Kolom

Darurat Moral dan Runtuhnya Integritas di Balik Algoritma Novel Online

Darurat Moral dan Runtuhnya Integritas di Balik Algoritma Novel Online
Ilustrasi seornang wanita sedang membaca novel online (Gemini AI)

Mencela genre bacaan orang lain dengan dalih bahwa bacaan kita jauh lebih "berkelas" karena berkiblat pada Kafka, Orwell, atau Pramoedya adalah tindakan yang tidak beradab. Sastra bukan ruang untuk merasa paling benar. Namun, ada saatnya kita harus berhenti diam dan mulai menggugat fenomena yang kini mencengkeram selera bacaan lintas generasi.

Saat ini, kita menyaksikan pergeseran selera yang mengkhawatirkan. Bukan hanya Gen Z, fenomena "karya instan" ini juga menghipnotis pembaca lintas usia, termasuk kaum milenial dan ibu-ibu. Masalah utamanya adalah mahalnya akses terhadap buku fisik berkualitas di tengah masyarakat yang sebenarnya haus akan bacaan. Ketika buku berkualitas terasa sebagai barang mewah dan perpustakaan belum terjangkau, platform novel online hadir menawarkan "jalan pintas" yang gratis. Sayangnya, jalan pintas ini sering kali berakhir di lubang yang sama: seksualitas yang vulgar.

Mereka memang  memasang peringatan "21+" yang tidak lebih dari formalitas sebuah kunci gembok yang bisa dibuka oleh siapa saja dengan satu kali klik. Bahkan tangan bayi sekalipun. Peringatan seperti ini hanyalah bentuk cuci tangan alias menyerhakan segala kebijakan kepada pembaca. Tragisnya isi novel , belum juga masuk ke konflik yang berarti, paragraf pertama sudah "basah". Narasi dibangun semata-mata untuk memicu gairah instan, sementara alur cerita hanyalah tempelan untuk menyambung satu bab ke bab lainnya.

Secara pribadi, saya merasa bacaan seperti ini menjijikkan. Ini bukan soal sok suci, tapi soal bagaimana kita menormalisasi perzinahan dan pelecehan sebagai sebuah "hiburan". Ketika sosok mahasiswa menjadi simpanan atau terlibat hubungan toksik, cerita tersebut sedang menumpulkan empati dan mengaburkan batas etika di dunia nyata.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah glorifikasi atas nama dark romance. Dalam genre ini, karakter perempuan sering digambarkan lemah tak berdaya, sementara karakter pria mendominasi dengan obsesi yang disalahartikan sebagai cinta. Parahnya, kekerasan fisik dan seksual sering dibungkus sebagai "gairah". Hubungan kasar yang digambarkan di dalamnya bisa berakibat fatal secara medis—seperti risiko pendarahan hingga kerusakan jalan lahir—jika dipraktikkan di dunia nyata. Belum lagi konten yang menormalisasi penyimpangan seperti sodomi, yang disajikan seolah estetis, membuat anak muda rentan terjerumus gaya hidup bebas tanpa takut akan ancaman penyakit menular seperti HIV atau gonore.

Saya sendiri pernah hampir terjebak. Suatu ketika, saya melirik sebuah platform novel online yang tawaran cuan-nya sangat menggiurkan. Branding dan pemasarannya begitu apik, sampai saya sempat tertarik untuk menjadi kolaborator atau penulis di sana. Syaratnya sederhana namun spesifik: karakter utama harus laki-laki.

Namun, setelah saya meluangkan waktu mempelajari novel-novel terlaris di platform tersebut, saya syok bukan main. Ternyata, pola yang mereka tuntut bukanlah tentang petualangan atau pertumbuhan karakter, melainkan karakter laki-laki yang menjadi pemuas nafsu tante-tante atau tokoh-tokoh yang haus akan kepuasan sesaat.

Saya menyadari dengan pahit bahwa di platform tersebut, sangat jarang ditemukan tokoh utama laki-laki yang berkembang karena skill, integritas, atau perjuangan hidupnya. Jika tokoh utama tersebut tidak menjual "seksualitas", maka ceritanya dianggap tidak laku. Saya mundur. Menjadi penulis hebat tidak seharusnya berarti mengkhianati nurani. Mengapa kita harus mengikuti algoritma jika itu berarti membunuh karakter kita sendiri sebagai penulis? Lihatlah karya-karya romansa yang tetap memikat tanpa harus menyinggung seksualitas secara vulgar; itu adalah bukti bahwa kecerdasan penulis jauh lebih berharga daripada sensualitas yang dangkal.

Mungkin belum ada penelitian ilmiah mengenai efek jangka panjangnya, tapi ini opini jujur saya: tokoh-tokoh dalam novel "esek-esek" hanyalah numpang lewat. Mereka tidak akan diingat karena kepuasan yang ditawarkan hanyalah kepuasan instan. Berbeda dengan tokoh seperti Luffy, Naruto, atau Tanjiro Kamado—karakter yang tumbuh dari rasa sakit, pengorbanan, dan prinsip. Mereka abadi karena mereka merepresentasikan pertumbuhan manusia yang nyata, bukan sekadar pelampiasan libido.

Kita sedang menghadapi ancaman pendangkalan selera yang serius. Jika kita terus membiarkan algoritma menentukan apa yang kita baca dan tulis, kita sedang membunuh imajinasi kita sendiri. Bagi para penulis, mari berhenti menjadi budak viewers yang mendegradasi martabat manusia. Bagi pembaca, jangan biarkan waktu Anda habis untuk konsumsi yang hanya membuat pikiran menjadi tumpul. Sastra seharusnya menjadi cermin yang merefleksikan kemanusiaan, bukan pelumas untuk kepuasan sesaat.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda