Cerita Fiksi

Angkot Biru Favoritku

Angkot Biru Favoritku
Ilustrasi Angkot [Pexels/Ari Setiawan]

Ketika mengendarai mobil, angkot kerap menjadi salah satu biang kemacetan di jalanan. Sopir mengetem sembarangan, menghalangi jalan, hingga memicu kekesalan pengendara roda empat. Namun, rasa kesal ini tidak hanya dirasakan oleh mereka, sebagai penumpang pun aku merasakan kejengkelan yang sama meski dipicu oleh alasan yang berbeda.

Angkot rute Cikampek–Purwakarta dan sebaliknya adalah angkot "favoritku" setiap hari untuk pulang-pergi sekolah. Kata "favorit" di sini tentu bermakna sarkas—bukan karena aku menyukai pelayanannya, melainkan karena terpaksa menaikinya setiap hari. Saking seringnya menjadi penumpang, para sopir bahkan mulai mengenali wajahku dan sesekali mengajak mengobrol.

Jarak dari rumah ke sekolah berkisar 15 kilometer. Saat berangkat, aku menggunakan angkot langganan (abonemen) agar tidak terlambat. Sementara saat pulang, aku harus menaiki dua angkot seperti biasa, yaitu angkot nomor 02 dan 43. Angkot pertama adalah angkot Purwakarta Kota yang melayani rute Simpang–Sadang. Sementara angkot terakhir adalah angkot "favorit" yang super menyebalkan itu.

Suatu hari, aku sedang menunggu angkot tersebut di daerah Sadang untuk pulang ke rumah. Tak lama kemudian, ada angkot yang menghampiriku. Sopirnya lalu berkata: "Masih muat di dalam. Bu, Punten, geser sedikit."

Aku heran dengan maksud perkataannya. Kursi di dalam sudah terisi penuh oleh penumpang, jadi aku menolaknya dengan halus. Pikirku, masih ada angkot lain yang akan lewat. Lagipula, masa aku harus lesehan di sela-sela kaki penumpang yang sedang duduk? Lebih baik aku bersabar daripada merampas ruang napas mereka.

Sejujurnya, menunggu angkot pada malam hari seusai kegiatan ekskul—di tengah guyuran hujan deras dan sambaran petir yang bersahut-sahutan—membuat suasana terasa makin mencekam. Parahnya, setelah itu angkot jarang lewat. Sambil menggenggam payung tanpa berteduh, aku tetap bertahan di pinggir jalan karena tak ingin tiba di rumah terlalu larut, meski orang tuaku pasti memaklumi situasinya.

Setelah sekian lama menunggu, angkot akhirnya melintas. Sayangnya, angkot itu melaju secepat kilat dengan kondisi kursi yang sudah penuh terisi. Aku terpaksa menunggu lagi dan lagi. Tak lama kemudian, angkot lain melintas, tetapi sama saja melaju kencang tanpa berniat berhenti.

Aku mencoba tetap sabar, meski harus menanti dalam ketidakpastian. Mau bagaimana lagi? Aku harus pulang, dan satu-satunya pilihan adalah menaiki angkot biru tersebut. Aku percaya bahwa kesabaran akan berbuah manis, dan keyakinan itu seolah langsung terjawab. Angkot akhirnya berhenti tepat di depanku. Tanpa pikir panjang, aku langsung naik dengan harapan bisa segera tiba di rumah. Namun, di tengah jalan, sopir tiba-tiba menghentikan mobilnya dan memintaku turun.

"Aduh. Rumah saya di Cibungur. Turun di sini saja, ya. Enggak apa-apa, kan?"

"Iya, enggak apa-apa, Pak," jawabku. Gapapa semua di-gapapa-in, aku mengiyakan saja sambil menyodorkan ongkos.

"Kurang ini uangnya, sepuluh ribu lagi."

(Aku hanya bisa beristigfar dalam hati) "Ini, Pak."

Kejadian seperti ini bukan pertama atau kedua kalinya terjadi. Para sopir angkot "favoritku" ini memang kerap meminta ongkos lebih secara sepihak. Meskipun aku pulang di luar jam sekolah normal, aku kan masih mengenakan seragam sekolah. Rasa-rasanya ingin kulemparkan uang itu tepat ke wajah melasnya. Sudah membayar sesuai tarifnya malah dipalak lagi. Alhasil, berat di ongkos padahal hanya diantar setengah jalan. Saat itu juga, amarahku memuncak.

Meski geram setengah mati, aku tetap memberikan uang tambahan tersebut. Aku malas berdebat dengan orang yang tidak punya empati di malam yang dingin ini. Apalagi besok aku harus sekolah, rasanya membuang-buang energi saja jika harus meladeni sopir miskin yang tak ada hati itu.

Akhirnya, aku kembali menunggu angkot berikutnya. Untungnya, hujan mulai mereda. Perasaanku sedikit lebih tenang, meski pandangan agak terganggu oleh gemerlapnya lampu jalan. Sorot lampu dari mobil dan motor yang lalu-lalang cukup menyilaukan mata, membuatku kesulitan mengenali angkot dari kejauhan. Namun, kesabaranku berbuah manis. Angkot akhirnya datang dan mengantarkanku sampai ke tujuan akhir. Meski begitu, pengalaman dipalak malam itu tidak akan pernah kulupakan.

Praktik pemalakan terselubung ini sebenarnya cukup sering terjadi, bahkan kadang berturut-turut. Hingga pada suatu sore sepulang sekolah, puncak kekesalanku benar-benar pecah. Aku melihat seorang kakek yang duduk di sebelah sopir menyodorkan uang pas. Namun, sopir itu mengelabuinya hingga si kakek terpaksa merogoh kocek lagi untuk memberi uang lebih. Masalahnya bukan karena si kakek murah hati, melainkan karena perilaku buruk sopir ini dibiarkan terus-menerus hingga menjadi kebiasaan yang dinormalisasi.

Melihat kakek itu diperdaya, aku langsung menyiapkan strategi saat hendak turun nanti. Tepat ketika angkot berhenti dan jarum speedometer menunjukkan angka nol, aku langsung meletakkan ongkos pas di jok depan, lalu secepat kilat melangkah pergi tanpa menunggu respons sang sopir.

Sesuai dugaan, sopir menjengkelkan itu langsung membunyikan klakson berulang kali. Meskipun sopirnya berbeda dari kejadian malam itu, kelakuan mereka ternyata sama saja. Aku paham mereka harus mengejar setoran di tengah sepinya penumpang, tetapi mencari rezeki dengan cara memeras seperti ini jelas tidak akan mendatangkan berkah.

Sambil melangkah pergi diiringi bisingnya suara klakson, aku hanya bisa mengelus dada. Di tengah gempuran ojek online yang kian menjamur, harusnya mereka bersyukur masih ada penumpang setia yang mau naik angkot.

Uang sepuluh ribu rupiah yang mereka peras dari anak sekolah mungkin hanya akan habis menjadi asap rokok. Padahal, di rumah ada keluarga yang menanti nafkah yang halal dan berkah. Tuhan tidak tidur, dan cara kotor seperti ini bukanlah jalan mencari nafkah yang diridai-Nya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda