Cerita Fiksi

Runtuhnya Republik Marilah Cerita Sebelum Fajar Tiba

Runtuhnya Republik Marilah Cerita Sebelum Fajar Tiba
Belum genap dua hari berdiri, sebuah mini-republik rahasia di sudut warkop harus menemui ajalnya setelah sebuah amplop cokelat dari birokrasi kampus tiba di atas meja. (Gemini Ai)

Asap rokok malam ini terasa lebih pekat, berkejaran dengan aroma kopi saset yang diseduh Mas Rio dengan terburu-buru. Warkop Marilah Cerita masih sama seperti kemarin, yakni lampu neon yang agak berkedip, meja-meja kayu yang retak, dan pendar cahaya hangat yang intim. Namun, beban moral di atas pundak kami, Fajar, aku, dan beberapa mahasiswa lain, terasa jauh lebih berat.

Dua puluh satu jam telah berlalu sejak bendera Republik Marilah Cerita resmi dikibarkan di atas meja warkop ini. Malam ini awalnya berniat membahas pembentukan kementerian formal. Fajar, sang mahasiswa pertanian, bahkan sudah menyiapkan memo lusuh berisi struktur idealis negara mini ini lengkap dengan nama kementerian yang terdengar muluk-muluk.

Namun, pembahasan itu runtuh dalam hitungan menit.

"Buat apa kalian bikin kementerian berbelit-belit?" celetuk Pak Hendra, pria paruh baya yang istrinya adalah dosen killer di kampus kami. Ia sedang mengaduk kopi hitamnya, menampilkan gurat wajah yang menyimpan lelah menumpuk.

"Kalian yang muda-muda ini, para mahasiswa, diposisikan saja sebagai eksekutor," lanjut Pak Hendra. Suaranya pelan, tetapi menusuk. "Tugas kalian itu turun langsung, menerapkan hasil diskusi Republik ini di luar sana, baik di kampus atau sebagai pandangan di kancah politik nasional. Tidak perlu jabatan formal. Kalian adalah ujung tombak."

Ide Pak Hendra seperti melempar korek api ke dalam tumpukan jerami kering. Di sinilah kaukus menemukan bentuknya yang absurd, tetapi cerdas. Para pria tua dan berkeluarga seperti Pak Hendra yang datang ke warkop sekadar melepas penat dari persoalan rumah tangga dan tagihan dapur, akan mengambil peran sebagai "Kaukus Sepuh" atau penasihat strategi. Mereka memberikan wejangan, arahan, dan pandangan strategis yang sudah teruji oleh kerasnya realitas kehidupan untuk kemudian diterapkan oleh para mahasiswa muda yang tenaganya masih berapi-api.

"Kami kasih visi, kalian yang kasih tenaga," jelas Pak Hendra. "Republik kita ini tidak butuh struktur formal. Kita butuh aksi diam-diam."

Kesepakatan tercapai dengan cepat. Di warkop ini, para sepuh menyusun strategi untuk diterapkan para muda di dunia nyata, baik itu di lingkungan kampus maupun di kancah nasional. Namun, kedaulatan baru ini memiliki batas waktu yang rigid. Kedaulatan tersebut hanya aktif ketika azan Magrib berkumandang sampai jam tiga pagi. Setelah itu, Republik Marilah Cerita menguap, dan warkop ini kembali seutuhnya menjadi bagian dari Republik yang asli.

Diskusi makin hangat, menyentuh detail-detail taktis, ketika kegelisahan mulai merayap di wajah Mas Rio. Ia berhenti mengelap meja, lalu menatap kami dengan cemas.

"Kalau sampai birokrasi kampus atau intelijen negara mencium gerakan ini, warkopku bisa kena segel. Kuliah kalian taruhannya, tetapi warkop ini adalah dapur tempat saya menyambung hidup. Bagaimana cara menjaga kerahasiaan kedaulatan ini?"

Fajar dan Pak Hendra saling berpandangan. Keheningan pekat kembali menguasai Warkop Marilah Cerita. Kabinet rahasia ini belum genap berusia dua hari, tetapi tantangan utamanya telah tiba, yakni menjaga kerahasiaan dari ancaman dunia luar.

Di tengah suasana yang mencekam itu, pintu warkop mendadak didorong dari luar. Engselnya berderit nyaring. Seorang pria asing yang wajahnya tidak pernah kami lihat sebelumnya melangkah masuk. Ia mengenakan jaket gelap dengan topi yang diturunkan rendah sehingga menyembunyikan sepasang matanya di balik bayangan.

Suasana warkop mendadak senyap. Bunyi sendok yang beradu dengan gelas seketika terhenti. Pria itu tidak memesan kopi. Ia hanya berjalan lurus ke meja tempat kami melingkar, meletakkan sebuah amplop cokelat tebal dengan stempel lilin resmi kampus yang retak, lalu berbalik dan pergi secepat ia datang, menghilang di kegelapan jalan tanpa sepatah kata pun.

Jantung Fajar berdegup kencang menatap amplop itu. Dengan tangan agak gemetar, ia perlahan merobek segelnya. Di dalam, selembar kertas putih bersih memuat tulisan dengan tinta merah tebal yang tegas:

"Kalian membuat minirepublik di bawah hidungku? Bodoh. 'Shadow Cabinet' kalian adalah ilusi, tetapi penandatanganan draf birokrasi kampus untuk membatasi kedaulatan warkop ini adalah fakta yang baru saja kusetujui tadi siang. Kedaulatan sejati tidak akan pernah ada, bahkan di Warkop Marilah Cerita."

Di bawah teks merah tersebut, ada satu tanda tangan tunggal dengan tinta hitam tebal yang sangat kami kenali, yaitu tanda tangan Rektor kampus.

Keheningan pekat kembali menguasai Warkop Marilah Cerita. Kertas putih itu perlahan remuk di dalam kepalan tangan Fajar. Konstitusi yang baru saja kami susun dengan idealis di bawah pendar lampu hangat warkop, mendadak menjelma menjadi lelucon usang yang menertawakan diri kami sendiri. Kami menyadari bahwa minirepublik absurd kami tidak pernah benar-benar tersembunyi. Sistem birokrasi yang kaku telah menguntit kami sejak awal, dan mereka melakukan sabotase justru saat kami merasa paling merdeka.

Republik Marilah Cerita ternyata tidak pernah benar-benar ada. Ia hanya riak kecil dalam cangkir kopi yang pecah. Dan malam ini, republik itu telah menemui ajalnya justru di tangan sosok yang bernama Fajar, bahkan sebelum fajar yang sesungguhnya menyingsing di ufuk timur. Di warkop yang remang-remang ini, kedaulatan kami berakhir dengan getir, runtuh oleh selembar draf birokrasi yang jauh lebih nyata daripada seluruh idealisme kami.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda