Cerita Misteri

Misteri Lampu Petromax, Siapakah Lelaki Pengantar Makanan Tengah Malam Itu?

Misteri Lampu Petromax, Siapakah Lelaki Pengantar Makanan Tengah Malam Itu?
Ilustrasi lelaki asing (Unsplash/Isai Ramos)

Bagaimana jadinya kalau calon mempelai laki-laki terjebak di antah berantah di malam lamaran? Cerita ini dialami oleh Bapak di tahun 90an, yang dituturkan oleh Ibuk. Begini kronologinya.

“Kamu serius, Le? Pernikahan itu bukan untuk main-main. Kamu betulan siap menikah?” tanya Rusdin pada anak sulungnya, Bahri.

Bahri mengangguk mantap. “Siap, Pak. Aku sudah sering apel kesana, hehe.”

Rusdin mengusap wajahnya kasar. Dia tidak tahu kalau selama ini putranya sudah memiliki calon istri sendiri. Sialnya, Bahri baru mengutarakan keinginan untuk melamar sang gadis pada H-7 acara.

“Baik kalau begitu. Ingat ya, sekali kamu maju dan berpangkat suami, tidak ada pilihan kembali.”

Rusdin menatap Bahri yang betul-betul mantap akan keinginan untuk menikah. Tiba-tiba, memorinya kembali ke masa lampau. Momen saat Rusdin menggendong Bahri kecil untuk mengungsi dari banjir, atau saat mengantarkan bocah itu pergi sunat ke mantri. Ternyata si kecil itu sudah sedewasa ini.

Calon istri Bahri adalah seorang gadis yang tinggal di desa sebelah, tepatnya di seberang sungai. Uniknya, mereka bukan hanya tetangga desa, melainkan tetangga kecamatan hingga tetangga kabupaten.

“Pakdhe! Buruan angkat tebunya! Nanti malam aku telat ikut lamaran!” pekik Bahri pada Pakdhe Banteng, pekerja panen tebu.

“Cerewet! Nanti mulutmu kusobek baru tahu rasa!”

Hari itu, ada dua lokasi panen tebu yang harus dieksekusi. Dari lokasi pertama hingga antri bongkar di pabrik tebu kabupaten sudah memakan waktu setengah hari. Kemudian, Bahri dan para pekerja harus menuju lokasi kedua yang cukup jauh, baik dari keramaian maupun pemukiman penduduk. Pokoknya, lokasi ini berada di pelosok sekali, dan merupakan kawasan kebun tebu yang luas.

“Ri, injak pedal gasnya!” pekik Pakdhe Banteng. “Keluarkan tenagamu. Kamu kan supir, harusnya masih kuat. Beda dengan kami yang panen tadi!”

“Mulutmu! Ini ban truknya kepentong (terjebak di lumpur)!”

Para pekerja lalu mengambil beberapa ikat tebu dan meletakkannya di bawah ban-ban truk, supaya truk bisa bergerak. Namun, nihil. Usaha itu tidak membuahkan hasil.

“Ayolah…” rintih Bahri saat melihat petang mulai datang. Namun, truk dan para pekerja masih terjebak di kebun tebu. “Nanti aku ketinggalan acara lamaran.”

Para pekerja mengerahkan segala cara. Mulai dari menyisipkan batang-batang tebu di bawah ban, meletakkan papan pijakan di bawah ban, hingga mendorong truk. Namun sekali lagi nihil. Ditambah, perbekalan dan tenaga mereka sudah habis.

“Pakdhe, Paklek. Begini saja, kalian pulang saja dahulu naik jemputan Juragan Bas. Biar aku yang menunggui truk disini,” kata Bahri menyerah. Dia iba melihat wajah-wajah lelah para pekerja panen.

“Kamu seriusan, Le?” tanya Pakdhe Banteng memastikan. “Atau kamu ikutan pulang saja bagaimana? Kebun ini jauh dari pemukiman.”

Bahri menggeleng. “Nanti kalau ada apa-apa dengan truk dan muatan bagaimana, Pakdhe?”

Akhirnya, para pekerja panen tebu pun pulang naik pick up jemputan milik Juragan Bas. Meninggalkan Bahri sendirian di antah berantah.

Bahri mengomel dalam senyap. Bertemankan rokok, suara binatang malam, dan hawa dingin menusuk tulang. Ladang betul-betul gelap gulita. Jadilah Bahri berdiam diri dalam kabin truk, dan menyalakan lampu kabin sebagai pelita.

“Hm, yasudahlah. Toh para tetua pasti sibuk mendiskusikan hari baik,” gumamnya menghibur diri.

Pada era 90an, acara lamaran disebut sisetan (bahasa Jawa) dimana para orang tua dari kedua mempelai mendiskusikan hari pernikahan yang baik. Diskusi ini melibatkan perhitungan weton kedua mempelai, pemilihan bulan hijriah, hingga acuan-acuan tertentu. Oke, aku sendiri mumet soal ini.

“Dia sedang apa ya sekarang?” ucap Bahri membayangkan wajah Firda, calon istrinya.

Malam terasa berjalan lambat. Kegelapan nyaris tiada ujung. Saat Bahri melirik jam tangan, waktu sudah menunjukkan tengah malam. Perut Bahri keroncongan, dia tidak bisa tidur. Terakhir dia makan adalah sebelum panen tebu kedua, yang mana adalah siang hari. 

Bahri mencoba mengambil sebatang tebu guna mengganjal perutnya yang terus berbunyi. Hingga ujung matanya mendapati ada cahaya di kejauhan.

“Apa motor lewat ya?” 

Namun, cahaya itu bukanlah sorot lampu motor, atau mobil. Cahaya itu mirip dengan nyala lampu petromax. Tadinya, Bahri kira mungkin itu adalah penduduk lokal yang melintasi daerah ini. Namun, cahaya itu justru kian mendekati truk tempatnya berdiam diri.

“Le, tolong buka pintunya,” terdengar suara bapak-bapak, beriringan dengan ketukan di pintu truk Bahri.

Bahri membeku. Dia memastikan parang yang selalu dia bawa untuk ikutan panen tebu berada dalam jangkauan sebelum membuka pintu truk. “Nggih, Pak?”

Tampaklah sesosok lelaki paruh baya– mungkin seusia Rusdin–sedang memegangi lampu petromax, rantang tingkat, dan sebotol air putih di kedua tangannya. Lelaki itu mengulurkan rantang dan air kepada Bahri.

“Makanlah dahulu. Nanti kalau sudah selesai, rantangnya kubawa kembali,” tutur lelaki itu tenang.

Kalau di situasi normal, mungkin Bahri akan mencurigai lelaki asing itu. Atau minimal menganggapnya sebagai dedemit karena muncul di tengah malam. Namun mengingat situasinya sudah kelaparan akut, Bahri tidak memikirkan apa-apa. Bahkan saat membuka rantang dan mendapati makanan sederhana berupa nasi putih, sayur lodeh terong, dan tahu goreng, tidak ada pikiran aneh yang lewat.

Terserah saja kalau nanti kenapa-napa, pokoknya aku butuh makan dan harus tetap hidup. Ada gadis yang menunggu ijab qabulnya, begitu pikir Bahri.

“Sudah selesai, Le?” tanya lelaki paruh baya itu saat mendengar Bahri bersendawa.

“Sudah, Pak. Maturnuwun (terima kasih),”

Lelaki itu mengangguk dan tersenyum tulus tanpa berucap apa-apa. Pun sedari tadi dia diam. Tidak mencoba bicara, berbasa-basi, atau minimal mengenalkan dirinya. Pokoknya senyap, sebelum pergi meninggalkan Bahri.

“Itu orang atau bukan ya?” tanya Bahri pelan. “Ah entahlah. Alhamdulillah saja masih ada orang baik yang ngirim makanan.”

Malam itu, Bahri akhirnya bisa tidur dengan pulas. Dia mencoba tetap berpikiran positif terhadap lelaki yang memberinya makan tadi. Meski segalanya terasa ganjil. Mulai dari kemunculan lelaki itu di tengah malam, sosoknya yang pendiam dan nyaris tidak berkata apa-apa, sampai fakta bahwa seharusnya kebun ini jauh dari pemukiman. Yah apapun itu, Bahri bersyukur perutnya sudah terisi.

Pagi hari, para pekerja panen tebu sudah datang dengan pick up Juragan Bas. Sekonyong-konyong mereka menggedor pintu truk Bahri, dan mengulurkan perbekalan makanan. Mengingat kemarin petang mereka terpaksa meninggalkan Bahri sendirian. Dengan fakta perbekalan makanan yang sama habisnya.

“Le, Le. Kamu pasti kelaparan,” oceh Pakdhe Banteng seraya memeluk Bahri. Iya, orang ini memang paling ekspresif. “Ayo mangan dulu!”

Pagi itu, Bahri sarapan bersama para pekerja sambil menceritakan kejadian tadi malam. Maka, mereka mulai berasumsi macam-macam, dan terjadilah diskusi rumit khas lelaki. Setelah selesai sarapan, para pekerja mencoba menggunakan metode menyisipkan batang-batang tebu di bawah ban sama seperti kemarin.

Hasilnya? Truk berhasil keluar dari lumpur, dan mereka segera menuju pabrik gula kabupaten. Sebab, hari ini ada jadwal panen tebu di tempat yang berbeda lagi.

“Memang kayaknya kamu nggak diizinkan ikut acara lamaran, Le,” kata Pakdhe Banteng.

Bahri terkekeh. “Iya. Kena apes harus menjaga truk ini semalaman.”

“Oh iya, lelaki yang kamu sebut tadi, manusia apa bukan ya, Le?”

“Entahlah, Pakdhe….”

Dan begitulah. Bahkan hingga berpuluh-puluh tahun lamanya, Bapak masih tidak tahu apakah lelaki yang memberinya makanan malam itu adalah penduduk lokal, atau entitas lain. Mengingat sosok itu datang di tengah malam dengan membawa lampu petromax sendirian, dan keberadaan kebun tebu yang jauh dari pemukiman.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda