Aktris bertalenta Aurelie Moeremans kini tengah menjadi pusat perhatian publik setelah merilis memoar mendalam berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth. Dalam buku tersebut, ia secara berani mengungkap sisi kelam masa remajanya yang menjadi korban grooming oleh seorang pria yang usianya dua kali lipat darinya.
Sosok pelaku yang digambarkan dalam buku itu memicu diskusi luas mengenai keamanan remaja di industri hiburan. Merujuk suara.com, memoar yang diluncurkan pada awal Januari 2026 ini merinci pengalaman pahit Aurelie saat masih berusia 15 tahun.
Di mana saat itu ia mengalami manipulasi emosional, kontrol ketat, hingga isolasi sosial yang dilakukan oleh pria dewasa tersebut. Penulisan buku ini dipuji karena menggunakan sudut pandang korban yang jujur tanpa ada sedikit pun upaya untuk meromantisasi hubungan yang tidak sehat tersebut.
"Aku nulis buku tentang pengalaman aku mengalami kekerasan saat umur 15 tahun. Niatnya sederhana, berbagi, tanpa sebut nama, tanpa serang siapa pun," kata Aurelie dalam kolom komentarnya sendiri di postingan pada Jumat (9/1/2026).
Lebih jauh, Aurelie menjelaskan bahwa niatnya menulis buku ini sangat sederhana, yaitu untuk berbagi pengalaman tanpa ada keinginan menyerang pihak tertentu. Melalui tulisannya, ia menggambarkan bagaimana perlahan-lahan ia mengumpulkan kekuatan untuk menyelamatkan diri dari lingkaran kekerasan.
Namun, rilisnya buku ini ternyata memicu reaksi dari pihak yang merasa tersindir. Tak lama setelah Broken Strings viral, Aurelie mengaku merasa mulai diganggu kembali oleh pihak tertentu.
Sang aktris pun mengungkapkan rasa herannya karena meskipun ia tidak menyebutkan nama secara eksplisit, ada pihak yang merasa terusik dan justru melakukan tindakan yang berisiko bagi dirinya sendiri.
"Lucunya, ada yang merasa, lalu malah ganggu aku lagi. Padahal caranya, justru berisiko buat dirinya sendiri. Selama ini aku memilih diam, tapi diam itu pilihan, bukan kewajiban. Dan setiap pilihan punya batas," un," tambahnya.
Munculnya "Bobby" dan Gejolak di Media Sosial
Dalam narasi bukunya, Aurelie menggunakan nama samaran "Bobby" untuk merujuk pada sosok pria yang memanipulasinya. Hal ini memicu spekulasi liar dari netizen yang kemudian mengaitkannya dengan Roby Tremonti, sosok dari masa lalu Aurelie.
Identitas ini disimpulkan publik berdasarkan riwayat hubungan yang pernah terjalin di masa remaja perempuan berdarah campuran itu. Meskipun Aurelie menegaskan bahwa diam adalah pilihan dan setiap pilihan memiliki batas, situasi semakin memanas ketika akun Instagram mantan kekasihnya mulai menjadi sasaran komentar warganet.
Menanggapi hal ini, Roby Tremonti pun angkat bicara melalui platform media sosialnya. Roby mengunggah kutipan-kutipan bernuansa hukum yang menyinggung soal pencemaran nama baik dan konsekuensi hukum atas pernyataan di ruang publik.
Ia merasa meskipun namanya tidak tertulis secara langsung, reputasinya hancur akibat opini publik yang terbentuk dari isi buku tersebut. Ia bahkan menyebut fenomena ini sebagai upaya cancel culture yang sengaja ditujukan untuk merusak kredibilitasnya.
Sebagai langkah perlindungan diri, Roby terpantau mulai membatasi kolom komentar di akun Instagram-nya. Beberapa unggahan bahkan ditutup sepenuhnya untuk menghindari debat terbuka dengan netizen yang terus melayangkan hujatan berdasarkan isi dari memoar Aurelie.
Dukungan untuk Aurelie sendiri mengalir deras, termasuk dari suaminya, Tyler Bigenho. Para pembaca merasa teredukasi mengenai bahaya grooming yang sering kali tidak disadari oleh korban hingga mereka beranjak dewasa. Banyak korban lain yang juga mulai berani menghubungi Aurelie untuk berbagi cerita serupa setelah membaca keberaniannya.
Munculnya reaksi dari pihak yang merasa menjadi "pelaku" seolah mengonfirmasi adanya ketegangan yang belum usai. Publik kini terus memantau apakah konflik ini akan berlanjut ke ranah hukum atau tetap menjadi diskursus sosial mengenai perlindungan anak dan remaja dari praktik grooming.
Melalui Broken Strings, Aurelie Moeremans tidak hanya menuliskan kisahnya, tetapi juga memberikan suara bagi mereka yang selama ini terjebak dalam kebisuan akibat manipulasi orang dewasa.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS