Manohara Odelia Pinot secara terbuka membicarakan hubungan pribadinya dengan sang ibu, Daisy Fajarina, yang kini sudah tidak terjalin komunikasi.
Pengakuan ini disampaikan Manohara melalui unggahan di media sosial dan langsung menyedot perhatian publik.
Perempuan yang menegaskan dirinya tidak ingin lagi disebut sebagai mantan istri Pangeran Kelantan itu menyampaikan bahwa keputusan tersebut bukan sekadar kehilangan kontak, melainkan pilihan sadar yang ia ambil sendiri.
Mengakui Memutus Kontak Secara Sengaja
Manohara mulai angkat bicara saat menjawab pertanyaan seorang netizen terkait hubungannya dengan sang ibu. Dalam unggahan story Instagram pada Senin, 5 Januari 2026, ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut bukan terjadi karena jarak atau keadaan tertentu.
"Saya tidak kehilangan kontak, saya memutuskan kontak. Kami sebenarnya tidak pernah benar-benar dekat, meskipun di depan publik mungkin terlihat demikian," tulis Manohara.
Pernyataan tersebut sekaligus mematahkan anggapan publik yang selama ini melihat hubungan ibu dan anak itu tampak baik-baik saja.
Kedekatan yang Dibangun Demi Citra
Manohara mengungkap bahwa keharmonisan yang terlihat di hadapan publik tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Ia menyebut hubungan tersebut lebih banyak dibentuk untuk menjaga kesan tertentu.
"Menjaga kesan kedekatan itu sangat penting baginya, dan itu adalah sesuatu yang diharapkan kami tampilkan agar citranya terlihat baik. Citra tersebut berfungsi sebagai salah satu bentuk kontrol," ungkap Manohara.
Menurutnya, citra yang ditampilkan di depan publik justru menjadi alat pembatas dan tekanan yang ia rasakan sejak lama.
Pengalaman Kekerasan Sejak Kecil
Lebih jauh, Manohara membagikan pengalaman pahit yang ia alami sejak masa kanak-kanak. Ia mengaku tumbuh dalam lingkungan yang sarat tekanan, manipulasi, dan kekerasan yang berlangsung dalam waktu lama.
"Secara pribadi, saya tumbuh dengan mengalami kekerasan emosional dan psikologis jangka panjang, dan pada beberapa kesempatan juga kekerasan fisik. Saya berulang kali dimanipulasi dan dimanfaatkan," imbuhnya.
Pengalaman tersebut, menurut Manohara, meninggalkan luka mendalam yang berdampak panjang terhadap kehidupannya.
Dipaksa Masuk Situasi Berbahaya di Usia Remaja
Manohara menyebut tekanan tersebut mencapai titik terberat saat dirinya masih remaja. Ia merasa dipaksa masuk ke situasi berbahaya yang akhirnya menyeret namanya ke perhatian publik.
"Itu bukan sesuatu yang saya pilih atau setujui, dan hal tersebut meninggalkan dampak buruk yang berkepanjangan," ucapnya.
Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukanlah keputusan pribadi, melainkan kondisi yang harus ia jalani tanpa persetujuan dan kendali penuh atas dirinya sendiri.
Proses Panjang hingga Berani Memutus Hubungan
Keputusan Manohara untuk memutus kontak dengan sang ibu tidak terjadi secara instan. Ia menyebut proses tersebut berlangsung perlahan selama bertahun-tahun, seiring dengan pertumbuhan emosional dan kemandiriannya.
"Memutuskan kontak tidak terjadi karena satu momen kesadaran saja. Hal itu terjadi secara perlahan selama bertahun-tahun," jelasnya.
Saat ia mulai dewasa dan tidak lagi bergantung, rasa takut yang selama ini mengekang pun perlahan menghilang.
"Seiring saya bertambah dewasa, menjadi lebih mandiri, dan tidak lagi merasa takut, kendalinya atas diri saya berhenti bekerja. Pada akhirnya, saya tidak lagi takut padanya," lanjut Manohara.
Pesan Tegas tentang Peran Seorang Ibu
Dalam unggahan berikutnya, Manohara menyampaikan pandangannya tentang peran ideal seorang ibu. Ia menekankan bahwa tugas utama orang tua adalah melindungi dan mengutamakan kepentingan anak, bukan sebaliknya.
"Seorang ibu seharusnya melindungi, merawat, dan bertindak demi kepentingan terbaik anaknya, bukan mengeksploitasi, memperdagangkan, atau membahayakan anak tersebut," tuturnya.
Pengakuan Manohara ini membuka sisi personal yang selama ini jarang diketahui publik, sekaligus menjadi refleksi tentang pentingnya batasan sehat dalam hubungan keluarga, terutama ketika menyangkut keselamatan dan kesejahteraan anak.