Cerita Fiksi

Lelaki yang Menawarkan Euforia Lewat Kereta Luncur di Tengah Belantara

Lelaki yang Menawarkan Euforia Lewat Kereta Luncur di Tengah Belantara
ilustrasi lelaki di atas tebing (Unsplash/Ali Kazal)

"Kenapa kau tidak suka ke pusat perbelanjaan?”

Aku meliriknya sinis. “Bokek. Negeriku kena inflasi gede. Nilai tukar kurs anjlok.”

Lelaki di sampingku tertawa renyah. “Kenapa tidak ke taman kota? Atau desa wisata?”

Kulemparkan kerikil ke riak sungai di depan kami. “Jaraknya lumayan. Mau gowes naik sepeda capek, dan aku mageran. Mau naik motor, ya harus beli bensin. Pokoknya sayang banget kalau duit dibuang-buang begitu saja, in this economy.”

Sejujurnya, aku tidak lagi terkejut sedang berada di mana sekarang. Lagi-lagi, aku terdampar di lanskap antah-berantah, di mana pokok-pokok pohon besar tumbuh dan dinaungi oleh dedaunannya yang rimbun. Selayang pandang, kudapati ada beberapa jenis pohon, yakni mahoni, trembesi, sengon, wadang, dan asam.

Dan keberadaan sosok lelaki dengan bayangan dahan yang senantiasa jatuh di wajahnya. Lelaki yang selalu berbusana hitam. Kali ini dia mengenakan celana kain, kaus polo, dan sepatu olahraga hitam yang kontras dengan kulit cerahnya. Dengan postur tinggi tegap dan rambut segelap malam, dia lantas berdiri.

“Kenapa tidak berpetualang saja? Mendaki gunung, misalnya?” Dia lalu bersiul, mencoba menyatu dengan nyanyian burung. “Atau keliling desa dan menyusuri sungai?”

“Mendaki gunung itu butuh ongkos. Butuh tubuh dan tenaga yang prima juga.” Aku tertawa miris. “Bagi perempuan seusiaku, banyak pelesiran dan main-main ke tempat wisata yang ada malah jadi omongan.”

“Omongan bagaimana?”

Kali ini kulemparkan batu sebesar kepalan tangan ke arah sungai, menciptakan riakan besar. “Orang bakal membicarakan macam-macam: perawan tualah, belum nikah-nikahlah, banyak main bukannya nabunglah, sampai dikira melonte. Bikin pekak kuping saja.”

“Jangan dengarkan omongan orang lain. Mereka tidak tahu apa pun tentangmu.” Sudut bibir lelaki itu tampak tertarik. “Anggap saja latihan mental.”

Aku ingin menggeplak kepalanya. Namun, belum sempat kulakukan, dia justru berjalan menjauh melintasi jalan setapak dan masuk ke area hutan. Entah mengapa, aku malah mengikutinya dari belakang.

Kawasan hutan ini selayaknya hutan heterogen pada umumnya. Sejauh mata memandang, aku mendapati beberapa jenis pohon yang kutahu, antara lain mahoni, sengon putih, sengon buto, wadang, waru, trembesi, serta beberapa pohon buah semisal nangka dan mangga. Ada aroma humus dan tanah basah yang berpadu ciamik dengan aroma rerumputan.

Kalau angin berembus, terbanglah dedaunan mahoni tua yang berwarna kemerahan mirip daun mapel. Embusannya pun menggoyangkan sesemak di kanan dan kiri jalan setapak ini. Terdapat gulma-gulma liar yang memiliki bunga-bunga menawan, seperti Vernonia, kembang songgolangit, maman lanang, sampai putri malu. Pun terdapat rumput-rumput ginting yang tumbuh subur bersisian dengan tapak liman, patikan kebo, bayam duri, serta sulur-sulur pare dan sembukan liar.

“Kita mau ke mana?” tanyaku setelah beberapa saat kami berjalan. “Kamu tidak bakal membawaku kabur ke Singapura, kan?”

Terdengar kekehan renyah darinya tanpa jawaban.

Selang beberapa menit masuk ke dalam hutan, lelaki ini kemudian berhenti tepat di suatu tebing. Bukan model tebing batu curam menurutku, melainkan dataran bukit yang cukup tinggi ketimbang daratan di depan kami. Mau dibilang jurang pun mustahil sebab lanskapnya landai, mirip area seluncuran.

“Ayo naik kereta seluncur,” katanya. Dia kemudian menyuruhku untuk duduk di sebuah kereta luncur rakitan berbahan bambu dan kayu, lengkap dengan jalurnya yang mirip rel mini berbahan serupa juga. “Pending dulu stresmu sekarang. Nanti silakan dilanjutkan kembali.”

“Kenapa juga aku tadi tidak membawa parang?” gumamku lirih.

Lelaki itu lalu menjelaskan fungsi tuas kereta luncur yang berguna untuk mengerem lajunya. Dia juga menjelaskan detail bahwa jalur kereta ini cukup jauh dan hampir melewati area hutan.

“Lho, ini tidak ada sabuk pengamannya?” tanyaku lagi.

Namun, bukannya menjawab, dia justru mendorong kereta luncurku yang langsung meluncur kencang menuruni daratan tinggi ini sambil berteriak heboh, “Have fun!”

“Woy, ini gimana weh?!”

Kurasakan adrenalin terpacu sembari mengatur laju kereta dan berusaha menikmati pemandangan yang tersaji. Lanskap hutan ini begitu menawan, teduh, rindang, dan dipenuhi gema alam yang nyaman. Termasuk keberadaan bajing yang melompat ke sana kemari, burung-burung yang beterbangan, sampai adanya bunglon di beberapa titik pohon. Sajian konfeti alam dari baling-baling alami biji mahoni pun terasa memanjakan mata sekali.

“Kenapa kau mengerem keretamu? Kau jadi lambat.”

Aku menoleh ke belakang dan mendapati lelaki tadi cengar-cengir di atas kereta luncur yang lain. “Kok ikutan juga?”

Dia berdecak ringan. “Lajukan lagi keretamu.”

Sejak tadi, aku memang menarik tuas perlahan supaya kereta meluncur pelan. Namun, karena lelaki itu terus merecokiku supaya melaju lebih cepat, ya sudahlah. Kulepaskan tuas rem dan kini kereta luncur kami melaju kencang.

Aku berpegangan pada badan kereta sambil berteriak histeris karena kencang sekali. Bahkan, kami menerabas dahan yang jatuh di sepanjang jalur sambil tertawa-tawa.

“Kapan keretanya berhenti?” tanyaku sambil berteriak.

“Sebentar lagi.”

Kami berada di atas kereta luncur cukup lama dan kian merasuk ke dalam hutan. Hingga pada akhirnya, kereta berhenti di ujung jalur. Kami berdua lalu turun dengan euforia dan sisa-sisa adrenalin.

“Wah, keren! Ini sih lebih seru dibandingkan naik roller coaster di wahana wisata,” pujiku.

Lelaki itu berdecih. “Kau berkata begitu karena tidak punya dana untuk pergi ke tempat wisata.”

Aku hanya cengengesan karena itu betul. Setelahnya, lelaki itu tampak celingak-celinguk sebelum memandangi jam tangan hitamnya.

“Kenapa?” tanyaku penasaran.

“Kabutnya bakal turun.”

“Memangnya kenapa kalau kabutnya turun?”

“Kau harus pulang.”

Tepat setelah itu, kabut turun perlahan. Semula tipis sekali, kemudian berubah menjadi tebal dan putih di mana-mana. Namun, aku tidak panik. Sebab setelahnya, aku bangun dari tempat tidur dengan euforia yang masih tersisa.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda