Parasit Rumah Tangga

M. Reza Sulaiman | Agus Yulianto
Parasit Rumah Tangga
Parasit Rumah Tangga (Sumber: Banana AI)

Di suatu malam, terlihat Vita duduk di emperan rumah. Ia ditemani pendarnya cahaya lampu neon yang menggantung. Seekor kucing putih menyantap sisa-sisa ikan tongkol. Wajah Vita terlihat layu dan matanya sembap. Kadang wajahnya ditengadahkan ke langit, berharap ada rembulan dan bintang menjadi penanda kehidupan malam.

Malam ini terlihat sekali awan begitu kelabu. Ia berharap hujan segera jatuh ke pelataran bumi membasahi tanah yang gersang sehingga menimbulkan aroma petrikor. Hampir seminggu Vita tidak mencium aroma hujan. Jika hujan turun, tubuhnya yang ramping itu ingin bermanja dengan guyuran air hujan agar lelah yang dirasakannya hilang.

Perempuan yang saat ini bekerja di sebuah pabrik garmen yang tidak jauh dari rumahnya itu berjalan mondar-mandir di pelataran rumah. Sesekali matanya memandangi ponsel yang digenggamnya seakan ada yang ditunggu. Apakah itu sebuah telepon atau hanya sebuah pesan? Entah. Setiap malam ia selalu berdiri mematung seperti menanti sebuah harapan.

“Apa kamu masih menunggu kedatangannya?” suara parau seorang perempuan tua dari dalam rumah terdengar cukup keras. Di rumah yang berukuran 9 x 4 meter itu hanya dihuni oleh tiga orang. Sebuah rumah yang dibeli oleh ibunya sendiri.

Vita tidak memedulikan suara parau itu. Tangan kanannya masih setia menggenggam erat ponsel berbentuk kotak tipis pemberian dari suaminya.

Malam ini hujan belum juga turun meski sudah terlihat kilatan-kilatan cahaya yang menjilat-jilat di wajah langit. Suara ibunya masih menggelegar seperti suara petir yang membuat hati Vita makin tersayat-sayat.

“Sampai mati pun dia tak akan berani datang ke rumah ini!” suara dari dalam rumah itu makin kencang. Vita tetap abai dengan suara itu.

Baginya, urusan kehidupan rumah tangga adalah tanggung jawabnya. Ia tidak ingin orang lain ikut campur dengan segala persoalan yang terjadi, meski itu ibunya sendiri. Baginya, aib rumah tangganya cukup dirinya dan suami yang tahu.

Hampir sepuluh tahun Vita mengarungi bahtera rumah tangga dengan lelaki pilihannya. Pernikahan itu terjadi tanpa restu dari seorang ibu. Hal itu dikarenakan ibunya sudah memiliki calon untuk putri semata wayangnya itu. Namun, Vita menolak perjodohan yang tidak berlandaskan rasa cinta karena merasa ini bukan zaman Siti Nurbaya. Karena penolakan itulah hubungan antara anak dan ibu menjadi renggang.

Vita dan suaminya dipertemukan di sebuah restoran yang menjadi langganan para pekerja pabrik. Berawal dari pertemuan di meja makan itu, sebuah perbincangan hangat menjadikan dirinya terpikat hingga akhirnya berujung pada pernikahan. Usia pernikahan mereka sudah hampir sepuluh tahun, tetapi belum juga dikaruniai momongan. Segala cara dan upaya telah ditempuhnya.

***

Tubuh Vita sudah mulai lelah menunggu kedatangan suaminya yang sudah sebulan ini tidak ada kabar. Sebagai seorang istri, wajar jika ia merindukan suaminya. Namun, bayang-bayang kejadian yang membuat tubuhnya roboh masih menancap dalam pikirannya.

Waktu itu, ketika Vita masuk ke dalam rumah usai dari tempat kerja, terdengar suara desahan di dalam kamarnya. Saat itu kondisi rumah sedang sepi. Hati Vita bergetar hebat saat mendengar suara itu. Gugup dan rasa takut menjalari tubuhnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Tangannya gemetar ketika ingin membuka pintu kamar.

Suara desahan yang tidak wajar itu makin menggila terdengar jelas di telinganya. Dengan sisa-sisa tenaganya, akhirnya pintu itu dibukanya. Tentu saja hal itu membuat orang yang berada di dalam kamar kaget seketika. Sebuah pemandangan yang tidak wajar terlihat jelas. Suaminya beradu mesra dengan seorang perempuan entah dari mana asalnya. Vita pun tidak mengenalinya.

Sebuah pengkhianatan yang terselubung begitu rapi. Ternyata, selidik punya selidik, suaminya dan perempuan itu sudah lama menjalin hubungan. Dalihnya karena dirinya mandul. Apa pun dalihnya, tidak ada kata maaf untuknya.

Bukan hanya pengkhianatan saja yang dilakukan suaminya. Kadang Vita sering mendapatkan kekerasan karena setiap gajian suaminya selalu menodongnya, meminta semua uangnya.

Sikap suaminya itu berubah ketika dipecat dari pabrik. Semenjak itu suaminya sering keluar rumah. Kadang pulang tiga kali sehari dan itu pun selalu larut malam di atas jam dua belas. Pernah Vita mencoba menanyakannya, tetapi hanya bentakan bahkan pukulan yang didapatkannya. Tidak ada penjelasan sedikit pun.

Luka makin menganga tajam di dalam hatinya. Vita mencoba menguatkan hati dan menjadi perempuan yang selalu terlihat tegar di depan orang, begitu juga di depan ibunya sendiri. Kejadian yang menimpa dirinya memang sengaja disembunyikan rapat-rapat. Ibunya pun tidak tahu dengan kehidupan rumah tangga anaknya. Vita memang seorang perempuan yang pandai menyembunyikan persoalan rumah tangganya karena pernah berjanji apa pun yang terjadi dengan pernikahannya akan dihadapinya sendiri.

Vita lebih banyak diam dan suka melamun. Suaminya juga tidak pernah bersamanya lagi. Entah ke mana? Vita pun tidak tahu. Melihat sikap anaknya itu, ibunya curiga. Selama hidup satu rumah, Vita tidak pernah bercerita satu kalimat pun tentang rumah tangganya karena menurutnya ibunya hanya akan menambah masalah.

Sikap Vita yang tidak mengenakkan membuat ibunya sakit hati. Sebenarnya ibunya tidak tega melihat putrinya selalu melamun bahkan kadang menangis. Perempuan yang setiap harinya suka memakai daster itu selalu mendoakan putrinya agar diberi kekuatan untuk menjalani kehidupan rumah tangganya. Kadang air matanya menetes tanpa disadari perempuan berusia lima puluh tahun itu.

***

“Kau pisah saja dengan suamimu itu!” gertak ibunya pada suatu waktu. Vita hanya diam. Matanya kosong.

“Lelaki yang tidak bertanggung jawab, sampai kiamat pun tidak akan bertanggung jawab. Buktinya sudah satu bulan tak kunjung kembali ke rumah.” Ibunya masih menceracau sambil tangan kirinya menunjuk-nunjuk wajah Vita. Vita hanya diam. Pandangannya tetap kosong. Entah apa yang dipikirkannya? Apakah sebuah penyesalan atau sebuah keputusan?

“Vita! Ibumu ini adalah perempuan yang telah makan pahit rayuan lelaki hidung belang. Ibu hanya tidak ingin kau menjadi korban lelaki brengsek. Bapakmu menikahi ibu hanya bermodalkan cinta. Nafkah berupa materi tidak pernah sedikit pun diberikannya. Pagi hingga sore ibu bekerja tanpa lelah hanya untuk memberi jatah uang bapakmu. Bukan hanya itu saja, ternyata lelaki brengsek itu berbuat serong dengan perempuan tetangga samping rumah setiap kali ibu bekerja. Maka kuusir bapakmu yang brengsek itu!” Emosi ibu makin menjadi-jadi.

Kali ini terlihat butiran-butiran kristal mengalir perlahan dari sudut mata Vita. Kisahmu sama persis dengan yang terjadi pada anakmu, Bu, batinnya.

“Buat apa mempertahankan lelaki yang hanya menjadi parasit bagi keluarga ini. Seharusnya seorang lelaki itu tahu diri akan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Sama seperti suamimu itu. Sudah hampir sebulan menganggur hanya minta jatah uang darimu. Tidak ada sedikit pun usaha yang ia lakukan. Ibu tidak tega setiap malam kau dipukul suamimu. Jangan kira ibu setiap malam bisa tidur nyenyak jika masih mendengar suara tangis dari dalam kamarmu.” Suara pun pecah hingga butiran-butiran air dari kelopak mata perempuan paruh baya itu menetes tak henti.

Sebagai ibu, hanya itu yang bisa dilakukannya: menasihati putri satu-satunya tanpa lelah. Semua itu agar anaknya bahagia. Perempuan yang rambutnya sudah beruban itu mendekati putri kesayangannya. Dibelai rambutnya penuh kasih sayang seperti waktu kecil dulu, lalu dikecup keningnya dan dipeluk erat. Ada sebuah kehangatan yang Vita rasakan di saat ibu memeluknya.

***

Pagi tiba, ketika akan berangkat kerja ada sebuah pesan singkat yang masuk di ponselnya. Pesan itu membuat hatinya seketika hancur. Suaminya lebih memilih perempuan yang pernah diajaknya memadu cinta di rumahnya tanpa ada penjelasan sepatah kata pun. Vita digantung nasibnya tanpa ada kata talak.

Selama ini Vita menunggu pesan atau telepon dari suaminya hanya untuk meminta talak darinya. Namun apa daya, tidak pernah ada satu pesan atau telepon yang masuk. Sebagai perempuan, ia tidak ingin nasibnya digantung.

Ada sebuah keinginan jika suatu saat nanti berpisah dari suaminya, Vita akan menerima tawaran dari ibunya untuk menikah dengan lelaki yang sempat dipilihkannya dulu. Meski lelaki itu berstatus duda dengan anak satu, istrinya meninggal karena penyakit kanker payudara.

“Kalau memang perpisahan yang Ibu inginkan, maka akan aku turuti kemauan Ibu. Jika itu membuat hati Ibu bahagia dan lapang memaafkan anakmu ini.” Akhirnya, suara itu meluncur perlahan dari bibir Vita. Mungkin kejadian yang menimpa kehidupan rumah tangganya akibat dari sikapnya yang tidak pernah mau mendengar nasihat ibunya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak