempahnya menyusup ke dalam dada. Ayah akan meniupkan nasi di piringku sebelum menyuapiku.
“Pelan-pelan, panas,” katanya.
Aku tertawa kecil, merasa menjadi anak paling beruntung di dunia.
Kadang aku sengaja makan pelan, supaya waktu bersamanya terasa lebih lama. Kadang aku merengek minta tambah, saat itu juga Ayah memindahkan potongan ayamnya ke piringku.
“Kalau kamu besar nanti,” kata Ayah, “Ayah tetap traktir kamu ayam bumbu.”
Aku mengangguk penuh keyakinan, tanpa pernah membayangkan bahwa ada janji yang tak selalu bisa ditepati, bukan karena lupa, tapi karena berubah. Ada kenangan yang bisa menjadi sesuatu yang menyakitkan.
Saat aku menginjak dewasa, perlahan, ayam bumbu itu tak lagi menjadi tujuan kami, tanpa kusadari, rumah kami berubah.
Awalnya hanya percakapan yang mulai jarang. Lalu, suara-suara pelan di malam hari yang berubah menjadi bisikan tajam. Hingga suatu hari, bisikan itu menjadi pertengkaran yang tak lagi bisa disembunyikan.
Aku tidak pernah benar-benar mengerti kapan semuanya mulai retak. Yang aku tahu, ada nama lain yang sering disebut. Ada pesan-pesan yang disembunyikan. Ada senyum Ayah yang tak lagi sama saat pulang ke rumah. Dan ada Ibu… yang semakin sering menangis diam-diam.
Sejak itu, Kamis tak lagi sama. Tak ada lagi genggaman tangan. Tak ada lagi pasar. Tak ada lagi sepotong ayam bumbu yang terasa hangat.
Ayah masih ada di rumah, tapi terasa jauh. Jauh sekali.
“Kamu pikir aku tidak tahu?” suara Ibu bergetar.
Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Suara mereka pecah menjadi pertengkaran.
“Jangan buat masalah!” bentak Ayah.
Aku berdiri di balik pintu, memeluk diri sendiri. Kata-kata yang mereka lemparkan terasa asing, tapi juga menakutkan. Ada nama lain disebut. Ada tangis. Ada amarah.
Dan sejak malam itu, rumah kami tak pernah lagi sama.
Ayah tidak pernah lagi mengajakku ke pasar. Kadang ia pulang larut malam tanpa menyapaku. Jika aku mencoba mendekat, ia hanya menjawab singkat.
“Ayah… kapan kita terakhir makan ayam bumbu, ya?”
Aku sengaja mengeluarkan pertanyaan itu, hanya untuk mencari kehangatan itu kembali.
Namun, ia hanya menatapku sekilas, lalu kembali ke ponselnya. “Kamu sudah besar. Nggak perlu manja begitu.”
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, rasanya seperti sesuatu yang patah di dalam diriku.
Tidak sampai dua tahun berselang, semua yang aku takutkan benar-benar terjadi, semua kehangatan itu benar-benar berakhir. Perceraian itu datang seperti hujan deras yang tidak bisa dihentikan.
Rumah kami menjadi lebih sunyi, tapi juga lebih sesak. Seolah setiap sudut menyimpan kenangan yang tak bisa dilupakan, tapi juga terlalu sakit untuk diingat.
Aku tinggal bersama Ibu. Dan Ayah, perlahan menghilang dari kehidupanku.
Yang lebih menyakitkan bukan hanya kehilangan. Tapi perubahan. Ayah yang dulu menyuapiku dengan sabar, kini menjadi orang yang mudah marah. Setiap kali kami bertemu, selalu ada saja yang salah di matanya.
“Kamu ini nggak tahu hormat sama orang tua.”
“Kamu makin keras kepala.”
“Kamu berubah.”
Aku sering ingin bertanya, siapa sebenarnya yang berubah?
Ingin berteriak bahwa aku tidak pernah berubah. Bahwa aku masih anak kecil yang sama, anak kecil yang dulu selalu ia suapi dengan penuh kasih. Tapi kata-kata itu selalu tertahan di tenggorokan. Yang keluar hanya air mata.
Aku tumbuh, tapi bukan dengan utuh. Ada bagian dari diriku yang tertinggal di masa lalu, di sebuah kedai nasi kapau, di antara aroma gulai dan suara Ayah yang penuh cinta.
Langkah kakiku terasa berat, tapi ada sesuatu yang menarikku ke kedai nasi itu. Seolah-olah kenangan memanggilku pulang.
Kedai itu tak berubah sama sekali. Aroma ayam bumbu tiba-tiba membuatku tersenyum.
Tanpa sadar, aku memesan sepiring nasi kapau. Sama seperti dulu, kuah kental, potongan ayam bumbu yang menggoda, aroma yang begitu familier.
Aku menatapnya lama, lalu mengambil satu suapan. Aku menelan dengan susah payah. Bukan karena pedas, tapi karena rindu yang tiba-tiba menyeruak. Entah kenapa, air mataku jatuh.
Ada rasa yang berbeda.
Tidak ada yang meniupnya lebih dulu. Tidak ada yang menyuapkannya. Tidak ada suara hangat yang berkata, “Pelan-pelan, panas.”
Aku tersenyum pahit. Kini aku hanya duduk sendiri tanpa orang yang dulu memberiku kehangatan dan mencintaiku tanpa syarat.