Cerita Fiksi

Aritmia Hening

Aritmia Hening
ilustrasi Aritmia Hening (Gemini AI)

Di kota Vaeloria, matahari tidak pernah terbit dengan rasa haru. Ia hanyalah sebuah bola gas pijar yang muncul tepat pada pukul 05:30, memantul pada dinding-dinding pualam dan kaca kromatik yang membungkus permukiman urban. Tidak ada aroma kopi yang membangkitkan kenangan, tidak ada sapaan hangat yang mengandung basa-basi. Semuanya adalah presisi.

Namaku Zulvark. Aku adalah unit pemelihara data di Menara Ekuilibrium. Tugasku sederhana: memastikan denyut jantung setiap warga di distrik ini tidak melebihi 70 detak per menit. Di pergelangan tangan setiap manusia, tertanam sebuah cakram perak kecil bernama Anestesia. Ia bukan sekadar alat; ia adalah nabi baru yang menghapus segala jelaga emosiamarah, cinta, kecemburuan, hingga duka yang paling purba.

Dunia telah menjadi sebuah simfoni yang lurus. Tanpa jeda, tanpa nada tinggi yang memekakkan telinga, tanpa nada rendah yang merobek jiwa.

Aku duduk di kereta magnetik menuju tempat kerja. Di depanku, seorang perempuan bernama Lystra menatap jendela dengan mata yang jernih, sejernih air di laboratorium. Kami pernah berbagi ruang hidup selama tiga periode rotasiapa yang dulu manusia purba sebut sebagai “pernikahan”. Namun, ketika kontrak kami berakhir, kami berpisah tanpa air mata. Kami hanya saling bertukar kode verifikasi, mengemas barang dengan efisiensi yang menakjubkan, dan melangkah ke arah yang berbeda.

Apakah dunia menjadi lebih baik?

Pertanyaan itu muncul seperti sebuah anomali, seekor serangga kecil yang terjebak dalam mesin jam yang rumit. Aku menatap telapak tanganku. Kulitku halus, tanpa bekas luka akibat kecerobohan emosional. Tidak ada lagi perang. Tidak ada lagi patah hati yang membuat orang melompat dari gedung tinggi. Kemiskinan diatasi dengan distribusi logistik yang matematis. Semua orang memiliki porsi yang cukup, karena tidak ada lagi keserakahan.

Namun, pagi ini, ada sesuatu yang berbeda. Di meja kerjaku, aku menemukan sebuah rekaman analog yang tertinggal di tumpukan data usangsebuah artefak dari era Pra-Anestesia.

Aku memasangnya pada pembaca optik. Suara yang keluar adalah suara seorang anak kecil yang menangis karena balonnya meletus. Isaknya terdengar tidak beraturan. Ada jeda napas yang tersengal, ada frekuensi yang pecah. Itu adalah suara yang sangat ... kotor. Berantakan.

Tapi entah mengapa, dadaku terasa sesak. Anestesia di pergelangan tanganku mulai bergetar, mengirimkan gelombang penenang ke aliran darahku. Jarum indikatornya berubah dari hijau menjadi jingga samar.

“Zulvark,” suara Vorn, pengawas distrik, membuyarkan lamunanku. Ia berdiri dengan postur sempurna, wajahnya sekaku patung marmer. “Ada fluktuasi pada bioritmemu. Jelaskan.”

“Hanya sinkronisasi data yang berat, Vorn,” jawabku datar, mengikuti protokol bahasa yang efisien.

“Pastikan itu tidak berulang. Ketidakteraturan adalah bibit anarki.”

Vorn pergi. Ia tidak berjalan, ia meluncur dengan keanggunan seorang predator yang telah kehilangan taringnya. Aku kembali menatap layar. Mengapa suara tangisan itu terasa lebih “nyata” daripada keheningan di ruangan ini?

***

Malam harinya, aku berjalan menyusuri lorong-lorong Vaeloria. Lampu-lampu neon memendarkan cahaya biru yang dingin. Di taman kota, bunga-bunga hasil rekayasa genetika mekar tanpa aroma, karena bau bisa memicu memori, dan memori adalah pintu menuju emosi.

Aku duduk di bangku taman, di samping seorang pria tua bernama Eosynth. Ia adalah salah satu dari sedikit orang yang masih mengingat transisi besar itu.

“Eosynth,” bisikku. Suaraku terdengar seperti gesekan kertas di atas meja besi. “Sebelum Anestesia, apakah manusia benar-benar menderita?”

Eosynth menoleh perlahan. Matanya yang keruh seolah menembus dinding-dinding kaca di sekeliling kami. Ia tampak kesulitan mencari kata-kata, seolah sedang menggali bahasa yang sudah lama terkubur.

“Kita tidak hanya menderita, Zulvark. Kita hancur. Kita saling membakar karena perbedaan warna bendera, kita saling mengkhianati karena sebongkah emas. Dunia dulu adalah tempat yang sangat bising.”

“Lalu, mengapa aku merasa ada yang hilang?”

Ia mencoba membentuk sesuatu yang menyerupai senyuman, meski otot wajahnya kaku karena jarang digunakan. “Karena kau sedang mencari bayangan di ruang yang tidak memiliki cahaya. Tanpa kegelapan emosi, cahaya moralitas pun kehilangan maknanya. Kita sekarang tidak menjadi ‘baik’, Zulvark. Kita hanya menjadi ‘patuh’. Ada perbedaan besar di antara keduanya.”

“Patuh itu terukur. Baik itu ... abstrak,” kataku, mencoba merasionalisasi.

“Benar,” sahut Eosynth. “Tapi lihatlah sekelilingmu. Semua orang bergerak seperti jarum jam. Mereka tidak memiliki arah, mereka hanya memiliki lintasan. Jika kau mencabut rasa sakit dari manusia, kau juga mencabut kemampuannya untuk bermimpi. Karena mimpi lahir dari rasa tidak puas terhadap kenyataan.”

Aku terdiam. Kalimatnya meresap ke dalam pori-poriku, lebih tajam dari jarum penenang Anestesia. Aku menyentuh cakram perak di pergelanganku. Tiba-tiba, ia terasa seperti borgol yang sangat berat.

“Apa yang akan terjadi jika aku melepas ini?” tanyaku.

Eosynth menatapku tajam. “Kau akan merasakan segalanya sekaligus. Seperti air bah yang menjebol bendungan. Kau mungkin akan gila, atau kau mungkin akan menjadi manusia pertama yang benar-benar hidup di kota ini. Tapi ingat, di dunia yang rata ini, puncak gunung adalah sebuah ancaman.”

Aku kembali ke apartemenku yang steril. Ruangan itu serba putih, tanpa sudut tajam, tanpa bayangan yang mengancam. Aku berdiri di depan cermin. Wajah yang menatapku adalah wajah yang tenang, namun asing.

Aku mengambil sebuah pahat presisi yang biasa kugunakan untuk memperbaiki perangkat keras. Dengan tangan gemetarsebuah gerakan yang seharusnya mustahil bagi warga Vaeloriaaku mulai mencungkil pinggiran Anestesia itu.

Sakit.

Itu adalah sensasi fisik pertama yang kurasakan setelah bertahun-tahun. Rasa perih yang menjalar, tajam, dan murni. Aku terus menekan. Darah merah yang sangat menyala mulai merembes keluar. Warnanya begitu kontras dengan dinding putihku, seperti sebuah lukisan abstrak yang berteriak.

Klik.

Cakram itu terlepas dan jatuh ke lantai dengan denting yang nyaring. Seketika, dunia meledak. Udara di ruangan yang tadinya terasa hampa, tiba-tiba dipenuhi oleh bau debu, aroma keringatku sendiri, dan hawa lembap dari hujan yang belum turun. Telingaku berdengung. Aku teringat ibuku yang meninggal saat aku masih kecilsebuah fakta yang selama ini tersimpan di laci data tanpa rasa. Sekarang, duka itu menghantamku seperti godam. Aku tersungkur di lantai, dadaku sesak oleh udara yang mendadak terasa panas. Air matacairan asin yang sudah lama dianggap punahmengalir deras membasahi pipiku. Aku menangis. Aku tertawa. Aku merasa takut.

***

Aku merangkak menuju jendela dan melihat ke luar. Di bawah sana, ribuan orang berjalan dengan langkah yang sinkron. Mereka terlihat seperti hantu yang terjebak dalam purgatori yang rapi. Mereka tidak tahu bahwa di atas kepala mereka, langit malam sebenarnya tidak hanya hitam, tapi biru tua yang dalam dan penuh misteri.

Aku menyadari satu hal: dunia tanpa emosi memang lebih efisien, lebih damai, dan lebih aman. Tapi ia tidak memiliki jiwa. Ia adalah sebuah mesin yang terus berputar tanpa pernah tahu mengapa ia harus berputar. Sebuah simfoni yang sempurna adalah simfoni yang memiliki jeda, disonansi, dan membiarkan pendengarnya merasa gelisah sebelum akhirnya menemukan resolusi.

Tanpa kesedihan, kebahagiaan hanyalah angka nol. Kini, aku adalah seorang kriminal. Aku adalah pembawa aritmia di tengah detak jantung yang monoton. Aku tahu, besok pagi Vorn dan unit keamanan akan datang menjemputku. Mereka akan memasang kembali perangkat itu, atau mungkin menghapus keberadaanku karena aku dianggap sebagai “data yang korup.”

Namun, saat aku menatap matahari yang mulai mengintip di cakrawalakali ini dengan rasa takut dan kagum yang luar biasaaku tahu satu hal.

Selama beberapa jam ini, aku bukan lagi sebuah robot. Aku bukan lagi sekadar warga distrik. Namaku adalah Zulvark, dan aku baru saja lahir ke dunia yang sangat kacau, sangat menyakitkan, dan sangat indah ini.

Aku memejamkan mata, membiarkan rasa takut itu memelukku dengan hangat. Di kota yang hening ini, akhirnya, aku bisa mendengar detak jantungku sendiri. Ia tidak lagi teratur. Ia melompat, ia melambat, ia menari. Ia hidup.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda