Cerita Misteri

Perempuan Misterius yang Menyeberang Jalan di Tengah Malam

Perempuan Misterius yang Menyeberang Jalan di Tengah Malam
Ilustrasi cerpen Perempuan yang Menghilang (Unsplash/Muhammad Ruqi Yaddin)

"Kamu tahu, aku nyaris terkencing di tempat,” kata Lek No sambil memelototkan mata.

“Lho, Jenengan kan sudah biasa jalan malam. Masih saja takut, Lek?” ledekku.

Lek No mengibaskan tangannya. “Kamu belum pernah ketemu demit ya?!”

Aku tertawa sambil mendengarkan penuturan Lek No, yang entah sudah berapa kali dia ulangi. Mengenai pengalamannya bertemu perempuan misterius di tengah malam. Perempuan yang membentangkan kedua tangannya sewaktu berjalan. Begini kisahnya.

Udara dingin berhembus, membayangi pekatnya malam. Jalan raya tidak pernah betul-betul terlelap. Meski mobil-mobil dan sepeda motor tidak tampak lagi, tetapi masih ada para driver truk ekspedisi antar daerah yang beroperasi. Sorot-sorot lampu truk masih berkomunikasi, meski jarak satu dengan yang lain cukup jauh.

“Nasib jadi suami, harus menghidupi anak istri. Sabar, sabar…” gumam Lek No. “Apa tidur saja ya?”

Lek No menggeleng. Esok pagi ada jadwal bongkar muatan di provinsi Jawa Tengah. Kalau malam ini dia tidur, bisa-bisa besok terlambat sampai tujuan.

“Kalau aku naik motor racing, berapa menit pasti sampai,” gumamnya lagi. “Kalau nyetir truk tronton muatan berat begini, harus jalan pelan…”

Sepanjang jalan, Lek No bergumam sendiri. Dia juga menyalakan radio guna menghalau kesunyian. Terutama sewaktu mulai memasuki area hutan, satu daerah sebelum mencapai provinsi Jawa Tengah. Beberapa lagu dan podcast hingga guyonan cukuplah menjadi teman begadang. Dari spion pun, Lek No melihat sorot lampu di kejauhan. Sepertinya truk ekspedisi lain.

“Hm, hawanya mulai tidak enak. Mana sepi sekali,”

Lek No melirik ponsel yang menunjukkan tengah malam. Dia menggeleng sesaat, sebelum melantunkan doa-doa dan terus fokus. Jalanan gelap gulita, dan angin dingin kian menusuk tulang. Lek No menggigil, meski sudah mengenakan jaket tebal.

“Waduh, demit macam apa lagi yang muncul?” tanya Lek No sewaktu mencium aroma wewangian bunga. Antara melati atau kenanga.

Lek No menggeleng lagi. Mencoba menepis bayangan-bayangan seram, dan mencegah kisah horor mampir ke pikirannya. Suara radio kian dikeraskan.

Saat Lek No melirik spion, nyalinya kian menciut begitu sorot lampu truk ekspedisi yang tadi terlihat kini tiada. Mungkin drivernya berhenti, atau berbelok arah, mengingat sebelum kawasan hutan terdapat persimpangan jalan.

“Walah, aku sendirian…”

Dari kejauhan, tampak nyala setitik cahaya. Cahaya temaram yang berasal dari lampu petromak tua. Lek No kian memelankan laju truk, hingga berhenti total dengan drivernya meringis. Hampir menangis tersedu-sedu.

Bagaimana tidak? Di dalam kawasan hutan, di tengah malam, berdirilah seorang perempuan yang memegang lampu petromak di tepi jalan. Di siang hari, Lek No tahu bahwa kawasan ini ramai sebagai salah satu jalan nasional. Tetapi di tengah malam?

Perempuan itu bertubuh langsing dan tinggi badan semampai. Dia mengenakan tanktop berwarna gelap, antara hitam atau biru, dan rok mini diatas lutut ketat. Rambut panjang sepunggungnya tergerai, bergelombang seperti lautan.

Yang aneh, perempuan itu merentangkan kedua tangannya. Berjalan menyeberangi jalan raya sambil berjinjit, dengan posisi tanpa mengenakan alas kaki. Dan yang paling salah, Lek No menyadari bahwa kakinya tidak menapak permukaan tanah.

Meski hanya diterangi oleh lampu petromak dan sorot lampu depan truk, Lek No melihat bahwa kulit perempuan itu berwarna pucat. Tepatnya kuning langsat pucat. Sosok misterius itu terus berjalan, tanpa menengok, atau menoleh sedikit pun. Seakan tidak takut kalau-kalau Lek No nekat menjalankan truknya dan menggilas perempuan tersebut.

Suasana hutan begitu sunyi, bahkan nyaris tanpa kehidupan kecuali deru suara mesin truk. Entah ke mana perginya jangkrik dan burung hantu yang selalu menghiasi.

Ada jeda kesunyian yang cukup lama, dan kengerian selama beberapa waktu. Lek No masih terpaku, menahan napas, juga menahan kencing. Hawa dingin masih menusuk tulang, dan aroma kembang menusuk indra penciuman.

Lek No mengawasi perempuan itu yang kemudian lenyap dalam pekat pepohonan. Nyala lampu petromaknya pun padam, entah pergi atau menghilang. Sepersekian detik kemudian, Lek No masih terpaku pada sisi jalan, ke titik di mana perempuan tadi menghilang, sebelum kembali menjalankan truk dengan jantung berdegup kencang.

“Entah apalah yang tadi itu.”

Hawa dingin masih mengikuti, meski tidak semenusuk tadi. Perlahan, aroma kembang juga lenyap, berganti aroma kesegaran dedaunan khas kawasan perhutanan.

Meninggalkan satu rintangan lagi, ketika Lek No mulai kebelet buang air kecil. Ada dua pilihan sebetulnya. Berhenti dan turun untuk buang hajat di tepi jalan, dengan ketakutan bahwa sosok tadi bakal kembali. Atau menggunakan botol bekas air mineral. Namun, Lek No memilih untuk melajukan truknya, guna keluar dari kawasan hutan dan mencari pom bensin terdekat.

“Orangnya cantik atau tidak, Lek?” tanyaku.

Lek No mengepalkan sebelah tangan guna mengancamku. “Cantik kalau kakinya tidak menapak tanah, ya buat apa?”

“Kan bisa dijadikan kenalan.”

Lek No menggeleng tidak habis pikir. “Boro-boro kenalan. Melihatnya saja aku sudah ketakutan.”

Kalau mengingat ekspresi Lek No saat menceritakan pengalamannya itu, aku pun ikut ngeri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda