Hotel Rajawali, sebuah bangunan tua yang kini berdiri sunyi di Jalan Magenta, telah lama meninggalkan gemanya di telinga warga sekitar. Dahulu, hotel ini adalah simbol kemegahan, tetapi kini berubah menjadi wahana rumah hantu dengan memanfaatkan suasana mistis yang menyelimutinya.
Namun, bagi mereka yang tinggal di dekatnya, seperti Rudi—seorang warga yang tinggal hanya berjarak 700 meter dari hotel tersebut sekaligus penjaganya—cerita menyeramkan tentang tempat ini sudah ada jauh sebelum berubah menjadi atraksi wisata.
Menurut legenda yang beredar, sebelum hotel tersebut dibangun, lokasi itu adalah markas tentara Jepang pada masa pendudukan. Banyak peristiwa kelam terjadi di sana, seperti penyiksaan, penahanan, dan eksekusi tanpa ampun.
Konon, mereka yang tewas di tempat itu tidak pernah menemukan ketenangan sehingga arwah mereka masih berkeliaran di lorong-lorong bangunan. Banyak warga yang bersumpah pernah melihat penampakan prajurit Jepang berkeliaran pada malam hari, mengenakan seragam lengkap sambil menatap kosong ke arah siapa saja yang melihatnya.
Rudi, yang sudah tinggal di lingkungan itu hampir seumur hidupnya, mengenang dengan jelas pengalaman-pengalaman aneh yang dialami keluarganya. Ia bercerita tentang malam-malam saat suara langkah berat terdengar dari arah hotel, meskipun sudah lama tidak ada yang menginap di sana. Pada beberapa malam yang lebih menyeramkan, suara gemerincing seperti besi beradu terdengar, seolah-olah rantai-rantai tua yang berkarat ditarik sepanjang lorong hotel yang gelap. “Suara itu selalu muncul setelah tengah malam,” kata Rudi, suaranya bergetar saat mengenang hal itu.
Pada satu malam yang tidak terlupakan, Rudi mengaku melihat sosok seorang pria tua dengan seragam lusuh berdiri di depan hotel. Dia berdiri diam dengan mata kosong menatap ke kejauhan.
"Awalnya, kupikir dia adalah penjaga malam," kenangnya.
"Tetapi saat aku mencoba menyapanya, tubuhnya perlahan memudar seperti kabut dan menghilang di udara." Rudi terdiam sejenak sembari memegangi tangannya yang gemetar.
"Setelah itu, aku tidak pernah lagi berani mendekati hotel di malam hari."
Tidak hanya itu, pengunjung yang nekat masuk ke dalam hotel sering melaporkan pengalaman serupa—suara-suara misterius, bayangan tidak berwujud, hingga sentuhan dingin yang tiba-tiba muncul. Salah seorang pekerja di wahana rumah hantu tersebut mengungkapkan bahwa meskipun tempat itu sengaja dibuat menyeramkan untuk wisata, ada kalanya hal-hal yang terjadi di dalam tidak bisa dijelaskan.
"Saya pikir itu hanya bagian dari pertunjukan," katanya.
"Tetapi ada satu malam ketika saya sedang sendirian di dalam, tiba-tiba saya mendengar suara tangisan dari salah satu kamar di lantai atas. Ketika saya naik untuk memeriksa, ruangan itu kosong, tetapi suhu di sana begitu dingin dan saya merasa ada yang mengawasi saya. Saya langsung berlari keluar dan tidak pernah masuk ke ruangan itu lagi."
Cerita demi cerita semakin menambah ketenaran tempat angker tersebut. Bangunan tua ini bukan sekadar wahana hiburan, melainkan juga tempat yang menyimpan jejak sejarah kelam. Setiap bayang-bayang yang muncul di jendelanya dan setiap suara langkah yang terdengar di lorongnya seakan menjadi pengingat bahwa ada sesuatu yang belum tuntas di tempat itu, menunggu untuk diungkapkan atau mungkin sekadar mencari kedamaian yang tak kunjung tiba.
Malam semakin larut, dan angin yang berembus di sekitar hotel membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Jalanan sepi, hanya suara dedaunan kering yang tertiup angin menyapu trotoar yang sunyi. Namun, di dalam hotel, suasana berbeda. Meskipun gedung itu kosong, ada sesuatu yang seolah-olah tetap hidup di antara dinding-dinding retak dan kusen jendela yang sudah lapuk. Sesuatu yang tidak terlihat, namun selalu ada—menunggu di dalam kegelapan.
Jam menunjukkan pukul dua dini hari ketika Rudi merasakan ada yang ganjil. Ia sedang duduk di kursi kecil dekat pintu utama, matanya mulai mengantuk ketika suara pintu berderit dari dalam bangunan tiba-tiba memecah keheningan. Jantungnya berdegup lebih cepat, tetapi ia mencoba untuk tetap tenang. "Mungkin hanya pintu yang tertiup angin," pikirnya. Namun, saat ia melangkah ke dalam untuk memeriksa, perasaan berat dan dingin langsung menyelimuti tubuhnya.
Di lantai atas, suara langkah kaki yang berat terdengar. Rudi menengadah mencoba mencari asal suara itu, tetapi yang dilihatnya hanya bayang-bayang gelap yang menari di sepanjang koridor. Lampu-lampu redup berkedip-kedip, dan semakin ia mendekat, langkah kaki itu semakin jelas—terdengar seolah-olah seseorang berjalan perlahan tetapi tegas menyusuri lantai atas.
"Siapa di sana?" seru Rudi dengan suara serak, tetapi tidak ada jawaban. Ia mulai merasakan keringat dingin menetes di dahinya meskipun udara di sekitarnya semakin dingin. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan senter dan menaiki tangga, langkah demi langkah, menuju suara misterius itu. Setiap langkah terasa lebih berat, seakan-akan ada sesuatu yang menahannya.
Saat tiba di lantai atas, koridor panjang tampak kosong, tetapi perasaan bahwa ia tidak sendirian begitu kuat. Ia menyorotkan senter ke setiap sudut, namun tidak ada yang terlihat. Rudi hampir berbalik dan merasa lega karena berpikir semuanya hanya imajinasi, sampai tiba-tiba ia merasakan sentuhan dingin di pundaknya. Refleks, ia menoleh cepat, namun tidak ada siapa pun di sana.
Seketika, suara bisikan halus memenuhi telinganya. Bisikan itu terdengar samar, namun jelas berasal dari balik pintu salah satu kamar di ujung koridor. Dengan hati-hati, Rudi mendekat, jantungnya berdetak kencang. Saat ia membuka pintu, sekejap suasana berubah. Ruangan itu kosong, tetapi hawa dingin yang menyengat langsung menyelimutinya. Di sudut kamar, samar-samar ia melihat bayangan seorang wanita berpakaian putih, berdiri diam dengan punggung menghadap ke arahnya. Tubuh wanita itu terlihat membeku, seolah-olah tidak menyadari keberadaan Rudi.
Rasa takut yang luar biasa menguasai dirinya, tetapi entah mengapa kakinya tidak bisa bergerak. Ia ingin lari, tetapi sesuatu seakan menahannya di tempat. Wanita itu perlahan berbalik, dan saat wajahnya tampak, Rudi terdiam kaku. Wajah itu pucat dan dingin dengan mata yang kosong menatap lurus ke arahnya. Bibirnya bergerak, membisikkan sesuatu yang tidak dapat didengar dengan jelas.
Kemudian, dengan suara yang serak dan terputus-putus, wanita itu berkata, "Tolong... kami terperangkap... di sini..."
Seketika itu juga, tubuh Rudi terasa seperti disambar petir. Ia sadar bahwa yang berdiri di hadapannya bukan sekadar penampakan. Arwah-arwah di Hotel Rajawali terjebak dalam penderitaan abadi, terperangkap dalam lingkaran kematian dan kenangan kelam yang tidak pernah usai. Wanita itu melangkah maju, tangannya terulur, dan dalam sekejap, Rudi merasakan sentuhan dingin yang menusuk ke dalam kulitnya.
Dalam ketakutan yang mendalam, Rudi akhirnya berhasil melarikan diri. Ia berlari keluar gedung tanpa menoleh ke belakang. Setelah malam itu, Rudi tidak pernah kembali bekerja di hotel itu. Ia tahu ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar cerita hantu di sana. Ada roh-roh yang terjebak, meminta tolong, dan mencari kedamaian yang tidak pernah mereka temukan.
Setelah malam mengerikan itu, Rudi tidak pernah kembali ke Hotel Rajawali. Namun, kisahnya menyebar cepat di antara para pekerja dan warga sekitar, membuat hotel itu semakin terkenal karena keangkerannya. Beberapa orang berani mendekat hanya untuk memuaskan rasa penasaran, namun mayoritas memilih menjauh. Bagaimanapun, rasa takut telah tertanam di hati banyak orang.
Suatu malam, seorang pemuda bernama Bimo dan teman-temannya yang skeptis memutuskan untuk membuktikan bahwa semua itu hanya takhayul belaka. Mereka berencana menghabiskan satu malam penuh di Hotel Rajawali, merekam segala sesuatu dengan kamera mereka, berharap mendapatkan "konten horor" untuk diunggah ke internet.
Dengan senter di tangan dan peralatan kamera siap, mereka memasuki gedung itu. Udara di dalam terasa lembap dan pengap, seakan-akan bangunan tersebut menyerap semua kehidupan dari lingkungan sekitarnya. Setiap sudut ruangan memancarkan aura dingin yang tidak wajar, namun Bimo dan kawan-kawannya tetap nekat.
"Ini cuma hotel tua, Bro. Angin dan suara gemerisik pasti dari bangunan yang sudah rapuh," kata Bimo mencoba menenangkan teman-temannya. Mereka tertawa, berusaha menghilangkan rasa takut yang mulai merambat di hati.
Namun, semakin dalam mereka masuk, semakin jelas bahwa tempat ini lebih dari sekadar gedung tua. Suara-suara aneh mulai terdengar. Gemerisik kecil disusul suara seperti langkah kaki yang berat. Di satu titik, salah seorang temannya, Rian, berhenti dan menatap tajam ke salah satu sudut ruangan yang gelap.
"Lihat itu..." bisik Rian dengan suara tegang, jarinya menunjuk ke arah kegelapan. Yang lain menoleh, dan di sana terlihat bayangan tinggi berdiri tegak, tetapi tidak bergerak. Sosok itu tidak memiliki wajah, hanya sebuah siluet gelap dengan tubuh yang memancarkan aura mencekam.
“Pasti itu cuma ilusi,” kata Bimo meskipun suaranya terdengar ragu. Namun, ketika disorot senter, sosok tersebut menghilang dalam sekejap—seperti debu yang ditiup angin. Jantung mereka berdetak lebih cepat. Mereka memutuskan untuk tetap melanjutkan eksplorasi.
Ketika mereka mencapai lantai dua, hawa dingin menjadi semakin menusuk. Dinding-dinding di sekitar tampak retak dan ada bekas-bekas hitam di beberapa sudut seakan-akan ada api yang pernah melahap bangunan tersebut. Tiba-tiba, suara keras terdengar dari salah satu kamar di ujung koridor seolah-olah ada sesuatu yang jatuh dengan keras.
“Kayaknya ada sesuatu di sana,” bisik salah satu dari mereka. Dengan hati-hati, mereka berjalan menuju kamar itu. Pintu kayunya berderit pelan ketika mereka mendorongnya terbuka. Ruangan itu kosong, namun hawa di dalam begitu mencekam. Tiba-tiba, pintu di belakang mereka tertutup keras, mengurung mereka di dalam kamar. Angin dingin berembus kencang dan terdengar bisikan-bisikan yang tidak jelas asalnya. Suara itu semakin keras memenuhi ruangan, seolah-olah ada banyak orang berbicara pada waktu yang sama—tetapi dalam bahasa yang asing, seperti bahasa Jepang yang lirih namun tajam.
Tiba-tiba sosok wanita yang sama dengan yang dilihat Pak Rudi muncul di sudut ruangan. Kali ini, sosok itu tidak hanya berdiri diam. Perlahan, wanita berpakaian putih itu melayang mendekati mereka. Mata kosongnya menatap langsung ke arah Bimo. Dia membuka mulut, namun bukan suara manusia yang keluar, melainkan sebuah jeritan melengking yang menusuk telinga, membuat semua orang meringkuk ketakutan.
Di tengah jeritan tersebut, bayangan-bayangan lain mulai muncul dari dinding. Mereka adalah sosok-sosok tidak berbentuk yang perlahan-lahan berubah menjadi bayangan prajurit Jepang. Beberapa dari mereka memegang senjata, wajah mereka penuh amarah dan penderitaan. Salah seorang dari teman Bimo, Fajar, terjatuh dan merasakan sentuhan dingin di kakinya—sebuah tangan hantu yang mencengkeram kuat, menariknya ke bawah.
Fajar berteriak panik dan meronta-ronta, namun semakin dia berusaha melawan, semakin kuat cengkeraman itu. Tubuhnya perlahan ditarik ke lantai seakan ada sesuatu di bawah yang ingin menghisapnya masuk. Sebelum yang lain sempat menolong, Fajar hilang begitu saja—ditarik ke dalam bayangan yang tidak berujung. Bimo akhirnya berhasil membuka pintu dengan sekali dobrakan kuat. Mereka semua berlari keluar tanpa menoleh ke belakang.
Begitu mereka berhasil keluar, pintu hotel tertutup sendiri dengan suara menggelegar. Namun, ketika mereka menoleh, Fajar tidak ada di antara mereka. Ia telah hilang, tertinggal di antara bayang-bayang kelam yang menghuni Hotel Rajawali. Sampai saat ini, Fajar tidak pernah ditemukan. Warga sekitar mengatakan bahwa arwahnya mungkin kini menjadi salah satu dari banyak jiwa yang terjebak di sana.
Keangkeran Hotel Rajawali di Solo diduga berasal dari sejarah kelamnya yang terkait dengan masa pendudukan Jepang. Banyak orang percaya bahwa kejahatan dan penderitaan yang terjadi di sana meninggalkan jejak kuat berupa energi negatif yang sulit dihapuskan. Kombinasi antara sejarah kelam masa pendudukan Jepang dan tragedi kebakaran membentuk fondasi mengapa tempat ini dianggap sangat angker oleh warga sekitar.