Dugaan kasus kekerasan yang dilakukan sosok 'sutradara terganteng' kepada seorang kru perempuan tengah menjadi sorotan massal. Hingga saat ini, belum ada informasi resmi siapa sosok yang dimaksud. Namun, publik menyebutkan nama Andi Bachtiar Yusuf (sering juga ditulis Andibachtiar Yusuf). Siapa Andi Bachtiar Yusuf?
Terlepas dari dugaan kasus yang kini menimpanya, berikut sepak terjang dan profil Andi Bachtiar Yusuf yang dikenal memiliki segudang karya.
Sekilas Informasi Tentang Siapa Andi Bachtiar Yusuf
Setelah sempat mengalami mati suri di dekade 1990an, dunia perfilman Indonesia mulai bangkit di awal medio 2000-an dan merambah ke masa kejayaannya hingga kini. Berbagai film berkualitas bermunculan dan menghibur para penikmat film di negeri ini. Berbagai genre pun saling bersaing untuk menggaet penonton sebanyak-banyaknya demi bisa meraup kesuksesan di dunia perfilman Indonesia. Namun, hal tersebut tentunya bukan perkara yang mudah. Karena, penonton pasti akan memilih dan memilah film mana yang akan mereka tonton.
Salah satu hal yang memengaruhi para penonton untuk menyaksikan sebuah film tentu saja adalah sosok yang berada di balik film tersebut. Iya, film yang dibuat oleh sutradara kenamaan, sedikit banyak akan menarik animo penonton untuk menyaksikan filmnya. Dan berbicara mengenai sutradara kenamaan Indonesia, tentu kita tak bisa mengesampingkan seorang Andi Bachtiar Yusuf yang sudah malang melintang di dunia persutradaraan film Indonesia sejak awal dekade 2000an lalu.
Biografi dan Awal Karier
Muhammad Andi Bachtiar Yusuf Siswo atau yang lebih dikenal dengan nama Andi Bachtiar Yusuf, lahir pada 15 Januari 1974 di Jakarta. Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran ini memulai debut penyutradaraannya pada tahun 2003 dengan menggarap film-film pendek. Titik awal karier sutradaranya terjadi pada tahun 2005 lalu, ketika film pendek garapannya Hardline, terpilih menjadi wakil Indonesia untuk kumpulan film pendek Piala Dunia 2006.
Dikenal sebagai sutradara spesialis genre olah raga
Semenjak keberhasilan film Hardline, kapasitas seorang Andi Bachtiar Yusuf sebagai sutradara mulai mendapatkan perhatian. Hal ini sejalan dengan produktifitas sang sutradara, yang mulai berani menelurkan film-film mayor dalam persaingan perfilman Indonesia. Dan uniknya adalah, di awal-awal kariernya, Andi Bachtiar concern dengan film-film yang mengangkat tema olahraga, terutama sepak bola. Hal ini terlihat dari karya-karyanya di rentang waktu 2007 hingga 2014 lalu, yang seringkali mengangkat olah raga sebagai tema utama dalam filmnya. Seperti contoh The Jak (2005, film documenter), The Conductors (2008, film documenter), Romeo Juliet (2009), Hari Ini Pasti Menang (2013) Garuda 19 (2014), dan Mata Dewa (2018)
Fasih di genre lain juga lho
Meski di awal-awal karier sutradaranya Andi Bachtiar Yusuf concern dengan film bertemakan olah raga, tapi jangan salah, sutradara yang satu ini juga fasih dalam menggarap film-film dengan genre lain. Contoh saja film Love for Sale (2018), Pariban: Idola dari Tanah Jawa (2019), Bridezilla (2019), Love for Sale 2 (2019), hingga film fenomenal 2022 kemarin, Baby Blues yang sangat menghibur. Bocoran terbaru, sutradara yang satu ini sedang memproduseri film Dealova 2 lho. Bahkan, tahun 2022 ini beliau juga menggarap serial terbaru berjudul Catatan Akhir Sekolah.
Bisa memainkan 4 peran sekaligus
Sebuah fakta yang unik dari seorang Andi Bachtiar Yusuf ini adalah, ternyata sutradara yang satu ini mampu berperan dalam empat bidang sekaligus lho. sebagai sutradara, penulis, produser, hingga aktor. Tercatat, sutradara yang mendapatkan penghargaan Piala Maya tahun 2019 ini dua kali terlibat sebagai aktor dalam filmnya, yakni di film Hari Ini Pasti Menang (2013, sebagai komentator / ketua umum PSSI), dan di film Hujan Bulan Juni (2017, sebagai Kepala Program Studi).
Penghargaan
Sudah banyak penghargaan yang dicapai oleh sutradara yang satu ini. Setelah film Hardline sukses terpilih sebagai official element World Cup 2006, tahun 2008 filmnya yang berjudul The Conductors berhasil menjadi film dokumenter terbaik dalam Festival Film Indonesia. Berlanjut di tahun 2018, film Love for Sale berhasil memenangkan penghargaan JAFF Indonesian Screen Awards untuk kategori skenario terbaik, dan di tahun 2019 lalu, film Love for Sale juga berhail memenangi penghargaan Piala Maya untuk kategori skenario Asli Terpilih.
Nah, bagaimana? sudah semakin kenal dengan siapa Andi Bachtiar Yusuf sekarang?