Cerita Fiksi
Hikayat Tanah yang Berkhianat
Di dapur yang hanya diterangi cahaya perak dari sela-sela dinding bambu, Nayau menatap dasar kuali tanah liatnya dengan pandangan kosong. Bukan aroma kemangi atau sengatan cabai yang menguap dari sana, melainkan kepulan uap air tawar yang seolah mengejek laparnya. Di atas meja kayu yang mulai lapuk, terserak beberapa lembar uang kertas yang sudah kusam dan berbau keringat—hasil jerih payahnya memeras kain di rumah juragan tambang di seberang sungai.
Nayau tinggal di sebuah ceruk pelosok bernama Hulu Rimba. Dahulu, desa ini adalah lumbung hijau tempat air mengalir tanpa perlu diminta dan tanah memberi tanpa perlu dipaksa. Namun pagi ini, Hulu Rimba tampak seperti lukisan yang diletakkan terlalu dekat dengan api. Warna hijaunya memudar, berganti cokelat kusam yang retak-retak.
“Emak, perutku seperti dipilin,” suara Tayan, anak bungsunya, memecah kesunyian. Bocah itu duduk di ambang pintu, menatap halaman rumah yang kini hanya berisi debu dan bangkai pohon pisang yang lunglai.
Nayau mendekat, mengelus rambut Tayan yang kasar karena debu. “Tunggu sebentar, Nak. Emak ke pasar bawah. Siapa tahu ada kiriman sayur dari lereng atas yang masih tersisa.”
Nayau tahu itu adalah harapan yang tipis. Di pelosok ini, perubahan iklim bukan sekadar narasi di layar televisi yang jarang mereka tonton. Itu adalah kenyataan pahit yang merayap di bawah kaki mereka. Hujan yang biasanya mengetuk atap pada bulan kesepuluh, kini menghilang entah ke mana, meninggalkan matahari yang berpesta pora di atas ladang yang mati suri.
***
Pasar di Hulu Rimba yang biasanya menjadi pesta warna, kini lebih mirip penampungan pengungsi. Lapak-lapak bambu melompong. Para pedagang hanya duduk melamun, mengusir lalat yang bahkan tampak enggan terbang. Nayau berjalan menyusuri lorong pasar yang berbau tanah kering. Ia melihat beberapa truk besar melintas di jalan raya desa, membawa peti-peti kayu berisi sayuran segar dan buah-buahan mengilap. Namun, truk itu tidak berhenti. Mereka melaju kencang menuju kota atau langsung ke meja makan para petinggi tambang yang memiliki lemari pendingin sebesar gudang padi. Bagi mereka yang punya kuasa, musim bisa dibeli dan kesegaran bisa diimpor.
Langkah Nayau terhenti di depan lapak Amai Sura, seorang petani tua yang punggungnya sudah melengkung serupa busur panah. Di depannya, tersaji pemandangan yang menyedihkan: seonggok sawi yang kerdil, batangnya kurus, dan daunnya menguning di tepian—seolah tanaman itu telah menyerah sebelum sempat tumbuh.
“Hanya ini yang tersisa dari ladangmu, Amai?” tanya Nayau dengan suara parau.
Amai Sura mengangkat wajah. Matanya keruh, seperti telaga yang mengering. “Tanah sudah tidak lagi mengenali air, Nayau. Aku menanam saat seharusnya hujan turun, tapi yang datang justru angin panas yang membakar pucuk-pucuk muda. Musim telah dicuri dari kami. Langit telah menjadi orang asing.”
Nayau menyentuh sawi itu. Terasa kasar, tak ada lagi sisa embun yang biasanya menghuni pori-pori sayuran. “Berapa harganya?”
“Lima belas ribu seikat,” jawab Amai Sura lirih.
Nayau terperanjat. “Amai, ini hampir separuh upah cuciku sehari. Untuk sawi yang sudah sekarat begini?”
Amai Sura terbatuk, suaranya seperti gesekan batu koral. “Nak, aku tidak sedang menjual sayur. Aku menjual sisa-sisa napasku. Aku harus membeli beras yang harganya sudah melompat setinggi pohon kelapa. Jika kau tak mau, biarlah. Nanti sore, orang-orang kota akan membelinya untuk pakan ternak, sementara kita berebut sisa-sisanya.”
Dengan tangan gemetar, Nayau menyerahkan uangnya. Ia merasa bukan sedang membeli sayur, melainkan membeli sebuah kekalahan.
***
Sesampainya di rumah, Nayau kembali ke dapurnya yang temaram. Sawi kerdil itu tergeletak di atas talenan. Pikirannya melayang pada hutan-hutan di sekitar desa yang kini gundul, digantikan lubang raksasa tempat alat berat mengeruk isi bumi. Mereka bilang itu kemajuan, tapi bagi Nayau, itu adalah pemakaman massal bagi masa depan anaknya.
“Langit sudah lupa caranya menangis,” bisiknya pada bayangannya sendiri. “Dulu kami adalah tuan di tanah sendiri, menimang padi dan memeluk sayur yang segar oleh napas alam. Kini, yang tersisa di atas piring hanyalah amarah yang direbus bersama sayur yang menguning sebelum waktunya. Berapa lama lagi perut kami sanggup menelan debu yang disulap menjadi makanan?”
Ia mulai memotong sawi itu. Bunyi pisau yang beradu dengan papan kayu terdengar seperti detak jantung yang lelah. Tidak ada air mata yang jatuh, karena bahkan air mata pun terasa terlalu mewah untuk dibuang di musim kering ini.
***
Malam jatuh di Hulu Rimba tanpa membawa embun. Nayau menghidangkan semangkuk sayur bening di depan Tayan. Hanya ada garam dan sedikit bawang yang layu sebagai bumbunya. Tayan menyuapkan kuah panas itu ke mulutnya, lalu mengernyit. “Pahit, Mak.”
Nayau tersenyum getir, hatinya perih seperti tersiram cuka. “Itu rasa kekuatan, Tayan. Sayur ini bertahan dari matahari yang sangat galak agar bisa sampai ke perutmu. Makanlah, agar kau punya tenaga untuk bermimpi tentang hujan.”
Di luar, angin kencang bertiup, membawa aroma debu dan asap pembakaran lahan. Nayau berdiri di depan jendela, menatap lereng gunung yang dulu hijau royo-royo, kini tampak seperti arang di bawah cahaya bulan yang pucat.
Kedaulatan pangan bagi Nayau bukan lagi soal statistik di atas kertas pejabat. Ia adalah soal apakah esok hari Amai Sura masih punya sesuatu untuk dijual, atau apakah tanah di belakang rumahnya masih punya nyawa untuk menumbuhkan sebatang serai. Ia tahu, esok ia harus mencuci lebih banyak baju milik mereka yang tak pernah merasakan pahitnya sawi kuning.
Nayau menutup pintu rapat-rapat, mengunci kemiskinan dan harapan di dalam ruangan yang sama. Sementara di kejauhan, musim yang hilang tak kunjung menunjukkan jalan pulang.