Cerita Fiksi

Perjamuan Remah di Pelataran Menara

Perjamuan Remah di Pelataran Menara
ilustrasi Perjamuan Remah di Pelataran Menara (Gemini AI)

Kota ini tidak pernah benar-benar tidur, ia hanya memejamkan satu mata, sementara mata lainnya tetap terjaga, mengawasi gerak-gerik para kurcaci yang berebut oksigen di sela-sela kepulan timbal. Aku adalah salah satu dari mereka. Namaku Duryat. Sebuah nama yang terdengar purba, seperti bunyi gesekan batu kali atau rintihan pintu kayu yang dimakan usia. Ayah memberikannya dengan harapan aku akan memiliki daya tahan, sebuah daya hidup yang liat di tengah dunia yang makin gemar menggilas mereka yang lemah.

Malam ini, langit Jakarta tampak seperti kain beludru kumal yang disulam dengan cahaya lampu merkuri. Aku berdiri di trotoar, di depan sebuah menara kaca yang ujungnya seolah hendak menusuk lambung Tuhan. Di dalam sana, orang-orang dengan setelan seharga rumah kontrakanku setahun sedang merayakan sesuatu. Mungkin merayakan angka-angka yang membiak di layar komputer, atau keberhasilan mereka menyulap udara menjadi emas.

"Kemiskinan adalah dosa bagi mereka yang malas," begitu kata orang-orang sukses itu. "Bekerjalah cukup keras, maka kau akan sampai ke puncak."

Aku menatap telapak tanganku yang kasar serupa ampelas. Sudah dua puluh tahun aku menghamba pada aspal. Aku telah melakoni apa saja. Menjadi kuli panggul yang membiarkan tulang punggungnya melengkung demi memindahkan beban orang lain, menjadi tukang sampah yang memilah sisa-sisa nafsu manusia, hingga kini menjadi penjaga malam di sebuah gudang yang dinginnya sanggup membekukan sumsum tulang. Apakah aku malas? Oh, jangan tanya soal peluh. Peluhku, jika dikumpulkan, mungkin sanggup melunakkan aspal yang kupijak setiap hari. Aku bangun saat matahari bahkan belum sempat mengucek mata, dan pulang saat rembulan sudah bosan terjaga.

Tetapi, mengapa tangga menuju puncak itu tidak pernah ada? Mengapa setiap kali aku mencoba melangkah naik, lantai yang kupijak mendadak berubah menjadi es yang licin, atau lebih buruk lagi, menjadi lumpur isap yang menarikku lebih dalam?

***

Aku teringat mendiang Ayah, seorang lelaki bernama Kasantika. Ia adalah penganut teguh prinsip "kerja jujur". Baginya, kejujuran adalah mata uang yang paling berharga. "Duryat," katanya suatu hari sambil mengunyah sirih, "biarpun perutmu melilit, jangan pernah kau curi sebutir nasi pun yang bukan hakmu. Gusti Allah mboten sare. Kerja keras dan jujur akan membawamu pada kemuliaan."

Ayah mati dalam keadaan jujur, tetapi juga dalam kesunyian yang papa. Ia mati karena paru-parunya penuh dengan debu pabrik tekstil tempat ia mengabdi selama tiga puluh tahun tanpa pernah mencicipi jabatan mandor. Kejujurannya hanya membuahkan selembar sertifikat penghargaan yang kini menguning dan dimakan rayap. Di dunia ini, Ayah, kejujuran sering kali dianggap sebagai ketidakmampuan untuk bersikap "licin". Kejujuran adalah rem bagi mereka yang ingin melesat di jalan tol kesuksesan yang penuh dengan praktik suap dan sikut.

Pernahkah kalian membayangkan sebuah perlombaan lari dengan garis start yang berbeda-beda? Di menara kaca itu, anak-anak muda yang baru lulus dari universitas di seberang lautan memulai lari mereka sepuluh meter menjelang garis finis. Mereka dibekali sepatu lari paling mutakhir, nutrisi terbaik, dan angin yang ditiupkan ke punggung mereka agar mereka melayang. Sedangkan aku? Aku memulai lari dari dalam parit yang berlumpur, lima kilometer di belakang mereka, dengan kaki telanjang dan sekarung beras di pundak. Lalu, dunia dengan ringannya berteriak, "Ayo lari! Siapa yang bekerja keras, dia yang menang!"

Tiba-tiba, sorot lampu mobil yang menyilaukan memotong lamunanku. Sebuah sedan mengilap berhenti tepat di depan gerbang.

"Kenapa kau melamun, Duryat?" Suara bariton itu memecah sunyi.

Itu Pak Wibisana, manajer operasional gudang. Namanya gagah, tetapi kelakuannya tidak jauh beda dengan Sengkuni dalam pewayangan. Ia keluar dari mobilnya, tampak begitu rapi seolah baru turun dari awan. Aroma parfum mahalnya menyeruak, terasa asing dan menusuk paru-paruku yang terbiasa dengan bau debu.

"Tidak ada, Pak. Hanya sedang menghitung bintang," jawabku datar.

Ia terkekeh, suara tawanya terdengar seperti kertas yang diremas. "Bintang itu untuk dilihat, bukan dihitung. Orang miskin itu terlalu banyak mikir, makanya tidak maju-maju. Kerja saja yang benar. Bulan depan ada lemburan, ambil kalau mau tambah-tambah."

Lemburan. Sebuah kata halus untuk eksploitasi yang legal. Aku mengangguk pelan. Aku butuh uang itu untuk biaya sekolah anakku, satu-satunya jembatan agar ia tidak berakhir menjadi "Duryat" berikutnya. Aku ingin ia bisa membaca peta dunia, bukan hanya membaca rute angkot. Namun, di tengah malam yang makin larut, sebuah tanya menghantam kepalaku: apakah benar pendidikan adalah jalan keluar? Ataukah ia telah menjadi bagian dari industri yang memisahkan si kaya yang akan menjadi pemimpin dan si miskin yang dipersiapkan menjadi sekadar tenaga kerja yang terampil?

Aku melihat anak-anak di lampu merah. Mereka masih kecil, tetapi tatapan mata mereka sudah setua sejarah penderitaan manusia. Mereka tidak malas. Mereka gesit menerobos bahaya di sela-sela roda truk. Tetapi apakah mereka punya kesempatan? Jika sistem tetap membiarkan mereka di sana, sekeras apa pun mereka bekerja, mereka hanya akan berpindah dari satu trotoar ke trotoar lainnya.

Mari kita bicara soal "kerja jujur" di zaman yang gila ini. Aku melihat seorang pejabat di televisi, wajahnya cerah, bicaranya santun. Ia baru saja tertangkap mencuri uang rakyat dalam jumlah yang bisa menghidupi tujuh turunan keluargaku. Dan apa yang terjadi? Ia hanya dipenjara beberapa tahun di sel yang fasilitasnya lebih mewah dari rumahku, lalu keluar dan tetap bisa menikmati sisa jarahannya.

Sementara itu, temanku, seorang buruh harian yang mencuri sebatang pohon kayu karena terdesak biaya pengobatan istrinya, dihajar massa hingga babak belur dan dipenjara bertahun-tahun tanpa pembelaan yang layak.

Di mana letak kejujuran dalam timbangan yang miring ini? Dunia seolah berbisik di telingaku, "Jujur itu baik untuk poster di sekolah, Duryat. Tapi di jalanan, kau butuh taring."

Tetapi aku tidak punya taring. Aku hanya punya doa-doa yang kupanjatkan di antara sujud-sujud panjangku yang melelahkan. Aku masih percaya pada sesuatu yang lebih besar dari sekadar sistem ekonomi yang busuk ini. Aku masih percaya bahwa keringat yang jatuh karena niat mencari nafkah yang halal tidak akan pernah sia-sia di mata Sang Pencipta. Meski mungkin, imbalannya tidak berupa apartemen di pusat kota atau mobil mewah. Mungkin imbalannya adalah ketenangan saat memejamkan mata, sesuatu yang barangkali tidak dimiliki oleh mereka yang tidurnya harus dibantu oleh pil penenang karena dihantui rasa bersalah.

***

Tiba-tiba, gerbang menara kaca itu terbuka. Sebuah mobil mewah meluncur keluar. Di dalamnya, kulihat sepasang kekasih sedang tertawa. Mereka tampak begitu ringan, seolah-olah gravitasi tidak berlaku bagi mereka. Mereka tidak tahu betapa beratnya hanya untuk berdiri tegak di atas tanah ini.

Aku memandang telapak tanganku yang kasar. Garis-garis tanganku tampak seperti peta jalan yang rumit, penuh dengan persimpangan dan jalan buntu. Di manakah garis keberuntungan itu? Mengapa ia tampak begitu kabur?

Mungkin, kelas hidup bukan untuk dinaiki seperti tangga, melainkan untuk diruntuhkan seperti tembok. Tetapi siapa yang cukup kuat untuk meruntuhkan tembok yang fondasinya sudah tertanam sejak ratusan tahun lalu? Tembok yang diperkuat oleh hukum, oleh kebijakan, bahkan oleh pemikiran-pemikiran yang menganggap kemiskinan adalah keniscayaan alamiah.

"Duryat! Jangan bengong terus! Cek pintu belakang!" teriak Darmandika, rekan kerjaku yang jalannya sudah terseret usia.

Aku tersentak. Ya, inilah realitasku. Solilokui ini harus berakhir. Aku melangkah menuju pintu belakang gudang yang gelap. Di setiap langkah, aku merasakan bumi yang kupijak bergetar, bukan gempa, melainkan jutaan orang seperti aku yang sedang berjalan bersama, memikul beban yang sama di bawah bayang-bayang menara yang angkuh. Kami adalah sekrup-sekrup kecil yang memastikan mesin kota ini tetap berjalan. Jika kami berhenti, kota ini akan lumpuh. Namun, kota ini tidak pernah mau mengakui keberadaan kami, kecuali saat kami menjadi angka-angka dalam statistik kemiskinan yang dibahas di seminar-seminar ber-AC.

Malam makin luruh. Angin berembus membawa aroma debu dan sisa pembakaran. Aku duduk kembali di kursi kayu yang reot, membuka bekal makanku: nasi putih dengan sepotong tempe dan sambal yang sudah dingin. Inilah perjamuanku. Di pelataran menara yang megah ini, aku memakan remah-remah nasibku dengan penuh khidmat.

Kerja keras saja memang tidak cukup, Kawan. Diperlukan lebih dari sekadar otot untuk mengubah nasib di tengah sistem yang tidak adil. Dan soal kejujuran? Aku tetap memilihnya. Bukan karena aku naif, melainkan karena hanya itulah yang tersisa dari martabatku sebagai manusia. Jika aku kehilangan itu, aku benar-benar tidak punya apa-apa lagi untuk diwariskan kepada anakku selain kemiskinan itu sendiri.

Bintang-bintang masih di sana, jauh dan tak terjangkau. Tetapi setidaknya, cahayanya jatuh sama rata, baik ke atap menara kaca maupun ke kepalaku yang penuh uban.

"Esok akan tetap sama, Duryat," bisik angin malam.

"Tapi aku akan tetap bangun, tetap bekerja, dan tetap menjadi manusia," jawabku dalam hati.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa tinggi kita naik yang menentukan siapa kita, melainkan seberapa kuat kita bertahan tanpa harus kehilangan jiwa di tengah badai ketidakadilan yang tak kunjung reda.

Kota ini kembali mendengkur. Menara kaca itu tetap tegak, dingin, dan angkuh. Dan aku, Duryat, tetap di sini, menjadi saksi atas setiap detak jantung kemiskinan yang struktural, yang sunyi, namun tetap berdenyut melawan waktu.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda